Gunadarma

Uug

Kamis, 05 Januari 2017

BENARKAH KITA PERCAYA ALLAH SWT?

BENARKAH KITA PERCAYA ALLAH SWT?



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh'

Bila kita di tanya tentang kepercayaan kita kepada Allah SWT pasti kita menjawab dengan “percaya donk..”. 
Selanjutnya, bila ditanyakan apa buktinya kita percaya kepada Allah SWT banyak yang tak bisa menjawab. Kepercayaan dan keyakinan kita akan adanya Allah SWT harus bisa dibuktikan. Untuk membuktikannya, berbagai cara dan jalan telah ditunjukkan. Kita sebagai manusia hanya mengikuti cara dan jalan tersebut.

Anehnya, banyak manusia tak tak mau mengikuti cara dan jalan tersebut. Walaupun mulutnya mengucapkan berjuta-juta kata percaya, tapi bila tak diikuti dengan perbuatan nyata tentu hanya omong kosong belaka. Celakanya, bila hal ini terjadi pada diri kita, kita hanya membohongi diri kita sendiri.

Lalu, bagaimana menunjukkan bahwa diri kita memang percaya kepada akan keberadaan Allah SWT sesuai dengan ucapan kita. Melaksanakan perintah Allah SWT merupakan salah satu cara untuk membuktikan bahwa kita percaya kepada-Nya. Semua perintah Allah SWT pasti baik dan bermanfaat untuk kita. manfaat itu tidak hanya dapat dirasakan di dunia ini saja, tapi juga akan kita rasakan di akhirat kelak. Sholat, puasa, zakat atau sedekah, haji, dan berbagai ajaran agama Islam yang lainnya merupakan perintah Allah yang harus ditunaikan dengan baik.

Bagaimana mungkin kita percaya kepada Allah SWT tapi tak pernah mengerjakan perintah-Nya. Kepercayaan kepada Allah SWT tidak hanya dibuktikan dengan perkataan semata, tapi harus dibuktinya dengan tindakan nyata yang memenuhi persyaratan dan ketentuan dari-Nya.
Banyak manusia yang sudah tak peduli dengan Allah SWT. Mereka tak menghiraukan adanya hari Akhir sebagai hari perhitungan. Kehidupan dunia telah membius mereka sehingga lupa dengan Sang Pencipta. Amal ibadah yang dianjurkan oleh Allah SWT dianggap hanya buang-buang waktu, harta, dan kedudukan yang dimiliki. Hasil kerjanya hanya dinikmati oleh dirinya sendiri, tanpa menghiraukan orang yang membutuhkan pertolongan kita.

Allah SWT telah memberi peringatan kepada manusia untuk tunduk dan patuh kepada-Nya. Dengan segala kesombongan dan keangkuhannya, manusia abai dengan segala perintah-Nya. Perintah Allah SWT hanya dianggap penghalang bagi kemajuan umat manusia.

Cara lainnya adalah dengan menghindarkan diri dari larangan Allah SWT. Larangan Allah SWT sangatlah banyak. Larangan itu berfungsi sebagai rambu-rambu agar manusia terhindar dari pengingkaran kepada Allah SWT. Dengan adanya larangan itu, manusia tidak terjerumus ke jurang kenistaan. Apa yang telah di larang oleh Allah tentu sangat baik bagi manusia. tepi, manusia banyak yang memandang bahwa larangan Allah SWT itu hanya membatasi keutuhan manusia. Dengan mengerjakan larangan itu banyak manusia yang beranggapan bahwa itu baik untuk dirinya. Padahal, semua itu merupakan fatamorgana yang hanya menipu dan merugikan manusia itu sendiri.
Kita semua sudah tahu apa saja larangan Allah SWT itu. Karena itu, sudah sepantasnya bagi manusia yang percaya kepada Allah SWT untuk menghindarinya. Keyakinan kita kepada Allah SWT harus dibarengi dengan ketundukkan kita untuk menghindari apa-apa yang dilarangnya.
Kita yakin kepada-Nya tapi kita enggan untuk tunduk dan patuh kepada perintah dan larangan-Nya. Setiap hari kita selalu berkubang dengan dosa dan kemaksiatan. Tak pernah terbesit dalam hati kita untuk memperhatikan bahwa di balik perintah dan larangan itu ada efek positive bagi diri dan lingkungan kita. Semua seakan berlangsung dan berlaku atas kehendak kita. tak ada kuasa lainnya yang membuatnya seperti itu. Keyakinan ini hendaknya menjadi bahan pelajaran bagi kita bahwa hidup dan kehidupan kita ada yang mengendalikannya. Kebaikan dan keburukan yang tampak di depan mata kita sesungguhnya pelajaran akan adanya Allah subhanahu wata'ala .

Dengan hidup yang selalu mengerjakan larangan dan meninggalkan apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT, masih kita berucap bahwa kita percaya kepada-Nya ?

Hanya dengan kesadaran bahwa kita adalah makhluk ciptaan-Nya, keyakinan dan kepercayaan akan tumbuh dalam diri kita. 

Menjadi manusia memang mudah, tetapi menjadi manusia yang benar-benar percaya kepada-Nya sangatlah susah. Namun demikian, hal itu bukanlah tak mungkin. 
Semuanya tergantung kepada diri kita masing-masing,mau Percaya atau Tidak.

Wassalam



From : http://carlamarlita.blogspot.co.id/2009/12/benarkah-kita-percaya-allah-swt.html

MANA YANG LEBIH PENTING, PROSES ATAU HASIL?

MANA YANG LEBIH PENTING, PROSES ATAU HASIL?


Saat lo gagal, orang-orang menghibur lo dengan bilang “Udahlah, gak apa-apa, yang penting itu proses, bukan hasil.”
Kalau lo gagal sekali, mungkin lo masih bisa nerima saran kayak gitu, tapi kalau udah berkali-kali coba dan gak ada hasilnya, bukannya capek juga?
“Kalau gue berproses terus dan gak ada hasil, buat apa juga, bro?”
Sekarang bingung kan jadinya, lebih penting proses apa hasil, sih?
Sebenarnya, jawabannya bakal lo temuin kalau lo coba identifikasi apa sih yang dimaksud “proses” dan “hasil” itu?
Hasil itu, simply, adalah cita-cita atau mimpi atau tujuan yang lo mau raih (semuanya pada tahu lah ya).  Gue sendiri lebih suka menyebut hasil dengan istilah yang lebih keren, yaitu state of being. Apa sih state of being?
State of being adalah suatu keadaan atau situasi di mana lo “telah menjadi” sesuatu, misalnya cita-cita lo adalah jadi entrepreneur yang punya perusahaan dengan profit paling kecil 4 milyar setahun. Maka, ini adalah state of being yang lo cita-citakan: menjadi entrepreneur yang menghasilkan untung 4 milyar setahun. Ini adalah hasil yang lo harap-harapkan dari usaha lo.
Sementara itu, ada yang namanya proses. Proses, bagi orang umumnya, diartikan sebagai jalan menuju ke hasil atau cita-cita yang diharapkan. Gue lebih suka menyebut proses sebagai state of becoming, yaitu keadaan di mana seseorang terus-menerus berusaha “becoming something” atau terus-menerus “berusaha menjadi” sesuatu.
Mungkin sekarang lo jadi bingung. Apa bedanya dong state of being dan state of becoming, kalau dua-duanya sama-sama “menjadi”?
Coba lihat lagi penjelasan tentang state of being dan state of becoming. State of being atau hasil adalah keadaan di mana lo “telah” menjadi sesuatu, sementara state of becoming atau proses adalah keadaan di mana lo terus-menerus “berusaha” menjadi sesuatu.
State of being atau hasil berfokus kepada target pencapaian, sementara state of becoming atau proses berfokus kepada usaha. State of being itu sifatnya statis, sementara state of becoming sifatnya dinamis. Saat lo berfokus semata-mata pada state of being, maka lo kemungkinan akan frustrasi saat tujuan lo gak tercapai (agh! profit gue kok stuck di 1 milyar terus, sih?) atau justru berhenti di saat tujuan lo sudah tercapai. Misalnya, saat lo sudah menjadi pengusaha dengan keuntungan 4 milyar setahun, perusahaan lo malahan jadi stagnan.
Di sisi lain, saat lo fokus akan state of becoming, atau proses, maka lo akan berusaha terus-menerus memenuhi identitas lo sebagai entrepreneur. Mau gak untung 4 milyar kek, mau rugi atau bangkrut kek, yang penting bagi lo adalah melakukan sesuatu yang bikin diri lo merasa sebagai seorang entrepreneur. Kalau lo fokus akan state of becoming, maka saat lo sudah mencapai target lo pun, lo tidak akan berhenti sampai di situ.
Sekarang lo ngerti kenapa orang bilang proses lebih penting daripada hasil? Alasannya karena, gak seperti hasil, proses tidak memenjarakan lo dalam suatu situasi ideal. Walaupun hasil penting, tapi proses lebih penting, karena kalau proses menjadi titik berat semua usaha lo, maka lo tetap akan berusaha apapun yang terjadi.
Dan kadang, tanpa disangka, proses yang lo jalani akan membawa lo ke hasil yang lebih baik, yang gak pernah lo bayangkan sebelumnya. Misalnya, lo selama ini bermimpi untuk punya usaha kuliner. Setelah gagal terus usaha kuliner, lo dihadapkan akan suatu opportunity untuk berbisnis di bidang e-commerce, dan ternyata berhasil.
“State of becoming”-nya para tuna netra ini, bakal lebih panjang prosesnya, ya
(image: changeprocessdesign.wordpress.com)
Banyak banget kasus di mana orang-orang yang berfokus pada proses atau state of becomingmendapatkan hasil yang jauh lebih baik daripada yang mereka aim, atau setidaknya mereka jadi mengeksplor skill yang mereka gak pernah punya sebelumnya.
Jadi, next time lo gagal dan ada yang bilang sama lo ‘Udahlah, gak apa-apa, yang penting itu proses, bukan hasil’, dengerin orang itu, karena yang paling penting adalah state of becoming, bukan state of being.


from ; http://www.ziliun.com/mana-yang-lebih-penting-proses-atau-hasil/

Menggapai Cita ataukah Cinta?

                                                         Menggapai Cita ataukah Cinta?

Oleh : Agsal (https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=447432078735538&id=447395855405827)

Manusia tidak akan lepas dari pilihan. memilih apa yang terbaik untuk dirinya. manusia selalu menginginkan yang terbaik untuk kehidupan dan masa depannya. lalu ketika kita harus memilih manakah yang lebih penting antara cita dan cinta? mana dari dua hal tersebut yang harus di raih terlebih dahulu? Cinta ..??? Ataukah Cita…???
Cita- cita sangat penting dimiliki oleh semua orang sebagai guiden atau panduan kita dalam melangkah. Dengan cita-cita yang ada kita dapat menjadi lebih bersemangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. cita-cita dalam diri kita akan membuat kita menjadi semangat dalam menjalani setiap aktivitas yang kita jalankan.. terutama dalam menggapai sesuatu yang kita cita-citakan, begitu juga dengan Cinta.
“Cinta” semua orang memiliki dan mengenal cinta walau tidak semua orang memiliki pengalaman percintaan yang sama. namun setuju atau tidak, cinta menurut saya sama pentingnya dengan cita. tanpa cinta kehidupan yang anda jalani tidak akan bermakna. tidak akan berwarna. sekaya atau sesukses apapun anda kalau anda “miskin cinta” percuma saja. cinta dapat diartikan secara personal dan universal. dimana cinta yang personal merupakan cinta yang secara spesifik anda miliki dan anda curahkan kepada satu orang. contohnya cinta anda kepada pasangan atau kekasih anda. lalu cinta secara universal dapat diartikan sebagai cinta kepada makhluk Tuhan lainnya dimuka bumi ini.
Cinta merupakan pengalaman yang sangat menarik yang pernah kita alami dalam hidup ini. Sangat disesali, orang pada umumnya masih bingung akan apakah cinta itu sesungguhnya. Kebingungan mereka semakin bertambah ketika dunia perfileman memperkenalkan arti cinta yang salah dimana penekanan akan cinta selalu dititik beratkan pada perasaan dan cerita romantika.
Dari jaman dulu sampai sekarang hakikat cinta kasih masih menjadi perbincangan yang tidak dibatasi secara jelas dengan makna yang luas pula. Walaupun, sulit juga untuk diungkapkan dan diingkari bahwa cinta adalah salah satu kebutuhan hidup manusia yang cukup fundamental. Begitu fundamentalnya sampai-sampai membawa Khalil Gibran, seorang punjagga terkenal, berpendapat bahwa “Cinta hanyalah sebuah kemisterian”. Cinta sangat erat dalam kehidupan dan tidak bisa di pisahkan dalam kehidupan. Tidak pernah selintas pun orang berpikir bahwa cinta itu tidak penting. Mereka haus akan cinta, mereka butuh akan cinta.
Kendati pun demikian, hampir setiap orang tidak pernah berpikir tentang apa dan bagaimana cinta itu. Padahal berpikir tentang apa dan bagaimana cinta itu, cinta bisa diibaratkan sebagai suatu seni yang sebagaimana bentuk seni lainnya sangat memerlukan pengetahuan dan latihan untuk bisa menggapainya.
Namun dalam hal ini saya memaparkan apa yang lebih penting didahulukan bagi usia anak muda yang masih dalam masa pencarian jati diri dan bagaimana kita membagi waktu antara menggapai cinta dan cita-cita….
Dalam kehidupan sehari hari orang selalu dihadapkan pada beberapa pilihan yang mau tidak mau harus ia pilih. Terkadang pilihan yang ditawarkan atau dihadapi itu tak selalu ideal dan sesuai dengan yang kita harapkan. Maka dari itu diperlukan sebuah kecerdasan dan seni untuk memilah dan memilih agar tidak salah pilih yang berujung pada sebuah penyesalan kelak di kemudian hari.
Demikian pula yang dialami dan dihadapi oleh makhluk bernama mahasiswa, dalam perjalanan kuliahnya menuju terminal bernama sarjana, ia selalu dihadapkan pada beberapa pilihan seperti antara studi dulu sampai selesai atau ‘nyambi’ menikah atau bekerja. Apapun pilihan kita tentunya ada resiko dan mungkin sedikit ‘tumbal’ yang harus dibayar. Kuliah sambil menikah bias jadi kuliahnya tidak selesai-selesai atau malah terputus di tengah jalan. Kuliah sambil bekerja dapat mengakibatkan prestasi tidak maksimal. Sebaliknya dengan kuliah saja diharapkan prestasi bisa lebih maksimal dan cepat selesai.
Jika diantara kita ada yang dihadapkan persoalan seperti ini, barang kali tulisan berikut dapat dijadikan untuk berbagi pengalaman dalam menentukan sikap. Tulisan ini lebih banyak didasarkan pada pengalaman penulis sendiri ketika kuliah dulu ditambah dengan berbagai literature yang relevan.
Semua dibutuhkan !
Kuliah, nikah serta kerja adalah sebuah kebutuhan dari semua mahasiswa. Ketiga-tiga cepat atau lambat (sooner or later) pasti akan dilalui dan dilewati oleh setiap mahasiswa. Maka dari itu kita harus mempersiapkan ketiga-tiganya dengan sebaik-baiknya agar kesemuanya dapat diraih dengan sukses tanpa harus mengorbankan atau ada yang dikorbankan salah satunya ( prinsip la dharar wa la dhirar ). Jadi ketiga soal itu bukanlah makhluk yang saling mengancam satu sama lain dan tidak usah diposisikan saling mengancam.[1]
Buat Prioritas !
Karena ketiganya sama-sama dibutuhkan dan bukanlah musuh yang saling mengancam, maka yang dibutuhkan adalah mengelola masing-masing dengan sebaik-baiknya serta membuat skala prioritas mana yang lebih penting dan mendesak serta lebih mendatangkan kemaslahatan hidup kita bersama di masa sekarang dan yang akan datang. Prinsip yang perlu dipegang di sini adalah “taqdimul aham minal muhimm” yakni mendahulukan yang lebih penting dari yang penting![2]
Kuliah lebih dahulu !
Yang namanya mahasiswa tentunya ia masih disebut mahasiswa jikalau ia masih belajar atau kuliah di bangku PT. Jadi aktifitas kuliah bagi seorang mahasiswa hukumnya ‘wajib mughalladzah’ yang tidak boleh disepelekan apalagi ditinggalkan demi untuk menikah atau bekerja umpamanya. Dari sini jelas sudah bahwa kuliah bagi seorang mahasiswa adalah tugas utama dan pertama sampai ia berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan.
Ingatlah tujuan dan harapan orang tua mengirim antum ke PT adalah untuk menuntut ilmu serta mempersiapkan masa depan yang lebih baik, bukan untuk bekerja atau menikah. Soal-soal yang lain bisa ditaruh nomer sekian. Dalam hal ini layak anda camkan sebuah nasehat yang cukup bijak, “ Maju selangkah dalam urusan cinta adalah 10 kemunduran dalam urusan Ibadah dan belajar, demi cita-cita hindarilah cinta, namun demi cinta kejarlah cita-cita”.[3]
Lalu Bekerja !
Setelah tugas menuntut ilmu dapat selesai dengan hasil memuaskan, kita dapat menempuh langkah selanjutnya yakni mencari pekerjaan, karena lazimnya pekerjaan di negeri ini tidak mencari orang, jadi oranglah yang perlu mencari pekerjaan. Kalau dapat tentunya mendapatkan pekerjaan yang halal dan thayyib, terhormat dan mendatangkan banyak hasil.
Di zaman sekarang ini, mencari pekerjaan (termasuk menjadi PNS) bukanlah pekerjaan yang mudah untuk kebanyakan orang. Tanpa skill yang memadai, ilmu yang cukup, serta relasi dan koneksi yang luas, ditambah faktor-faktor lain yang juga menentukan, rasa-rasanya sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan cukup menjanjikan. Sarjana yang diproduksi oleh berbagai PT dari tahun ke tahun selalu menyisakan ‘sisa’ tenaga terdidik yang belum atau tidak terserap di lapangan kerja.[4]
Baru Menikah !
Jika ilmu sudah diraih, title sudah disandang, pekerjaan sudah dalam genggaman umur sudah dewasa, apa lagi yang kau cari dan kau tunggu kalau bukan pasangan hidup?. Kini tibalah saatnya anda untuk menikah. Saya berani menggaransi kalau anda sudah punya ilmu yang tinggi, harta (pekerjaan) yang cukup, apalagi didukung oleh penampilan yang oke serta agama dan akhlak yang bagus, anda tidak perlu repot-repot mencari jodoh, bahkan andalah yang akan dicari dan diincar untuk dijadikan pendamping hidup atau dijadikan menantu oleh orang-orang di sekeliling anda.
Itulah yang ideal!!!
Jadi tugas anda yang lebih perlu dan mendesak anda selesaikan saat ini adalah menyelesaikan kuliah sampai lulus dengan cumlaude, disambung dengan mendapatkan pekerjaan yang halal dan terhormat, baru anda menikah. Jadi menikah (terutama bagi laki-laki) sebaiknya ditempatkan pada bagian akhir.[5]
Jika Kondisi Memaksa lain
Sungguhpun setiap orang punya idealisme masing-masing, namun hidup tidak selalu menuntun dan mengajak orang dalam dunia idealitas yang kita harapkan. Terkadang kita terpaksa atau bahkan dipaksa untuk memasuki ‘dunia lain’ yang jauh dari idealisme. Taruhlah kita sedang kuliah namun di tengah jalan kita juga dipaksa untuk bekerja karena satu dan lain hal.[6] Atau kita terpaksa harus kawin terlebih dahulu karena sudah ‘kebelet’ yang dikhawatirkan akan mengarah dan menggiring ke pergaulan bebas atau karena suatu ‘kecelakaan’ – na’udzu billah min dzalik-[7] . Bagaimana kita menghadapinya?
Butuh kecerdasan dan seni !!!
Kuliah sambil Bekerja
Kuliah sambil kerja jelas banyak keuntungannya terutama dari segi finansialnya. Anda bisa meringankan beban orang tua atau bahkan dapat membantu adik atau keluarga. Anda juga dapat pengalaman tambahan di luar kampus yang cukup berguna kelak sebelum masuk dunia kerja yang sesungguhnya. Jadi kuliah sambil kerja bagus-bagus saja.
Di beberapa negeri barat, pada usia kuliah umumnya anak-anak sesusia mahasiswa sudah dilepaskan orang tuanya untuk mandiri dalam mengahadapi hidup termasuk dalam membiayai kuliahnya. Sedang di Indonesia pada umumnya anak sekolah dibiayai seratus persen sampai usia SLTA dan bahkan terkadang sampai perguruan tinggi. Sehingga boleh dibilang tingkat kemandirian pemuda Indonesia kurang dalam hal ekonomi dibanding para pemuda di negeri barat.[8]
Persoalannya adalah jangan sampai kerja mengorbankan kuliah, karena sebagai mahasiswa tugas utama anda adalah kuliah dan belajar!. Bekerja tetap urusan kedua atau sekunder. Jangan sampai karena asyik dengan pekerjaannya berikut fasilitas yang anda raih, menjadikan kuliah sebagai ‘sambilan’ yang akibatnya prestasi anda hanya sekedar ‘lulus’ apalagi lulus-lulusan belaka.[9]
Kuliah sambil Nikah plus kerja
Bagi yang kuliah sekaligus telah menikah, maka mau tak mau ia pasti juga dituntut untuk bekerja. Rasa-rasanya cukup memalukan kalau sampai sudah menikah 100 % biaya hidup dan penghidupan ‘nyadong’ orang tua atau mertua. Jelas dengan menikah beban anda semakin bertambah dan berat apalagi jika sudah punya momongan. Anda harus membiayai kuliah diri anda sendiri ditambah kebutuhan keluarga atau rumah tangga.
Kuliah sambil nikah banyak keuntungan yang didapat seperti mendapatkan ketenangan jiwa, ada penyaluran syahwat yang halal, suka dan duka ada yang menemani, kedewasaan lebih mudah terbentuk dll. Namun demikian beberapa ‘kerugian’ atau katakanlah resiko juga dapat membayangi anda seperti beban hidup makin bertambah, urusan hidup semakin kompleks, tanggung jawab semakin berat yang kalau tidak disadari dan dipersiapkan dari awal akan membuat yang bersangkutan mengambil jalan pintas semisal bercerai atau lari dari tanggungjawab. Atau bisa juga kuliah menjadi gagal atau berhenti di tengah jalan, atau sungguhpun bisa selesai terkadang memakan waktu lebih lama dan terkadang hasilnya jauh dari memuaskan.[10]
Memang tidak dipungkiri, ada yang berhasil menyelesaikan studi dengan baik walau sambil menikah dan bekerja. Tetapi yang bisa seperti ini menurut hemat penulis membutuhkan kecerdasan emosi maupun spiritual yang tinggi, kedewasaan yang matang serta ketrampilan dan seni yang tinggi dalam mengatur dan membereskan segala persoalan yang timbul. Dengan bahasa lain yang dapat mengatur dan mengelola persoalan yang timbul akibat kuliah sambil nikah dan kerja adalah pribadi-pribadi yang memiliki kecerdasan cukup tinggi baik kecerdasan intelektual, emosional maupun spiritual.[11]
Jadi bagi yang ingin kuliah sambil nikah (dan tentunya bekerja) dari awal harus sudah sadar sesadar-sadarnya akan resiko, konsekuensi dan akibat selanjutnya dari pilihannya itu. Agar jangan sampai terjadi seseorang lari dari kenyataan dan tanggung jawab akibat ia kurang siap dengan resiko yang harus ia tanggung pasca menikah.[12] Jangan sampai pernikahan yang semestinya mendatangkan maslahat di masing-masing pihak dan keluarga, berubah menjadi ajang penelantaran isteri dan anak karena belum/tidak sanggup menyediakan nafkah, atau menjadi ajang kekecewaan orang tua dan keluarga karena menambah beban mereka, atau jangan sampai menggagalkan tujuan anda semula yakni meraih ilmu yang setinggi-tingginya.
Kesimpulan
Kuliah, kerja dan nikah (KKN) adalah sebuah mata rantai kehidupan yang setiap mahasiswa akan melalui dan melewatinya, jadi harus dipersiapkan ketiga-tiganya dengan sebaik-baiknya. Cuma dalam hal ini perlu pengaturan serta penentuan prioritas mana yang lebih dahulu harus ‘digarap’ dan diselesaikan terlebih dahulu.
Berdasarkan kaidah taqdimul aham minal muhimm, maka menurut hemat penulis, yang perlu diutamakan dan didahulukan secara berurutan adalah kuliah sampai selesai dengan prestasi yang tinggi, lalu bekerja dan terakhir baru menikah. Ingat ! Siapa yang mampu menyelesaikan yang sulit, yang kurang sulit tentu akan mudah diselesaikan. Sebaliknya, siapa yang terbiasa menggarap hal-hal yang mudah saja, maka ketika menghadapi yang sulit ia bisa kelabakan.
Jika keadaan berkata lain maka pada dasarnya kuliah sambil kerja maupun kuliah sambil nikah dan kerja mungkin dan dapat saja dijalankan bersama-sama walau untuk itu dibutuhkan seni dan skill untuk mengelola dan mengatur sebaik-baiknya. Jika kemampuan anda dalam mengatur dan mengelola ini kurang, sebaiknya anda kuliah saja tanpa harus nyambi kerja atau nikah.

Daftar Bacaan
Abdurrahman al-Jazairi, Al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah, Istanbul: Dar ad-Da’wah, 1984, Jilid IV.
Azyumardi Azra, Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, Cet I, 1998.
Siti Rahayu Haditomo, Psikologi Perkembangan; Pengantar dalam Berbagai bagiannya, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, Cet, XII, 1999.
Husein Muhamad, Fiqh Perempuan; Refleksi Kyai atas Wacana Agama dan Gender, Yogyakarta: LkiS, Cet. I, 2001.
Ibrahim Hosen, Fiqh Perbandingan Masalah Pernikahan, Bandung: Pustaka Firdaus, Cet. I, 2003.
Mohamad Fauzil Adhim, Indahnya Pernikahan Dini, Jakarta: Gema Insani Press, Cet. I, 2002.
Muslih Usa dan Aden Wijdan, Pendidikan Islam dalam Peradaban Industrial, Yoigyakarta: Aditya Media, Cet. I, 1997.
Sarlito Wirawan, Bengkel Keluarga, Jakarta: Bulan Bintang, Cet.I, 1980.

Apakah Tujuan Hidup Kita Sebenarnya?

Apakah Tujuan Hidup Kita Sebenarnya?



Pernah anda terfikir, mengapa manusia wujud di dunia ini?
Untuk apa?
Apa tujuan  hidup manusia di dunia ini?
Ke mana kita akan pergi dan ke mana akhirnya kehidupan ini?
Sebahagian orang ada yang memilih untuk tidak mahu pening-pening memikirkan pertanyaan di atas kerana  menganggap tiada kaitannya dengan kehidupan yang nyata.
Hidup tanpa tujuan akan membuat hidup kita terasa hampa. Tanpa mengenal tujuan hidup, kehidupan ini menjadi sesuatu yang rutin dan membosankan.
Manusia umumnya takut dengan sesuatu yang tidak diketahuinya..
Misalnya yang paling sederhana, manusia biasanya takut atau sekurang-kurngnya tidak selesa berada di tempat gelap.
Mengapa?
Kerana di tempat gelap kita tidak dapat menguasai situasi. Kita tidak tahu ada apa di sekitar kita. Apakah ada sesuatu yang membahayakan kita atau tidak.
Sehingga di tempat gelap kita selalu diliputi perasaan was-was, ragu-ragu dan khuatir.
Oleh kerana itu kebanyakan orang tidak mahu  memasuki ruangan yang gelap.
Demikian juga orang yang tidak tahu tujuan hidupnya selalu diliputi keraguan.
Kerana mereka tidak tahu ke mana akhirnya kehidupan ini. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi setelah mati.
Orang seperti ini ibarat disuruh memasuki ruangan yang gelap, dia dibayangi ketakutan akan sesuatu yang tidak diketahuinya mengenai kematian. 
Dia akan berusaha memuaskan hidupnya di dunia seolah-olah dia akan kekal di dalamnya.
Padahal dia tahu bahawa setiap orang pasti akan mati, hanya dia sengaja tidak mahu memikirkannya  ketidaktahuannya itu.
Ada pula orang yang merasa memiliki tujuan hidup namun tujuan yang dipilihnya adalah salah..
Orang yang salah dalam menentukan tujuan hidup akan merasa tidak tenang.
Mengapa tidak tenang?
Kerana umumnya orang yang tidak mengetahui hakikat tujuan hidup yang sebenarnya, dia cenderung untuk menggantungkan tujuan hidup ini dengan sesuatu yang bersifat duniawi.
Padahal sesuatu yang bersifat duniawi adalah tidak kekal.
Sehingga suatu masa apabila harta yang menjadi tujuannya tersebut gagal tercapai atau hilang musnah, maka dia akan stress dan kekecewaan sehingga diakhiri dengan bunuh diri.
Allah berfirman di dalam Al-Quran bahawa tujuan manusia dihidupkan di muka bumi ini tidak lain adalah untuk beribadah kepadaNya.
“Aku tidak menjadikan Jin dan Manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu” (Q.S. 51:56)
Kewajipan kedua, seorang hamba ialah harus memandang tuannya sebagai yang berhak mengatur dan memerintah dirinya.
Sebagai kesannya dia harus patuh kepada semua perintah Tuannya.
Tentu tidak dibenarkan apabila seorang hamba mematuhi sebahagian perintah tuannya tetapi membangkang terhadap sebahagian perintah lain.
Untuk dapat melaksanakan perintah tuannya tersebut, seorang hamba harus mempelajari dengan teliti apa yang dikehendaki dan dimahukan oleh tuannya.
Kewajipan ketiga seorang hamba adalah menghormati dan menghargai tuannya.
Hamba harus mengikuti tatacara yang ditentukan tuannya dan harus  memberikan sikap hormat dan menyatakan sumpah setia pada saat-saat tertentu.
Inilah yang diperintahkan Allah melalui upacara ritual yang bernama solat.
Dimana dalam solat tersebut kita diminta untuk mengucapkan sumpah setia lima kali dalam sehari.
Dalam solat tersebut kita juga diminta membaca  sebahagian surah Al-Qur’an supaya kita mengingati perintah-perintah Allah
Penutup
Kita sebagai wakil Allah yang mulia dimuka bumi, maka fasiliti yang diberikan untuk menyokong pelaksanaan tugas sehingga dapat dimanfaatkan oleh manusia.
Allah juga memberi bekal rezeki yang cukup kepada manusia.
“Dan sungguh telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan lautan, Kami beri mereka rezki yang baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna di atas makhluk lain yang telah kami ciptakan” 
(Q.S. Al Israa’ : 70)


From : (http://akuislam.com/blog/renungan/tujuan-hidup/)

Inilah 7 Perilaku Unik Pengguna Media Sosial yang Hanya Ada di Indonesia

Inilah 7 Perilaku Unik Pengguna Media Sosial yang Hanya Ada di Indonesia

Setiap negara memang memiliki keunikan tersendiri dibanding negara lain dalam banyak hal. Dari tradisi, budaya, adat-istiadat hingga gaya hidup yang dijalankan. Seiring dengan perkembangan teknologi dan pertumbuhan media sosial, kini juga muncul sebuah beberapa sebuah kebiasaan unik dari para penggunanya dibeberapa negara.
Sebagai salah satu negara dengan basis pengguna media sosial terbesar di dunia, Indonesia juga ternyata meninggalkan jejak dalam hal perilaku atau kebiasaan unik pemakaian jejaring sosial ini. Lalu seperti apakah kebiasaan dan perilaku unik yang ada para pengguna media sosial di Indonesia ini? Berikut ulasannya 

1.    Ngobrol, Flirting di Timeline
Kebiasaan dan perilaku pertama Orang Indonesia adalah ngobrol dan flirting di timeline. Bangsa Indonesia yang terkenal dengan budaya menyapa ternyata juga terbawa di dunia maya, terutama di Twitter. Dengan melakukan mention, para pengguna Twitter ini yang mencoba memulai obrolan dengan mengajak orang yang di mention untuk membahas sebuah topik tertentu.Dari pembicaraan soal makan siang hingga urusan politik dan negara bisa mereka bahas dengan sangat intens. Para pengguna Twitter di Indonesia ini juga tak jarang yang melakukan kebiasaan flirting atau menggoda pengguna yang lain. Dalam hal ini mereka akan mencoba mengajak ketemuan atau hal-hal yang sifatnya sangat personal yang tidak ada hubungannya dengan informasi publik.

2.  Membuka Toko Online di Instagram
Media sosial Instagram sejatinya bukanlah platform atau sarana untuk berjualan online. Tapi di Indonesia hal ini bisa saja terjadi. Ya, jejaring sosial berbasis gambar ciptaan Kevin Systrom ini oleh orang Indonesia memang telah banyak dijadikan tempat atau sarana mencari uang dengan menciptakan toko online. Memang sampai sekarang dari pihak Instagram sendiri tidak melarang aktivitas yang hanya terjadi di Indonesia itu. Uniknya ternyata toko online yang mereka buat di Instagram ini banyak yang mennemui kesuksesan. Beberapa toko online personal yang sukses itu diantaranya adalah SaroengMaumere, Kamengski dan masih banyak lagi.

3.  Nge-like Semua Page Di Facebook
Diantara semua negara pengguna Facebook, hanya Indonesia yang memiliki grafik pertumbuhan tombol “like” yang paling cepat. Entah karena hanya latah, ikut-ikutan, atau memang benar-benar menyukai sebuah tema di Page, namun inilah kenyataannya, Facebooker Indonesia sangat mudah sekali mengklik like di Facebook. Fenomena perilaku unik para Facebooker di Indonesia ini akhirnya banyak dimanfaatkan oleh banyak brand untuk bisa meningkatkan “like” pada halaman Facebooknya. Apalagi dengan iming-iming hadiah, Facebooker Indonesia sangat mudah terpancing untuk melakukan aktivitas itu.





4.  Memasang Foto-foto Anak
Jika Anda tahu bahwa memajang foto anak dari bayi hingga balita sebenarnya melanggar privasi anak. Tapi entah kenapa pengguna media sosial di Indonesia, terutama para orangtua sangat gemar memposting gambar anak-anaknya di jejaring online tersebut. Padalah jika Anda sadari perilaku dan kegiatan ini sangat berbahaya sekali karena foto tersebut akan menjadi sasaran para pedofilia yang terus berkeliaran di dunia online. Untuk mengatasi hal ini, sebenarnya di media sosial Facebook sudah ada fitur untuk memproteksi siapa saja yang boleh melihat postingan, namun kadang para Facebooker agak tidak mempedulikannya.

5.  Kultweet
Selain mengobrol dan menggoda, orang Indonesia juga acapkali menggunakan Twitter untuk berbagi pengetahuan (kultweet) kepada para followers-nya. Orang Indonesia memang suka berbagi pengetahuan. Entah apapaun bidang yang dikuasasinya, meraka dengan keilmuan dan pengalaman yang dimilikinya dengan suka rela berbagi pengetahuannya di timeline. Biasanya kegiataan kultweet ini ditandai dengan adanya penggunaan nomor yang berurutan. Tak jarang nomor dalam perilaku kultweet ini bisa mencapai ratusan nomor. Dan uniknya lagi ternyata para follower ini dengan setia dan sangat antusias mengikuti kultweet yang ada.

6.  Twitwar
Obrolan dan pembahasan yang ada dan sedang berlangsung di Twitter tak jarang juga yang berujung perdebatan, pertentangan dan perseteruan (twitwar). Di Indonesia, perilaku ini sudah bukanlah hal yang luar biasa. Bahkan twitwar di Indonesia yang panas di timeline tak jarang juga akan memunculkan perkelahian, adu fisik, duel secara offline. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu antara dua kubu yang berbeda pendapat.

7.  Minta Ijin Follow
Terakhir kebiasaan dan perilaku unik pengguna media sosial di Indonesia adalah meminta ijin follow. Setiap follower ini memang bisa memfollow, mengunfollow, memblock siapapun yang mau. Tapi beberapa tweeple di Indonesia ini sangat ramah, mereka meminta ijin dulu ketika akan memfollow seseorang. Namun sebaliknya jarang sekali yang meminta ijin untuk unfolllow. Unfollow kadang dianggap tidak mau berteman.



Dari agan haqqits di kaskus.


(https://www.kaskus.co.id/thread/586c2a52d89b0919518b4570/inilah-7-perilaku-unik-pengguna-media-sosial-yang-hanya-ada-di-indonesia)