MAKALAH
KONFLIK ANTAR
PELAJAR
Penyusun :
Nama : Hisyam Sukri
Ariefian
NPM : 17315830
Fakultas : Teknik Sipil dan Perencanaan
Jurusan : Teknik Sipil
Dosen : Emilianshah Banowo
JURUSAN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015
PRAKATA
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah dan inayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis
yang berjudul“ KONFLIK ANTAR PELAJAR”
Sekiranya
bahwa selesainya karya tulis ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai
pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasi kepada:
- BapakEmilianshah Banowo;
Selaku
Dosen pengajar Ilmu Sosial Dasar.
Makalah
ini ditulis berdasarkan konflik terhadap pelajar di Indonesia. Upaya telah
dilakukan penulis untuk mendapatkan hasil terbaik dalam makalah ini. Penulis
menyadari bahwa karya tulis ini tak lepas dari kesalahan dan kekurangan
dikarenakan kemampuan penulis yang terbatas. Oleh karena itu penulis mengharap
kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca guna kesempurnaan karya
tulis ini. Penulis berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat serta
menambah pengetahuan bagi pembaca.
Depok,28 Desember 2015
Hisyam Sukri Ariefian
DAFTAR ISI
Kata Pengantar.......................................................................................................... i
Daftar
Isi ...................................................................................................................ii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................1
1.3
Tujuan Penulisan ..................................................................................................2
1.4
Metode Penulisan .................................................................................................2
1.5
Sistematika Penulisan Masalah ............................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Tawuran ..............................................................................................3
2.2 Faktor- faktor yang menyebabkan tawuran pelajar ..............................................3
2.3 Hal yang menjadi pemicu tawuran .......................................................................4
2.4 Dampak karena
tawuran pelajar ...........................................................................5
2.5 Hal-hal yang dapat dilakukan
untuk mengatasi tawuran pelajar.............................................5
2.6 Penjelasan Materi
Makalah dengan menggunakan Analisis Swot............................................6
BAB III
3.1 Kesimpulan................................................................................................
7
3.2 Daftar pustaka ............................................................................................8
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Tawuran antar pelajar atau mahasiswa,
sepertinya sudah menjadi kegiatan rutin para pelajar atau mahasiswa di
Indonesia. Tawuran layaknya penyaluran identitas diri akan kemampuan dan
kebanggannya terhadap diri sendiri, kelompok, atau almamater. Mereka tidak
memikirkan buruknya berkelahi atau tawuran. Mereka hanya memikirkan kepentingan
sesaat “Inilah Aku”.
Tawuran pelajar bukan hal yang bisa dianggap enteng,tawuran
pelajar sekarang tidak hanya terjadi di kota-kota besar saja melainkan juga
menjalar ke daerah-daerah.Permasalahan remeh dapat menyulut pertengkaran
individual yang berlanjut menjadi perkelahian massal dan tak jarang melibatkan
penggunaan senjata tajam,senjata api, bahkan akhir-akhir ini banyak pelajar
menggunakan bahan kimia seperti air keras sebagai senjatanya.
Dewasa ini,kekerasan sudah dianggap sebagai
pemecah masalah yang sangat efektif yang dilakuka oleh para remaja.Hal ini
seolah menjadi bukti nyata bahwa seorang yang terpelajar pun leluasa melakukan
hal-hal yang bersifat anarkisme dan premanisme.Tentu saja perilaku buruk ini
tidak hanya merugikan orang yang terlibat dalam perkelahian itu sendiri tetapi
juga merugikan orang lain yang tidak terlibat secara langsung.
1.2. Rumusan
Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut
diatas ditemukan masalah pokok yang akan
dibahas diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Apa
itu tawuran ?
2.
Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya tawuran?
3. Hal
pemicu apa yang menjadikan tawuran?
4.
Dampak apa yang terjadi akibat tawuran?
5.
Bagaimana solusi untuk menghindari tawuran ini ?
1.3. Tujuan
penulisan
Adapun tujuan yang ingin di capai
dari penulisan karya ilmiah ini adalah untuk menjawab rumusan masalah diatas,
yakni:
1. Menjelaskan apa itu Tawuran;
2. Mengetahui latar belakang yang
menyebabkan adanya Konflik Antar Pelajar;
3. Menjelaskan dampak Tawuran;
4.Menjelaskan cara mengatasi dampak Tawuran.
1.4. Metode
Penulisan
Penulisan dilakukan
dengan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dengan bahasan sumber tulisan; Pengkritikan terhadap
kebenaran sumber tersebut baik kritik eksternal maupun kritik internal;
Menginterpretasikan sumber-sumber yang didapat, dan menyusunya dalam sebuah
historiografi. Kami berusaha menampilkan sebuah kajian sejarah lokal yang
kritis dengan interpretasi yang mendalam.
1.5. Sistematika
Penulisan Makalah
Untuk
menguraikan isi dari makalah ini, kami membuat sistematika penulisan untuk
mempermudah pembaca dalam memahami isi makalah. Dimulai dengan kata pengantar
kemudian dilanjutkan dengan Bab 1 Pendahuluan, Bab 2 Pembahasan, Bab 3
Kesimpulan dan Saran, dan terakhir
Daftar pustaka.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Tawuran
Dalam kamus bahasa Indonesia
“tawuran”dapat diartikan sebagai perkelahian yang meliputi banyak orang.
Sedangkan “pelajar” adalah seorang manusia yang belajar. Sehingga pengertian
tawuran pelajar adalah perkelahian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang
mana perkelahian tersebut dilakukan oleh orang yang sedang belajar
Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan
pelajar usia remaja digolongkan sebaga
i salah satu bentuk kenakalan remaja
(juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan
ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik.
1. Delikuensi situasional, perkelahian terjadi
karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu
biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat.
2. Delikuensi sistematik, para remaja yang
terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng.
Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya,
termasuk berkelahi. Sebagai anggota, tumbuh kebanggaan apabila dapat melakukan
apa yang diharapkan oleh kelompoknya. Seperti yang kita ketahui bahwa pada masa
remaja seorang remaja akan cenderung membuat sebuah genk yang mana dari
pembentukan genk inilah para remaja
bebas melakukan apa saja tanpa adanya peraturan-peraturan yang harus dipatuhi
karena ia berada dilingkup kelompok teman sebayanya.
2.2 Faktor- faktor yang menyebabkan tawuran
pelajar
Berikut ini adalah faktor-faktor yang
menyebabkan tawuran pelajar, diantaranya :
a.
Faktor Internal
Faktor internal ini terjadi didalam
diri individu itu sendiri yang berlangsung melalui proses internalisasi diri
yang keliru dalam menyelesaikan permasalahan disekitarnya dan semua pengaruh
yang datang dari luar. Remaja yang melakukan perkelahian biasanya tidak mampu
melakukan adaptasi dengan lingkungan yang kompleks. Maksudnya, ia tidak dapat
menyesuaikan diri dengan keanekaragaman pandangan, ekonomi, budaya dan berbagai
keberagaman lainnya yang semakin lama semakin bermacam-macam. Para remaja yang
mengalami hal ini akan lebih tergesa-gesa dalam memecahkan segala masalahnya
tanpa berpikir terlebih dahulu apakah akibat yang akan ditimbulkan. Selain itu,
ketidakstabilan emosi para remaja juga memiliki andil dalam terjadinya
perkelahian. Mereka biasanya mudah friustasi, tidak mudah mengendalikan diri,
tidak peka terhadap orang-orang disekitarnya. Seorang remaja biasanya
membutuhkan pengakuan kehadiran dirinya ditengah-tengah orang-orang
sekelilingnya.
b.
Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang
datang dari luar individu, yaitu :
1.
Faktor Keluarga
Keluarga adalah tempat dimana
pendidikan pertama dari orangtua diterapkan. Jika seorang anak terbiasa melihat
kekerasan yang dilakukan didalam keluarganya maka setelah ia tumbuh menjadi
remaja maka ia akan terbiasa melakukan kekerasan karena inilah kebiasaan yang
datang dari keluarganya. Selain itu ketidak harmonisan keluarga juga bisa
menjadi penyebab kekerasan yang
dilakukan oleh pelajar. Suasana keluarga yang menimbulkan rasa tidak aman dan
tidak menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat menimbulkan
bahaya psikologis bagi setiap usia terutama pada masa remaja.
Menurut Hirschi (dalam Mussen dkk,
1994). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa salah satu
penyebab kenakalan remaja dikarenakan tidak
berfungsinya orang tua sebagai figure teladan yang baik bagi anak (hawari,
1997).
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan
bahwa salah satu penyebab kenakalan remaja dikarenakan tidak berfungsinya orang
tua sebagai figure teladan yang baik bagi anak (hawari, 1997). Jadi disinilah
peran orangtua sebagai penunjuk jalan anaknya untuk selalu berprilaku baik.
1.
Faktor
Sekolah
Sekolah tidak hanya untuk
menjadikan para siswa pandai secara
akademik namun juga pandai secara akhlaknya . Sekolah merupakan wadah untuk
para siswa mengembangkan diri menjadi lebih baik. Namun sekolah juga bisa
menjadi wadah untuk siswa menjadi tidak baik, hal ini dikarenakan hilangnya
kualitas pengajaran yang bermutu. Contohnya
disekolah tidak jarang ditemukan ada seorang guru yang tidak memiliki
cukup kesabaran dalam mendidik anak muruidnya akhirnya guru tersebut
menunjukkan kemarahannya melalui kekerasan. Hal ini bisa saja ditiru oleh para
siswanya. Lalu disinilah peran guru dituntut untuk menjadi seorang pendidik
yang memiliki kepribadian yang baik.
2.
Faktor
Lingkungan
Lingkungan rumah dan lingkungan sekolah
dapat mempengaruhi perilaku remaja. Seorang remaja yang tinggal dilingkungan
rumah yang tidak baik akan menjadikan remaja tersebut ikut menjadi tidak baik.
Kekerasan yang sering remaja lihat akan membentuk pola kekerasan dipikiran para
remaja. Hal ini membuat remaja bereaksi anarkis. Tidak adanya kegiatan yang
dilakukan untuk mengisi waktu senggang oleh para pelajar disekitar rumahnya
juga bisa mengakibatkan tawuran.
2.3 Hal yang menjadi pemicu tawuran
Tak jarang disebabkan oleh saling
mengejek atau bahkan hanya saling menatap antar sesama pelajar yang berbeda
sekolahan. Bahkan saling rebutan wanita pun bisa menjadi pemicu tawuran. Dan masih
banyak lagi sebab-sebab lainnya.
2.4 Dampak karena tawuran pelajar
a.
Kerugian fisik, pelajar yang ikut tawuran kemungkinan akan menjadi
korban. Baik itu cedera ringan, cedera berat, bahkan sampai kematian
b.
Masyarakat sekitar juga dirugikan. Contohnya : rusaknya rumah warga
apabila pelajar yang tawuran itu melempari batu dan mengenai rumah warga
c.
Terganggunya proses belajar mengajar
d.
Menurunnya moralitas para pelajar
e.
Hilangnya perasaan peka, toleransi, tenggang rasa, dan saling menghargai
2.5 Hal-hal yang dapat dilakukan untuk
mengatasi tawuran pelajar
A.
Sekolah
a.
Memberikan pendidikan moral untuk para pelajar
b.
Menambah jam pelajaran keagamaan baik di sekolah ataupun di tempat
kuliah. Dengan penambahan jam pelajaran agama ini siswa atau mahasiswa diajak
untuk lebih memahami bahwa pertengkaran, perkelahian atau tawuran itu tidak ada
manfaatnya, yang ada hanya kerusakan dan bahkan kematian.
c.
Menghadirkan seorang figur yang baik untuk dicontoh oleh para pelajar.
Seperti hadirnya seorang guru, orangtua, dan teman sebaya yang dapat
mengarahkan para pelajar untuk selalu bersikap baik
d.
Mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat seperti olahraga,
ekstrakurikuler atau penelitian yang bermanfaat bagi mahasiswa. Sehingga tidak
terpikirkan keinginan untuk melakukan hal-hal yang tidak terpuji.
e.
Pihak sekolah atau kampus harus memberikan sangsi yang tegas jika ada
siswa atau mahasiswa yang melakukan tawuran. Dari member sanksi diskors sampai
dikeluarkan.
B.
Orang Tua
a.
Orang tua harus mengawasi kegiatan anaknya. Apabila si anak belum pulang
ke rumah seperti biasanya, sebaiknya orang tua proaktif menanyakan ke anak
melalui telepon seluler, atau ke teman atau ke sekolahan.
b.
Memberikan perhatian yang lebih untuk para remaja yang sejatinya sedang
mencari jati diri
C.
Lingkungan
a.
Patroli polisi dan satpol PP diintensifkan saat jam pulang sekolah,
karena siswa atau mahasiswa yang berbeda almamater biasanya akan cepat tersulut
emosinya saat mereka berpapasan dengan jumlah yang banyak.
b.
Masyarakat berperan aktif jika ada tanda-tanda akan terjadi tawuran,
atau sudah terjadi tawuran dengan menelepon polisi atau melalui jejaring
sosial.
c.
Memfasilitasi para pelajar untuk baik dilingkungan rumah atau
dilingkungan sekolah untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat diwaktu luangnya. Contohnya : membentuk ikatan remaja masjid atau
karangtaruna dan membuat acara-acara yang bermanfaat, mewajibkan setiap siswa
mengikuti organisasi atau ekstrakulikuler disekolahnya
d.
Para pedagang jangan menjual bebas senjata tajam dan bahan-bahan kimia yang berbahaya
Kartini kartono pun menawarkan beberapa cara
untuk mengurangi tawuran remaja, diantaranya :
1.
Banyak mawas diri, melihat kelemahan dan kekurangan sendiri dan
melakukan koreksi terhadap kekeliruan yang sifatnya tidak mendidik dan tidak
menuntun
2.
Memberikan kesempatan kepada remaja untuk beremansipasi dengan cara yang
baik dan sehat
3.
Memberikan bentuk kegiatan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan
remaja zaman sekarang serta kaitannya dengan perkembangan bakat dan potensi
remaja
2.6
Penjelasan Materi Makalah dengan menggunakan Analisis
Swot
Analisis permasalahan perilaku sosial tawuran
antara kelompok pelajar dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kondisi
lingkungan internal maupun eksternal dilihat dari aspek :
1.
Kekuatan ( Strenght )
a.
Pelajar ingin membela sekolahnya, agar tidak diserang oleh sekolah lain.
b. Pelajar cenderung menganggap tawuran
sebagai cara memperoleh pengakuan dan status tinggi serta disegani dalam
kelompoknya.
c.
Para pelajar melakukan tawuran bisa juga karena hal ingin membela teman
yang pernah diserang oleh sekolah lain.
d. Pelajar
menganggap kenakalan yang dilakukan hanya manifestasi simbolis aspirasi mereka
karena sering diperlakukan tidak adil.
2.
Kelemahan ( Weakness )
a.
Sering mengeluarkan kata – kata yang mengejek hanya karena hal yang
kecil, dapat memicu terjadinya tawuran. Atau bahkan hanya karena saling menatap
secara pandangan yang sinis juga bisa menyebabkan terjadinya tawuran.
b.
Karena masalah rebutan seorang wanita, juga bisa memicu terjadinya
perkelahian antar pelajar.
c.
Mendapatkan pengaruh yang tidak bak dari seorang profokator, untuk
menyerang sekolah lain.
d.
Kekerasan yang sering remaja lihat akan membentuk pola kekerasan di
pikiran para remaja. Bercanda yang terlalu berlebihan yang bisa menimbulkan
emosi sampai akhirnya terjadi perkelahian.
3.
Peluang ( Opportunity )
a.
Lingkungan rumah dan lingkungan sekolah dapat mempengaruhi perilaku
remaja. Tidak adanya kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu senggang oleh
para pelajar disekitar rumahnya juga bisa mengakibatkan tawuran.
b.
Orang tua yang terlalu memberikan kebebasan untuk anaknya, kurang
mengawasi anaknya bisa membuat anak mencari jati dirinya di lingkungan luar
dengan cara yang negatif.
c.
Sikap polisi yang kurang siaga untuk kasus tawuran antar pelajar. Polisi
yang selalu baru memunculkan dirinya setelah jatuhnya korban tewas karena aksi
brutal pelajar.
d.
Sekolah yang kurang begitu ketat mengadakan razia atau pemeriksaan
terhadap siswa – siswinya.
4.
Tantangan / Hambatan ( Threats )
a. Para pelajar yang melakukan tawuran akan
mendapatkan hukuman dari pihak kepolisian.
b.
Sikap pelajar yang anarkis, membuat para orang tua mereka menjadi geram
atas tingkah laku mereka yang sangat tidak pantas di usia mereka yang masih
sangat remaja. Orang tua juga bisa menjadi stress akibat perbuatan anaknya.
c.
Membuat nama dan citra keluarga serta citra sekolah menjadi buruk di
mata masyarakat.
d.
Sekolah biasanya memberikan sanksi yang berat untuk pelajar yang
melakukan tawuran.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Faktor yang menyebabkan tawuran remaja
tidak lah hanya datang dari individu siswa itu sendiri. Melainkan juga terjadi
karena faktor-faktor lain yang datang dari luar individu, diantaranya faktor
keluarga, faktor sekolah, dan faktor lingkungan.
Para pelajar yang umumnya masih berusia
remaja memiliki kencenderungan untuk melakukan hal-hal diluar dugaan yang mana
kemungkinan dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain, maka inilah peran
orangtua dituntut untuk dapat mengarahkan dan mengingatkan anaknya jika sang
anak tiba-tiba melakukan kesalahan. Keteladanan seorang guru juga tidak dapat
dilepaskan. Guru sebagai pendidik bisa dijadikan instruktur dalam pendidikan
kepribadian para siswa agar menjadi insan yang
lebih baik.
Begitupun dalam mencari teman
sepermainan. Sang anak haruslah diberikan pengarahan dari orang dewasa agar
mampu memilih teman yang baik. Masyarakat sekitar pun harus bisa membantu para
remaja dalam mengembangkan potensinya dengan cara mengakui keberadaanya.
IV.2
Saran
Dalam menyikapi masalah remaja terutama
tentang tawuran pelajar diatas, penulis memberikan beberapa saran. Diantaranya
:
a.
Keluarga sebagai awal tempat pendidikan para pelajar harus mampu
membentuk pola pikir yang baik untuk para pelajar
b.
Masyarakat mesti menyadari akan perannya dalam menciptakan situasi yang
kondusif
c.
Lembaga pendidikan formal sudah semestinya memberikan pelayanan yang
baik untuk membantu para pelajar mengasah kemampuan dan mengembangkan segala
potensi yang ada didalam dirinya
DAFTAR PUSTAKA
http://daimabadi.blogdetik.com/2010/04/27/tawuran-pelajar/comment-page-1/
http://yakubus.wordpress.com/2009/02/25/makalah-sosiologi/
http://www.mail-archive.com/permias@listserv.syr.edu/msg03171.html