Gunadarma

Uug

Minggu, 27 Desember 2015

MUSIK DAN POLITIK

MUSIK & POLITIK

Musik yang dipergunakan sebagai bentuk protes mempunyai sejarah yang cukup panjang semenjak Perang revolusioner Amerika abad ke-18 untuk kemerdekaan dari koloni Inggris Musik pun digunakan dalam menyuarakan protes terhadap hak-hak warga sipil dalam kesenjanan ekonomi, peperangan, maupun politik. Seiringnya berkembangnya industri musik, munculah para seniman musik yang menyuarakan aspirasinya melalui seni musik, seperti Joe Hill yang menyanyikan protes perjuangan buruh dan pandangannya terhadap perang dunia pertama, dan juga Bob Dylan yang menyanyikan protes mengenai perang Vietnam.

Musik sendiri menjadi media untuk 2 tujuan partisipasi, yaitu sebagai protes yang melatar belakangi musik itu sendiri dan digunakan sebagai dukungan terhadap suatu ide. Musik yang bersifat mendukung ini, khususnya pro-Negara dan pemerintah, sering dipakaian term ‘Patriotic Song’padanya. Hal ini menggambarkan bahwa dukungan terhadap pemerintah, walaupun dalam perjalannya mendapatkan banyak kritik, adalah sebuah langkah kecintaan terhadap tanah airnya. Dilihat dari sejarahnya, musik patriotik ini berjalan beriringan dengan musik protes karena sama-sama hadir di abad ke 18. ‘The Liberty Song’ yang ditulis oleh John Dickinson tahun 1768 adalah salah satu lagi patriotik pertama yang hadir di Amerika. Dalam musik tersebut dituliskan kesadaran American agar dapat bersatu. Dalam musik tersebut terdapat lirik  ‘by uniting we stand, by dividing we fall’menggambarkan perasaan sama darah dan sama rasa untuk memperjuangkan Amerika. Musik yang bertema dukungan terhadap pemerintah dan dinobatkan sebagai lagu patriotik salah satunya adalah lagu God Bless The USA dari Lee Greenwood. Lagu ini hadir pada tahun 1984 sebagai kritikan terhadap musik-musik yang banyak bermunculan dengan tema Anti-Reagan pada saat itu. Pada perkembangannya, lagu ini mulai menghangat kembali pada tahun 1990-an saat terjadi Perang Teluk untuk membangkitkan semangat dan moral.

Menggunakan media musik sebagai sarana menpresentasikan politik adalah langkah yang sangat tepat, dikarenakan musik yang menghasilkan sebuah karya akan cenderung dikenang sehingga berjalan seiring berkembangnya jaman.

Merentangkan musik dan politik dalam suatu koneksi bukanlah suatu hal yang baru. Musik dan politik mempunyai kaitan yang sangat erat dalam hal bagaimana satu sama lain saling mempengaruhi. Musik diciptakan rangka partisipasi politik tidak akan terlepas dari konteks sosial politik serta ekonominya. Sebuah musik juga merupakan suatu fenomena apabila bisa tidak akan terlepas dari konteks sosialnya, dan untuk musik-musik yang digunakan sebagai dukungan dan protes dalam memberi dampak terhadap politik.
Musik didefinisikan sebagai susunan nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi suara yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan. Selain itu, musik juga dapat diartikan sebagai nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan, terutama yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi tersebut. Musik yang akan dibahas di sini lebih kepada lirik yang terdapat dalam lagunya. Ini tidak begitu menjelaskan mengenai aliran musik dan hubungannya terhadap politik, tetapi lebih kepada memaknai lirik lagu dan disesuaikan dengan konteks politiknya.
Sebagaimana telah disebutkan bahwa musik dan politik adalah satu keterikatan yang satu mempengaruhi yang lain. Musisi dan penyair menyusun lirik lagunya dengan berusaha menampilkan beberapa isu-isu sosial untuk dapat menunjukkan pernyataan politik mereka
                Amerika Serikat menjadi sebuah negara kiblat demokrasi di dunia. negara-negara demokrasi di dunia banyak membandingkan sistem demokrasi yang mereka jalankan dengan yang terjadi di Amerika Serikat. Memang apabila dilihat dari jumlah warga negara yang memilih dalam Pemilihan umum, hanya sedikit warga Amerika Serikat yang ikut memilih. Namun apabila melakukan partisipasi politik dalam bentuk lain, masyarakat Amerika begitu aktif. Apabila mereka tidak suka terhadap suatu kebijakan, maka akan mereka suarakan, begitu juga sebaliknya.
Di Indonesia sendiri, presiden ke-6 Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono adalah seorang musisi dan pada masa mudanya ia pernah menjadi anggota grup musik Gaya Teruna. Pada tahun 2000-an, ia kembali merambah dunia musik dengan menulis tiga album pop. Ia merilis lagu pertamanya yang berjudul Rinduku Padamu yang terdapat pada album yang berisi kumpulan lagu cinta dan religius, album yang berisi 10 lagu pada tahun 2007ini melibatkan penyanyi papan atas Indonesia. Pada tahun 2009 ia merilis album “Revolusi” bersama Yockie Suryoprayogo, serta merilis album ketiganya “Ku Yakin Sampai Disana” pada tahun 2010.Disini bisa kita lihat kebebasan bermusik di semua kalangan, bahkan dalam bidang politik maupun di sistem pemerintahan.





KONFLIK ANTAR PELAJAR

MAKALAH

KONFLIK ANTAR PELAJAR





Penyusun         :

Nama             : Hisyam Sukri Ariefian
NPM              : 17315830
Fakultas         : Teknik Sipil dan Perencanaan
Jurusan          : Teknik Sipil
Dosen                        : Emilianshah Banowo



JURUSAN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015









PRAKATA

            Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul“ KONFLIK ANTAR PELAJAR

Sekiranya bahwa selesainya karya tulis ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasi kepada:
-     BapakEmilianshah Banowo;
      Selaku Dosen pengajar Ilmu Sosial Dasar.

Makalah ini ditulis berdasarkan konflik terhadap pelajar di Indonesia. Upaya telah dilakukan penulis untuk mendapatkan hasil terbaik dalam makalah ini. Penulis menyadari bahwa karya tulis ini tak lepas dari kesalahan dan kekurangan dikarenakan kemampuan penulis yang terbatas. Oleh karena itu penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca guna kesempurnaan karya tulis ini. Penulis berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat serta menambah pengetahuan bagi pembaca.










     Depok,28 Desember  2015





Hisyam Sukri Ariefian
                                               




DAFTAR ISI

Kata Pengantar.......................................................................................................... i
Daftar Isi ...................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang Masalah ......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan ..................................................................................................2
1.4 Metode Penulisan .................................................................................................2
1.5 Sistematika Penulisan Masalah ............................................................................2


BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Tawuran ..............................................................................................3
2.2 Faktor- faktor yang menyebabkan tawuran pelajar ..............................................3
2.3 Hal yang menjadi pemicu tawuran .......................................................................4
2.4 Dampak karena tawuran pelajar ...........................................................................5
2.5 Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi tawuran pelajar.............................................5
2.6 Penjelasan Materi Makalah dengan menggunakan Analisis Swot............................................6


BAB III 
3.1 Kesimpulan................................................................................................ 7
3.2 Daftar pustaka ............................................................................................8



                  
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Tawuran antar pelajar atau mahasiswa, sepertinya sudah menjadi kegiatan rutin para pelajar atau mahasiswa di Indonesia. Tawuran layaknya penyaluran identitas diri akan kemampuan dan kebanggannya terhadap diri sendiri, kelompok, atau almamater. Mereka tidak memikirkan buruknya berkelahi atau tawuran. Mereka hanya memikirkan kepentingan sesaat “Inilah Aku”.
Tawuran pelajar bukan hal yang bisa dianggap enteng,tawuran pelajar sekarang tidak hanya terjadi di kota-kota besar saja melainkan juga menjalar ke daerah-daerah.Permasalahan remeh dapat menyulut pertengkaran individual yang berlanjut menjadi perkelahian massal dan tak jarang melibatkan penggunaan senjata tajam,senjata api, bahkan akhir-akhir ini banyak pelajar menggunakan bahan kimia seperti air keras sebagai senjatanya.
Dewasa ini,kekerasan sudah dianggap sebagai pemecah masalah yang sangat efektif yang dilakuka oleh para remaja.Hal ini seolah menjadi bukti nyata bahwa seorang yang terpelajar pun leluasa melakukan hal-hal yang bersifat anarkisme dan premanisme.Tentu saja perilaku buruk ini tidak hanya merugikan orang yang terlibat dalam perkelahian itu sendiri tetapi juga merugikan orang lain yang tidak terlibat secara langsung.


1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah tersebut diatas ditemukan masalah pokok yang akan  dibahas diantaranya adalah sebagai berikut:
1.  Apa itu tawuran  ?
2.  Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya tawuran?
3.  Hal pemicu apa yang menjadikan tawuran?
4.  Dampak apa yang terjadi akibat tawuran?
5.  Bagaimana solusi untuk menghindari tawuran ini ?


1.3. Tujuan penulisan

Adapun tujuan yang ingin di capai dari penulisan karya ilmiah ini adalah untuk menjawab rumusan masalah diatas, yakni:

1. Menjelaskan apa itu Tawuran;

2. Mengetahui latar belakang yang menyebabkan adanya Konflik Antar Pelajar;

3. Menjelaskan dampak Tawuran;

4.Menjelaskan cara mengatasi dampak Tawuran.



1.4. Metode Penulisan

Penulisan dilakukan dengan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dengan bahasan  sumber tulisan; Pengkritikan terhadap kebenaran sumber tersebut baik kritik eksternal maupun kritik internal; Menginterpretasikan sumber-sumber yang didapat, dan menyusunya dalam sebuah historiografi. Kami berusaha menampilkan sebuah kajian sejarah lokal yang kritis dengan interpretasi yang mendalam.



1.5. Sistematika Penulisan Makalah

Untuk menguraikan isi dari makalah ini, kami membuat sistematika penulisan untuk mempermudah pembaca dalam memahami isi makalah. Dimulai dengan kata pengantar kemudian dilanjutkan dengan Bab 1 Pendahuluan, Bab 2 Pembahasan, Bab 3 Kesimpulan dan Saran, dan terakhir Daftar pustaka.


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tawuran

Dalam kamus bahasa Indonesia “tawuran”dapat diartikan sebagai perkelahian yang meliputi banyak orang. Sedangkan “pelajar” adalah seorang manusia yang belajar. Sehingga pengertian tawuran pelajar adalah perkelahian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mana perkelahian tersebut dilakukan oleh orang yang sedang belajar
Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebaga
i salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik.

1. Delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat.

2. Delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, tumbuh kebanggaan apabila dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya. Seperti yang kita ketahui bahwa pada masa remaja seorang remaja akan cenderung membuat sebuah genk yang mana dari pembentukan genk inilah para  remaja bebas melakukan apa saja tanpa adanya peraturan-peraturan yang harus dipatuhi karena ia berada dilingkup kelompok teman sebayanya.

2.2       Faktor- faktor yang menyebabkan tawuran pelajar

Berikut ini adalah faktor-faktor yang menyebabkan tawuran pelajar, diantaranya :

a.         Faktor Internal
Faktor internal ini terjadi didalam diri individu itu sendiri yang berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru dalam menyelesaikan permasalahan disekitarnya dan semua pengaruh yang datang dari luar. Remaja yang melakukan perkelahian biasanya tidak mampu melakukan adaptasi dengan lingkungan yang kompleks. Maksudnya, ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan keanekaragaman pandangan, ekonomi, budaya dan berbagai keberagaman lainnya yang semakin lama semakin bermacam-macam. Para remaja yang mengalami hal ini akan lebih tergesa-gesa dalam memecahkan segala masalahnya tanpa berpikir terlebih dahulu apakah akibat yang akan ditimbulkan. Selain itu, ketidakstabilan emosi para remaja juga memiliki andil dalam terjadinya perkelahian. Mereka biasanya mudah friustasi, tidak mudah mengendalikan diri, tidak peka terhadap orang-orang disekitarnya. Seorang remaja biasanya membutuhkan pengakuan kehadiran dirinya ditengah-tengah orang-orang sekelilingnya.

b.      Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu, yaitu :

1.      Faktor Keluarga
Keluarga adalah tempat dimana pendidikan pertama dari orangtua diterapkan. Jika seorang anak terbiasa melihat kekerasan yang dilakukan didalam keluarganya maka setelah ia tumbuh menjadi remaja maka ia akan terbiasa melakukan kekerasan karena inilah kebiasaan yang datang dari keluarganya. Selain itu ketidak harmonisan keluarga juga bisa menjadi penyebab kekerasan  yang dilakukan oleh pelajar. Suasana keluarga yang menimbulkan rasa tidak aman dan tidak menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat menimbulkan bahaya psikologis bagi setiap usia terutama pada masa remaja.

Menurut Hirschi (dalam Mussen dkk, 1994). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa salah satu
penyebab kenakalan remaja dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figure teladan yang baik bagi anak (hawari, 1997).
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa salah satu penyebab kenakalan remaja dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figure teladan yang baik bagi anak (hawari, 1997). Jadi disinilah peran orangtua sebagai penunjuk jalan anaknya untuk selalu berprilaku baik.

1.          Faktor Sekolah

Sekolah tidak hanya untuk menjadikan  para siswa pandai secara akademik namun juga pandai secara akhlaknya . Sekolah merupakan wadah untuk para siswa mengembangkan diri menjadi lebih baik. Namun sekolah juga bisa menjadi wadah untuk siswa menjadi tidak baik, hal ini dikarenakan hilangnya kualitas pengajaran yang bermutu. Contohnya  disekolah tidak jarang ditemukan ada seorang guru yang tidak memiliki cukup kesabaran dalam mendidik anak muruidnya akhirnya guru tersebut menunjukkan kemarahannya melalui kekerasan. Hal ini bisa saja ditiru oleh para siswanya. Lalu disinilah peran guru dituntut untuk menjadi seorang pendidik yang memiliki kepribadian yang baik.

2.          Faktor Lingkungan

Lingkungan rumah dan lingkungan sekolah dapat mempengaruhi perilaku remaja. Seorang remaja yang tinggal dilingkungan rumah yang tidak baik akan menjadikan remaja tersebut ikut menjadi tidak baik. Kekerasan yang sering remaja lihat akan membentuk pola kekerasan dipikiran para remaja. Hal ini membuat remaja bereaksi anarkis. Tidak adanya kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu senggang oleh para pelajar disekitar rumahnya juga bisa mengakibatkan tawuran.

2.3    Hal yang menjadi pemicu tawuran

Tak jarang disebabkan oleh saling mengejek atau bahkan hanya saling menatap antar sesama pelajar yang berbeda sekolahan. Bahkan saling rebutan wanita pun bisa menjadi pemicu tawuran. Dan masih banyak lagi sebab-sebab lainnya.







2.4    Dampak karena tawuran pelajar

a.       Kerugian fisik, pelajar yang ikut tawuran kemungkinan akan menjadi korban. Baik itu cedera ringan, cedera berat, bahkan sampai kematian
b.      Masyarakat sekitar juga dirugikan. Contohnya : rusaknya rumah warga apabila pelajar yang tawuran itu melempari batu dan mengenai rumah warga
c.       Terganggunya proses belajar mengajar
d.      Menurunnya moralitas para pelajar
e.       Hilangnya perasaan peka, toleransi, tenggang rasa, dan saling menghargai

2.5    Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi tawuran pelajar

A.      Sekolah

a.       Memberikan pendidikan moral untuk para pelajar
b.    Menambah jam pelajaran keagamaan baik di sekolah ataupun di tempat kuliah. Dengan penambahan jam pelajaran agama ini siswa atau mahasiswa diajak untuk lebih memahami bahwa pertengkaran, perkelahian atau tawuran itu tidak ada manfaatnya, yang ada hanya kerusakan dan bahkan kematian.
c.      Menghadirkan seorang figur yang baik untuk dicontoh oleh para pelajar. Seperti hadirnya seorang guru, orangtua, dan teman sebaya yang dapat mengarahkan para pelajar untuk selalu bersikap baik
d.    Mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat seperti olahraga, ekstrakurikuler atau penelitian yang bermanfaat bagi mahasiswa. Sehingga tidak terpikirkan keinginan untuk melakukan hal-hal yang tidak terpuji.
e.    Pihak sekolah atau kampus harus memberikan sangsi yang tegas jika ada siswa atau mahasiswa yang melakukan tawuran. Dari member sanksi diskors sampai dikeluarkan.

B.    Orang Tua

a.    Orang tua harus mengawasi kegiatan anaknya. Apabila si anak belum pulang ke rumah seperti biasanya, sebaiknya orang tua proaktif menanyakan ke anak melalui telepon seluler, atau ke teman atau ke sekolahan.

b.    Memberikan perhatian yang lebih untuk para remaja yang sejatinya sedang mencari jati diri

C.    Lingkungan

a.    Patroli polisi dan satpol PP diintensifkan saat jam pulang sekolah, karena siswa atau mahasiswa yang berbeda almamater biasanya akan cepat tersulut emosinya saat mereka berpapasan dengan jumlah yang banyak.
b.    Masyarakat berperan aktif jika ada tanda-tanda akan terjadi tawuran, atau sudah terjadi tawuran dengan menelepon polisi atau melalui jejaring sosial.
c.      Memfasilitasi para pelajar untuk baik dilingkungan rumah atau dilingkungan sekolah untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat  diwaktu luangnya. Contohnya  : membentuk ikatan remaja masjid atau karangtaruna dan membuat acara-acara yang bermanfaat, mewajibkan setiap siswa mengikuti organisasi atau ekstrakulikuler disekolahnya
d.    Para pedagang jangan menjual bebas senjata tajam dan  bahan-bahan kimia yang berbahaya

Kartini kartono pun menawarkan beberapa cara untuk mengurangi tawuran remaja, diantaranya :
1.      Banyak mawas diri, melihat kelemahan dan kekurangan sendiri dan melakukan koreksi terhadap kekeliruan yang sifatnya tidak mendidik dan tidak menuntun
2.       Memberikan kesempatan kepada remaja untuk beremansipasi dengan cara yang baik dan sehat
3.      Memberikan bentuk kegiatan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan remaja zaman sekarang serta kaitannya dengan perkembangan bakat dan potensi remaja

2.6            Penjelasan Materi Makalah dengan menggunakan Analisis Swot

Analisis permasalahan perilaku sosial tawuran antara kelompok pelajar dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kondisi lingkungan internal maupun eksternal dilihat dari aspek :
1.      Kekuatan ( Strenght )
a.       Pelajar ingin membela sekolahnya, agar tidak diserang oleh sekolah lain.
b.      Pelajar cenderung menganggap tawuran sebagai cara memperoleh pengakuan dan status tinggi serta disegani dalam kelompoknya.
c.       Para pelajar melakukan tawuran bisa juga karena hal ingin membela teman yang pernah diserang oleh sekolah lain.
d.      Pelajar menganggap kenakalan yang dilakukan hanya manifestasi simbolis aspirasi mereka karena sering diperlakukan tidak adil.
2.      Kelemahan ( Weakness )
a.       Sering mengeluarkan kata – kata yang mengejek hanya karena hal yang kecil, dapat memicu terjadinya tawuran. Atau bahkan hanya karena saling menatap secara pandangan yang sinis juga bisa menyebabkan terjadinya tawuran.
b.      Karena masalah rebutan seorang wanita, juga bisa memicu terjadinya perkelahian antar pelajar.
c.       Mendapatkan pengaruh yang tidak bak dari seorang profokator, untuk menyerang sekolah lain.
d.      Kekerasan yang sering remaja lihat akan membentuk pola kekerasan di pikiran para remaja. Bercanda yang terlalu berlebihan yang bisa menimbulkan emosi sampai akhirnya terjadi perkelahian.
3.      Peluang ( Opportunity )
a.       Lingkungan rumah dan lingkungan sekolah dapat mempengaruhi perilaku remaja. Tidak adanya kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu senggang oleh para pelajar disekitar rumahnya juga bisa mengakibatkan tawuran.
b.      Orang tua yang terlalu memberikan kebebasan untuk anaknya, kurang mengawasi anaknya bisa membuat anak mencari jati dirinya di lingkungan luar dengan cara yang negatif.
c.       Sikap polisi yang kurang siaga untuk kasus tawuran antar pelajar. Polisi yang selalu baru memunculkan dirinya setelah jatuhnya korban tewas karena aksi brutal pelajar.
d.      Sekolah yang kurang begitu ketat mengadakan razia atau pemeriksaan terhadap siswa – siswinya.
4.      Tantangan / Hambatan ( Threats )
a.       Para pelajar yang melakukan tawuran akan mendapatkan hukuman dari pihak kepolisian.
b.      Sikap pelajar yang anarkis, membuat para orang tua mereka menjadi geram atas tingkah laku mereka yang sangat tidak pantas di usia mereka yang masih sangat remaja. Orang tua juga bisa menjadi stress akibat perbuatan anaknya.
c.       Membuat nama dan citra keluarga serta citra sekolah menjadi buruk di mata masyarakat.
d.      Sekolah biasanya memberikan sanksi yang berat untuk pelajar yang melakukan tawuran.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Faktor yang menyebabkan tawuran remaja tidak lah hanya datang dari individu siswa itu sendiri. Melainkan juga terjadi karena faktor-faktor lain yang datang dari luar individu, diantaranya faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor lingkungan.
Para pelajar yang umumnya masih berusia remaja memiliki kencenderungan untuk melakukan hal-hal diluar dugaan yang mana kemungkinan dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain, maka inilah peran orangtua dituntut untuk dapat mengarahkan dan mengingatkan anaknya jika sang anak tiba-tiba melakukan kesalahan. Keteladanan seorang guru juga tidak dapat dilepaskan. Guru sebagai pendidik bisa dijadikan instruktur dalam pendidikan kepribadian para siswa agar menjadi insan yang  lebih baik.
Begitupun dalam mencari teman sepermainan. Sang anak haruslah diberikan pengarahan dari orang dewasa agar mampu memilih teman yang baik. Masyarakat sekitar pun harus bisa membantu para remaja dalam mengembangkan potensinya dengan cara mengakui keberadaanya.

IV.2    Saran
Dalam menyikapi masalah remaja terutama tentang tawuran pelajar diatas, penulis memberikan beberapa saran. Diantaranya :
a.       Keluarga sebagai awal tempat pendidikan para pelajar harus mampu membentuk pola pikir yang baik untuk para pelajar
b.      Masyarakat mesti menyadari akan perannya dalam menciptakan situasi yang kondusif
c.       Lembaga pendidikan formal sudah semestinya memberikan pelayanan yang baik untuk membantu para pelajar mengasah kemampuan dan mengembangkan segala potensi yang ada didalam dirinya


DAFTAR PUSTAKA



http://daimabadi.blogdetik.com/2010/04/27/tawuran-pelajar/comment-page-1/

http://yakubus.wordpress.com/2009/02/25/makalah-sosiologi/

http://www.mail-archive.com/permias@listserv.syr.edu/msg03171.html