MAKALAH
DAMPAK GLOBALISASI
TERHADAP MORAL GENERASI MUDA
Penyusun :
Nama : Hisyam Sukri
Ariefian
NPM : 17315830
Fakultas : Teknik Sipil dan Perencanaan
Jurusan : Teknik Sipil
Dosen : Emilianshah Banowo
JURUSAN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015
PRAKATA
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah dan inayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis
yang berjudul“ DAMPAK GLOBALSASI TERHADAP MORAL GENERASI MUDA”.
Sekiranya
bahwa selesainya karya tulis ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai
pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasi kepada:
- BapakEmilianshah Banowo;
Selaku
Dosen pengajar Ilmu Sosial Dasar.
Makalah
ini ditulis berdasarkan dampak globalisasi terhadap pandangan hidup generasi
muda. Upaya telah dilakukan penulis untuk mendapatkan hasil terbaik dalam
makalah ini. Penulis menyadari bahwa karya tulis ini tak lepas dari kesalahan
dan kekurangan dikarenakan kemampuan penulis yang terbatas. Oleh karena itu
penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca guna
kesempurnaan karya tulis ini. Penulis berharap semoga karya tulis ini dapat
bermanfaat serta menambah pengetahuan bagi pembaca.
Depok,19 Oktober
2015
Hisyam Sukri Ariefian
DAFTAR ISI
Kata Pengantar .......................................................................................................i
Daftar
Isi ................................................................................................................ii
BAB
I PENDAHULUAN ....................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah ..................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................1
1.3
Tujuan Penulisan ..............................................................................................2
1.4
Metode Penulisan .............................................................................................2
1.5
Sistematika Penulisan Masalah ........................................................................2
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................3
2.1 Pengertian Globalisasi ......................................................................................3
2.2 Dampak Globalisasi .........................................................................................3
2.3 Berkembangnya Globalisasi ............................................................................7
2.4 Dampak Globalisasi Bagi Moral .....................................................................7
2.5 Menanggulangi
Dampak Globalisasi Bagi Moral Bangsa ..............................8
BAB III PENUTUP ..............................................................................................11
3.1 Kesimpulan .......................................................................................................11
3.2 Daftar pustaka ...................................................................................................12
BAB 1
PENDAHULUAN.
1.1. Latar Belakang Masalah
Permasalahan
Dewasa ini, perubahan zaman membawa dampak bagi seluruh Negara. Dengan adanya
perubahan zaman, pola pikir manusiapun ikut berubah. Perubahan zaman membawa
dampak positif maupun negatif. Perubahan ini terjadi karena adanya perubahan
Globalisasi. Globalisasi adalah kecenderungan umum terintegrasinya kehidupan
masyarakat domestik/lokal ke dalam komunitas global di berbagai bidang. Akibat
adanya Era Globalisasi membawa pengaruh kepada seluruh aspek, baik dari segi
Pendidikan, Ekonomi, Sosial, IPTEK, bahkan moral suatu bangsa pun mengalami
perubahan khususnya pada remaja. Krisis moral anak remajapun sangat
memprihatinkan. Moral atau perilaku anak remaja di Indonesia mengalami
perubahan karena adanya pengaruh dari Negara luar yang dibawa ke Indonesia. Itu
semua langsung diserap begitu saja tanpa memikirkan atau memilah perilaku yang
seharusnya di ambil oleh anak remaja di Indonesia. Dahulu, moral anak Indonesia
bisa diacungkan jempol. Dilihat dari tatakramanya, sopan santun dan tutur
bahasanya yang baik. Tetapi kini, moral atau perilaku anak remaja di Indonesia
sangat memprihatinkan. Banyak sekali perilaku-perilaku menyimpang yang kian
marak terjadi di Indonesia. Penyimpangan-penyimpangan tersebut sebagian besar
dilakukan atau dialami oleh anak remaja. Penyimpangan yang dilakukan biasaya
seperti, free sex, narkoba, dan lain-lain. Kejadian itu sangat memprihatinkan
bagi bangsa Indonesia karena anak remaja itu merupakan generasi penerus bangsa.
1.2. Rumusan
Masalah
Dalam penulisan
makalah ini kami membuat beberapa rumusan masalah yang menjadi pokok
pembahasan. Rumusan masalah dapat membatasi pembahasan agar tidak melebar.
Adapun Rumusan masalah yang kami tetapkan adalah:
1. Bagaimana globalisasi dapat
menyebabkan dampak bagi moral generasi muda?
2. Latar belakang apa saja yang
menyebabkan perubahan moral bagi generasi muda?
3. Seberapa besar perubahan yang
terjadi karena adanya globalisasi
bagi generasi muda?
4. Bagaimana cara mengatasi
adanya dampak buruk globalisasi bagi generasi muda?
1.3. Tujuan
penulisan
Adapun tujuan yang ingin di capai
dari penulisan karya ilmiah ini adalah untuk menjawab rumusan masalah diatas,
yakni:
1. Menjelaskan apa itu
Globalisasi;
2. Mengetahui latar belakang yang
menyebabkan adanya dampak Globalisasi bagi Generasi Muda;
3. Menjelaskan dampak Globalisasi
bagi Generasi Muda;
4.Menjelaskan cara mengatasi dampak Negatif Globalisasi bagi Generasi Muda.
1.4. Metode
Penulisan
Penulisan
dilakukan dengan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dengan bahasan sumber tulisan; Pengkritikan terhadap
kebenaran sumber tersebut baik kritik eksternal maupun kritik internal;
Menginterpretasikan sumber-sumber yang didapat, dan menyusunya dalam sebuah
historiografi. Kami berusaha menampilkan sebuah kajian sejarah lokal yang
kritis dengan interpretasi yang mendalam.
1.5. Sistematika
Penulisan Makalah
Untuk
menguraikan isi dari makalah ini, kami membuat sistematika penulisan untuk
mempermudah pembaca dalam memahami isi makalah. Dimulai dengan kata pengantar
kemudian dilanjutkan dengan Bab 1 Pendahuluan, Bab 2 Pembahasan, Bab 3
Kesimpulan dan Saran, dan terahir Daftar pustaka.
BAB 2
Pembahasan.
2.1 Pengertian Globalisasi
Pengertian
Globalisasi Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari
kata global, yang artinya adalah universal. Achmad Suparman menyatakan
Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku)
sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah.
Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja
(working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada
yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses
alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu
sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi
dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat. Globalisasi
adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara
saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan mempengaruhi satu sama lain yang
melintasi batas negara. Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak
karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini
sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi
yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.
Beberapa
pengertian globalisasi:
a) Globalisasi adalah sebuah
perubahan sosial berupa bertambahnya keterkaitan diantara elemen-elemen yang
terjadi akibat perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi
yang memfasilitasi pertukaran budaya dan ekonomi internasional.
b) Globalisasi juga bisa
diartikan proses dimana berbagai peristiwa, keputusan dan kegiatan di belahan
dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan
masyarakat di belahan dunia yang lain.
c) Selain itu globalisasi juga
berarti meningkatnya saling keterkaitan antara berbagai belahan dunia melalui
terciptanya proses ekonomi, lingkungan, politik dan pertukaran kebudayaan. Jadi
globalisasi mencakup semua bidang seperti proses perubahan sosial, arus
informasi, aliran barang, jasa dan uang serta pertukaran budaya.
2.2 Dampak Globalisasi
Arus globalisasi
yang sedang melanda seluruh penjuru dunia terutama Indonesia, telah memberikan
banyak perubahan terhadap kehidupan masyarakat. Globalisasi dapat diartikan
sebagai proses penyebaran unsur-unsur baru khususnya yang menyangkut informasi
secara mendunia melalui media cetak maupun elektronik.
Globalisasi yang
memiliki dua sisi mata uang (positif dan negatif) juga menjadi penyebab
infiltrasi budaya tidak terbendung. Budaya-budaya sedemikian cepat dan mudah
saling bertukar tempat dan saling memengaruhi satu sama lain. Termasuk budaya
hidup barat yang liberal dan bebas merasuki budaya ketimuran yang lebih
cenderung teratur dan terpelihara oleh nilai-nilai agama. Dampak negatif dari
arus globalisasi yang terlihat miris adalah perubahan yang cenderung mengarah
pada krisis moral dan akhlak, sehingga menimbulkan sejumlah permasalahan
kompleks melanda negeri ini akibat moral. Dapat di contohkan mulai dari hal
kecil seperti anak-anak sekolah yang membolos pada jam pelajaran, sampai dengan
korupsi. Selain itu terdapat pula tindakan-tindakan kriminal yang setiap hari
biasa kita lihat. Hal ini membuktikan bahwa krisis moral telah dan sedang
melanda bangsa ini. Kita sebagai mahasiswa harus turut andil dalam memahami
gejolak-gejolak globalisasi yang sudah melanda pada saat ini.
Dalam buku
Dimensi-Dimensi Pendidikan moral yang ditulis oleh Cheppy Haricahyono, definisi
dari moral adalah sesuatu yang berkaitan, atau ada hubungannya dengan kemampuan
menentukan benar salahnya suatu tingkah laku. Sehingga moral merupakan sesuatu
yang sangat penting dalam kehidupan untuk menentukan baik buruknya sikap atau
pun perbuatan yang kita lakukan.
Pelajar pada era
globalisasi sekarang ini seperti kehilangan arah dan tujuan. Mereka terjebak
pada lingkaran dampak globalisasi yang lebih mengedepankan corak hedonisme dan
apatisme (acuh tak acuh, tak peduli). Generasi muda saat ini juga bersifat
anarkisme dalam menyuarakan kepentingan rakyat, bahkan banyak masyarakat yang
menganggap generasi muda sekarang disibukkan oleh tawuran dan bentrokan.
Sehingga pada akhirnya keamanan masyarakat menjadi terganggu dan kehidupan
pembelajaran di lembaga pendidkian atau sekolah tidak kondusif yang menimbulkan
adanya kekhawatiran adanya krisis moral generasi muda yang seharusnya menjadi
agen perubahan sosial menjadi lebih baik namun terhalang oleh kebahagiaan dunia
semata.
Baik media cetak
maupun elektronik, yang biasa kita baca dan saksikan setiap hari, semuanya
menyajikan bacaan dan tontonan yang tak jarang kurang memperhatikan moralitas,
sopan santun, dan etika. Sehingga secara langsung para pembaca dan pemirsa
dapat terpengaruh moral dan tingkah lakunya. Terutama bila para pembaca dan
pemirsa tersebut adalah remaja (pelajar) yang belum memilki bekal pengetahuan agama
yang kuat. Tak hanya itu saja, dari segi ilmu pengetahuan kita memang
memperoleh banyak manfaat dari era globalisasi ini. Namun, dari segi
kebudayaan, kita lebih mendapatkan banyak pengaruh negatif.
Jika dilihat
dari segi sistem pendidikan yang ada di Inonesia, sistem pendidikan kita selama
ini masih lebih menitikberatkan dan menjejalkan pada penguasaan kognitif
akademis. Sementara afektif dan psikomotorik seolah-olah dinomorduakan.
Sehingga yang terjadi adalah terbentuknya pribadi yang miskin tata krama, sopan
santun, dan etika moral.
Sedikit melihat kehidupan Indonesia
tempo dulu. Sejak dulu, Indonesia sudah dikenal di seluruh penjuru dunia
sebagai negeri yang ramah, sopan, dan berbudi. Karena hal itu lah banyak
orang-orang asing kagum dan tertarik untuk berkunjung ke negara kita. Melihat
kehidupan masyarakat pedesaan yang penuh ketenangan dan kedamaian menjadi
cermin perilaku masyarkat Indonesia. Praktek tolong-menolong atau gotong-royong
masih melekat kuat dalam diri dan kebiasaan masyarakat desa.
Namun yang terjadi di Indonesia
saat ini adalah generasi muda lebih tertarik akan adat kebiasaan negeri lain
yang sebenarnya tidak sesuai dengan adat istiadat dan etika bangsa kita. Mereka
menganggap lebih keren dan modern, baik itu gaya hidup maupun tingkah lakunya.
Karena hal itulah, timbul pergaulan bebas di kalangan remaja (pelajar) dan
mempengaruhi pikiran serta tingkah laku generasi muda. Merosotnya moral pada
generasi muda membuat Indonesia akan semakin terpuruk dan memiliki masa depan
yang suram.
Berikut ada
beberapa fakta mengenai menurunnya etika dan moral pelajar/ mahasiswa yang di
dapat dari berbagai masyarakat:
1. 15-20 persen dari remaja di Indonesia
sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah
2. 15 juta remaja perempuan usia 15-19 tahun
melahirkan setiap tahunnya
3. Hingga Juni 2009 telah tercatat 6332
kasus AIDS dan 4527 kasus HIV positif di Indonesia, dengan 78,8 persen dari
kasus-kasus baru yang terlaporkan berasal dari usia 15-29 tahun
4. Diperkirakan terdapat sekitar 270.000
pekerja seks perempuan yang ada di Indonesia, di mana lebih dari 60 persen
adalah berusia 24 tahun atau kurang, dan 30 persen berusia 15 tahun atau kurang
5. Setiap tahun ada sekitar 2,3 juta kasus
aborsi di Indonesia di mana 20 persen diantaranya adalah aborsi yang dilakukan
oleh remaja
6. Berdasarkan data kepolisian, setiap tahun
penggunaan narkoba selalu naik. Korban paling banyak berasal dari kelompok
remaja, sekitar 14 ribu orang atau 19% dari keseluruhan pengguna.
7. Jumlah kasus kriminal yang dilakukan
anak-anak dan remaja tercatat 1.150 sementara pada 2008 hanya 713 kasus. Ini
berarti ada peningkatan 437 kasus. Jenis kasus kejahatan itu antara lain
pencurian, narkoba, pembunuhan dan pemerkosaan.
8. Sejak Januari hingga Oktober 2009,
Kriminalitas yang dilakukan oleh remaja meningkat 35% dibandingkan tahun
sebelumnya, Pelakunya rata-rata berusia 13 hingga 17 tahun.
Sumber: Warta warga Universitas
Gunadarma Jakarta
Dari beberapa fenomena yang telah
dipaparkan di atas, jelas bahwa kondisi pelajar di Indonesia saat ini terlihat
bahwa semakin bobroknya etika, moral, dan akhlak bangsa Indonesia.
Selain itu,
dapat pula kita ketahui bahwa terdapat beberapa faktor dari adanya globalisasi,
antara lain adalah:
1.Masuknya pola pergaulan budaya
asing atau budaya barat, seperti anak-anak sekolah yang bermain sampai malam
(misalnya ke café) tanpa sepengetahuan orang tuanya.
2.Perkembangan teknologi yang
tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas budi pekerti pelajar. Padahal
perkembangan teknologi memang sangat dibutuhkan bangsa ini untuk dapat terus
bersaing di era globalisasi
3.Derasnya arus media komunikasi
yang masuk ke Indonesia. Bisa dicontohkan seperti handphone yang dilengkapi
dengan fitur-fitur yang canggih seperti kamera, video, internet, dan juga yang
sedang menjadi trend para pelajar saat ini adalah BBM, line, dan lain
sebagainya.
4.Cara berpakaian anak muda dalam
hal ini atau pelajar yang sekarang tidak lagi menjunjung tinggi nilai kesopanan,
kebanyakan mereka berpakaian secara minim dan ketat. Dapat dicontohkan saja
seragam sekolah yang mereka pakai ketika di sekolah. Pakaian seragam yang
harusnya formal, kadang dibuat “neko-neko”, seperti baju yang dibuat ketat, dan
rok yang dibuat lebih pendek.
Dari faktor
diatas dapat kita ketahui bahwa kebudayaan barat mudah sekali keluar masuk ke
Indonesia secara bebas. Sehingga menyebabkan kebudayaan yang ada di Indonesia
semakin luntur, dan nilai-nilai Pancasila tidak lagi dijadikan sebagai pedoman hidup
generasi muda Indonesia.
Krisis moral
terjadi juga karena nilai-nilai Pancasila sekarang ini mulai luntur dan tidak
lagi diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Pancasila yang seharusnya
sebagai pedoman hidup dan falsafah bangsa kini hanya sebagai semboyan belaka.
Dalam bertindak, kebanyakan orang sudah tidak mengindahkan asas Ketuhanan,
Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan. Jati diri bangsa sekarang ini
telah luntur, sehingga timbul perilaku amoral yang merugikan orang lain dan membuat
semakin terpuruknya negeri ini.
Indonesia pada
saat ini telah dihadapkan pada permasalah krisis moralitas. Permasalahan ini
sudah menjalar sampai pada semua aspek kehidupan. Beberapa krisis moral yang
dapat kita lihat diantaranya adalah dari sistem pendidikan kita,
ketidakpedulian dengan sesama, mulai hilangnya etika dan akhlak,
kenakalan-kenakalan remaja, tayangan-tayangan di televisi yang kurang mendidik,
perilaku para pejabat kita yang tidak amanah dan masih banyak lagi krisis
moralitas yang lain.
Kebiasaan anak
jaman sekarang yang biasa kita lihat adalah terjadinya tawuran antar sekolah,
konflik antar anak sekolah yang mengakibatkan perkelahian dan pembunuhan,
kenakalan remaja yang berlebihan, siswa-siswi yang dianggap tidak sopan, tidak
bertanggung jawab terhadap tindakannya, juga banyak siswa sekolah (pelajar)
yang menjadi korban narkoba. Bahkan kebiasaan tawuran pun sekarang menjadi
budaya, tak jarang dari mereka melakukan tawuran hanya untuk membuat sensasi,
onar, dan kisruh tanpa alasan dan masalah yang jelas. Kenakalan remaja seperti
free sex, pergaulan bebas, dan pemakaian narkoba sudah menjalar hingga ke
pelosok desa. Belum lagi, maraknya video perzinaaan yang semakin mudah diakses
dan didapatkan. Dengan hanya meroggoh uang yang tak seberapa, orang dapat
mengunduhnya dari situs-situs di internet.
Mau menjadi apa bangsa ini apabila para generasi mudanya saja seperti
itu. Sehingga sangat jelas sekali bahwa arus globalisasi dari teknologi yang
semakin canggih tidak disaring dengan baik menimbulkan dampak yang sangat
negatif bagi para pelajar, karena mudahnya informasi yang mereka akses.
Tidak hanya itu,
tayangan-tayangan di televisi sekarang ini banyak yang tidak mendidik.
Contohnya sinetron, kebanyakan sinetron ditonton oleh para pelajar (remaja).
Sinetron menyuguhkan cerita yang berbau percintaan, pertengkaran, penganiayaan,
pergaulan bebas, mode trend gaul masa kini dan lain-lain. Dan parahnya hal
tersebut ditiru oleh para remaja atau pelajar, seperti memakai rok diatas lutut
ke sekolah, pakaian yang ketat, merokok, dan lainnya. Budaya kebaratan semakin
membawa dampak buruk bagi para remaja khususnya pelajar, dimana akibatnya
adalah mereka menjadi bersikap acuh tak acuh dengan perkembangan bangsa ini.
Kebanyakan dari
masyarakat Indonesia mempercayakan pendidikan sebagai salah satu lembaga yang
mampu mencetak manusia atau generasi muda yang bermoral, beretika, dan
berakhlak. Selain itu, Indonesia juga mengaku sebagai Negara yang beragama.
Namun yang menjadi pertanyaan saat ini adalah mengapa pada saat ini banyak
orang terutama para pelajar yang tidak memiliki moral.
Maka terlihat
bahwa bangsa ini semakin terjangkiti virus globalisasi yang membawa dampak
buruk bagi moral masyarakat Indonesia, khususnya pelajar yang menimbulkan suatu
opini apakah yang salah dari sistem pendidikan Indonesia hingga krisis moral
terjadi secara berkepanjangan.
2.3 Berkembangnya Globalisasi
Ciri – Ciri
Globalisasi Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya
fenomena globalisasi di dunia salah satunya adalah perubahan dalam Konsep ruang
dan waktu.
Perkembangan barang-barang
seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa
komunikasi global terjadi demikian cepatnya. Pasar dan produksi ekonomi di
negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari
pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan
multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa, Seperti
televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional. saat
ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai
hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion,
literatur, dan makanan. Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang
lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.
2.4 Dampak Globalisasi Bagi Moral
Pengertian Moral
Moral berasal dari Bahasa Latin yaitu Moralitas adalah istilah manusia menyebut
kemanusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif.
Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan
tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal
mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Ada beberapa pengertian Moral, berikut
Pengertian Moral menurut Para Ahli : W.J.S.Poerdarminta menyatakan bahwa moral
merupakan ajaran tentang baik buruknya perbuatan dan kelakuan. Dewey mengatakan
bahwa moral sebagai hal-hal yang berhubungan dengan nilai- nilai susila. Baron
dkk. Mengatakan bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan
tindakan yang membicarakan salah atau benar. Magnis-Susino mengatakan bahwa
moral selalu mengacu pada baik buruknya manusia sebagai manusia, sehingga
bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya
sebagai manusia. Secara umum, Moral dapat diartikan sebagai batasan pikiran,
prinsip, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia tentang nilai-nilai baik dan
buruk atau benar dan salah. Moral merupakan suatu tata nilai yang mengajak
seorang manusia untuk berperilaku positif dan negatif.
tidak merugikan
orang lain. Seseorang dikatakan telah bermoral jika ucapan, prinsip, dan
perilaku dirinya dinilai baik dan benar oleh standar-standar nilai yang berlaku
di lingkungan masyarakatnya. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang
berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa
melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai
implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari
sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-
sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh
sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara
utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat.
Moral merupakan perbuatan / tingkah laku / ucapan seseorang dalam berinteraksi
dengan manusia. Apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa
yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan
lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik,
begitu juga sebaliknya. Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Moral juga
dapat diartikan sebagai sikap, perilaku, tindakan, kelakuan yang dilakukan
seseorang yang terkait dengan nilai – nilai baik dan buruk.
Pengaruh Yang
Ditimbulkan Globalisasi Terhadap Moral Suatu Bangsa Arus modernisasi dan
globalisasi itu mempunyai banyak nilai positif dan negatifnya: Segi positifnya,
informasi yang didapat menjadi lebih cepat dan akurat daripada masa-masa
sebelumnya yang kebanyakan masih menggunakan cara-cara manual. Selain itu,
semua orang juga merasa senang apabila ikut serta terhadap perkembangan zaman.
Mereka tidak mau dikatakan ketinggalan zaman. Malah orang yang tidak mengikuti
era globalisasi ini seringkali diejek oleh teman sejawatnya. Sisi negatif dari
arus modernisasi dan globalisasi pun juga tak kalah sedikitnya, fasilitas-
fasilitas yang ada di era globalisasi ini sebagian besar disalahgunakan oleh
para penggunanya. Contoh, internet sekarang ini sering dijadikan arena untuk
mencari situs-situs porno, handphone digunakan untuk menyimpan data-data yang
tidak mendidik moral seseorang, dan lain-lain. Pengaruh globalisasi terhadap
remaja itu begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak
remaja kehilangan moral dan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini
ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari
remaja sekarang. Dari cara berpakaian banyak remaja - remaja kita yang
berdandan seperti selebritis atau lebih banyak meniru artis-artis yang sering
mereka lihat ditelevisi. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang
memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan yang cenderung
mengacu pada kehidupan Negara Barat atau Luar Negeri. Kuatnya pengaruh tontonan
televisi terhadap perilaku seseorang telah dibuktikan lewat penelitian ilmiah.
Seperti diungkapkan oleh American Psychological Association (APA)
Pada tahun 1995
bahwa tayangan yang bermutu akan memengaruhi seseorang untuk berperilaku baik.
Sedangkan tayangan yang kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk
berperilaku buruk. Bahkan, penelitian itu menyimpulkan bahwa hampir semua
perilaku buruk yang dilakukan orang adalah hasil dari pelajaran yang mereka
terima dari media semenjak usia anak-anak. Permasalahan moral sebenarnya sudah
ada sebelum Globalisasi muncul. Namun kemunculan Globalisasi dapat menjadi
faktor yang mempengaruhi perkembangan moral. Dengan adanya Globalisasi,
perkembangan moral dapat menjadi lebih baik karena informasi dapat dilakukan
dengan cepat. Ajaran agama, motivasi, pendidikan, dan pengetahuan dapat diakses
oleh siapa saja dengan cepat. Adapun juga pengaruh dari globalisasi menjadi
dampak yang buruk bagi masyarakat indonesia pada umumnya. Jika menggunakan
produk globalisasi dengan perbuatan yang tercela malah menjadi masalah dan atau
memanfaatkan untuk perbuatan yang dilarang oleh agama maupun negara. Pemahaman
dan pengamalan ajaran agama semenjak dini pun diyakini dapat menanggulangi
permasalahan di atas. Pengetahuan agama akan membentengi seseorang dari
perilaku amoral, kriminal, dan budaya-budaya asing yang negatif.
2.5 Menanggulangi Dampak Globalisasi Bagi Moral Bangsa
Dampak Buruk Globalisasi Terhadap Moral Bangsa
Indonesia Contoh Kasus Source:
news.detik.com/berita/2896968/heboh-pesta-bikini-anak-sma-moral-siswa-harus-ditingkatkan
Jakarta - Kabar adanya pesta usai Ujian Nasional (UN) yang bertema bikini
menimbulkan reaksi keras dari berbagai kalangan. Peran semua pihak,
terutama keluarga menjadi hal utama untuk menumbuhkan nilai moral kepada
generasi muda agar hal yang serupa tak kembali terulang. "Peran orang tua,
guru dan tentunya pemerintah. Pemerintah tidak boleh hanya prihatin, karena
mereka punya power untuk menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh
dilakukan," ujar sosiolog Musni Umar saat berbincang dengan detikcom,
Kamis (23/4/2015). Selain peran orangtua dan pemerintah, peran sekolah dalam
menanamkan nilai moral kepada siswa juga penting. Terlebih ketika tak ada lagi
mata pejalaran moral yang diajarkan, maka peran aktif seorang guru penting
dilakukan agar budaya global tak mengakar dan menghilangkan budaya bangsa.
"Pertama mata pelajaran moral kurang, kedua gurunya tidak memanfaatkan
kesempatan ketika berhadapan dengan siswa untuk menanamkan nilai-nilai moral.
Kalau untuk mata pelajaran, di negara kita mata pelajarannya terlalu banyak,
baik di SD, SMP, termasuk perguruan tinggi," jelasnya. "Pelajaran
moral tidak ada dan guru tidak dilatih dalam mengajar. Tentu berbicara mengenai
pentingnya siswa itu mengembalikan cara berpikir dia sesuai mindset sebagai
suatu bangsa," sambung Musni. Melakukan konstruksi kasus dalam masyarakat
dan mengajarkannya kepada siswa dirasa dapat membantu mereka untuk memahami
pentingnya memiliki nilai moral untuk mempertahankan budaya Indonesia yang
bersih dari pengaruh asing. "Yang bisa dilakukan itu dengan memanfaatkan
peran seorang guru ketika berada di depan siswa untuk mengajarkan akhlak mulia,
budaya, pancasila dan itu harus ditanamkan kepada mereka. Cara mengajarinya,
bisa dengan menceritakan beberapa kasus di masyarakat, lalu dikonstruksi dan
disampaikan kepada mereka. Hal itu kita bawa ke dalam kehidupan untuk mencari
solusi dari beragam kasus tersebut," kata dia. "Kuncinya
mengembalikan lagi ke bangsa dan negara, berkepribadian dalam budaya dan
kepribadian itu harus tercermin dari budaya kita," tutup Musni. Dari kasus
di atas jelas budaya – budaya semacam ini perlahan merusak moral generasi
bangsa kita. Dan parahnya menurut berita yang beredar acara – acara semacam ini
telah di lakukan di tahun – tahun sebelumya hanya saja tidak tercium oleh media
masa. Bila hal ini terus di biarkan. Apa jadinya moral generasi bangsa kita?
Nilai – nilai luhur nenek moyang kita perlahan tergerus oleh hal – hal semacam
ini. Pertanyaanya bagaimana penyebab budaya semacam ini bisa masuk di
Indonesia? Berikut beberapa Penyebab rusaknya moral bangsa kita, antara lain:
1. Pengaruh
Budaya Luar (globalisasi), adalah hal yang mungkin menjadi penyebab rusaknya
moral bangsa Indonesia, tak dapat dipungkiri pengaruh budaya barat merusak
moral bangsa ini. Sebagai contoh free sex dan pergaulan bebas masuk ke
Indonesia dari merangseknya budaya barat ke negeri ini.
2. Kurangnya
Agama, Ini juga bisa menjadi sebab rusaknya bangsa Indonesia. Jika agama yang
kita miliki kuat maka tentu saja kita akan takut berbuat dosa. Sehingga tidak
akan ada kejahatan atau paling tidak kejahatan akan sangat minim dalam negeri
ini. Contohya saja jika para pejabat negeri ini memiliki landasan agama yang
baik, maka apa berani mereka memakan uang rakyat (Korupsi).
3. Salahnya
Sistem Pendidikan Indonesia, Ini juga bisa menjadi penyebab rusaknya moral di
Indonesia. Sebagaimana kita tahu anak – anak menghabiskan banyak waktunya di
dalam sekolah. Sayangnya sekolah sekarang hanya identik untuk mencari ilmu
duniawi saja dan jarang ada yang sekolah yang juga mengajarkan aspek – aspek
moral, Jikalau ada, porsinya sangat minim.
Oleh karena itu,
pendidikan karakter bangsa bagi generasi muda tentu sangat diperlukan, sehingga
ke depan para pemuda memiliki tanggung jawab moral untuk membela dan membangun
Indonesia yang lebih baik. Pentingnya Nilai – Nilai Moral Suatu Bangsa Terhadap
Era Globalisasi Globalisasi memiliki sisi positif dan negatif terhadap
pendidikan moral. Disatu sisi, arus globalisasi merupakan harapan yang akan
memberikan berbagai kemudahan bagi kehidupan manusia. Namun disisi lain, era
globalisasi juga memberikan dampak yang sangat merugikan. Dengan perkembangan
sektor teknologi dan informasi, manusia tidak lagi harus menunggu waktu, untuk
bisa mengakses berbagai informasi dari seluruh belahan dunia, bahkan yang
paling pelosok sekalipun. Kondisi ini menjadikan tidak adanya sekat serta batas
yang mampu untuk menghalangi proses transformasi kebudayaan. John Neisbitt,
menyebutkan kondisi seperti ini sebagai “gaya hidup global”, yang ditandai
dengan berbaurnya budaya antar bangsa, seperti terbangunnya tata cara hidup
yang hampir sama, kegemaran yang sama, serta kecenderungan yang sama pula, baik
dalam hal makanan, pakaian, hiburan dan setiap aspek kehidupan manusia lainnya.
Kenyataan semacam ini, akan membawa implikasi pada hilangnya kepribadian asli,
serta terpoles oleh budaya yang cenderung lebih berkuasa. Dalam konteks ini,
kebudayaan barat yang telah melangkah jauh dalam bidang industri serta
teknologi informasi, menjadi satu-satunya pilihan, sebagai standar modernisasi,
yang akan diikuti dan dijadikan kiblat oleh setiap individu. Globalisasi
menyebabkan perubahan sosial yang memunculkan nilai-nilai yang bersifat
pragmatis, materialistis dan individualistik. Dengan demikian, pendidikan nilai
- nilai moral dan agama, menjadi sangat mutlak bagi terbangunnya tata kehidupan
masyarakat yang damai, adil makmur dan bermartabat. Terlebih lagi, dalam
konteks kehidupan global yang semakin transparan dan penuh kompetisi,
nilai-nilai agama dan moralitas merupakan benteng agar setiap individu tidak
terjerumus dalam praktik kesewenag-wenangan dan ketidak adilan. 2.7 Mencegah
Dampak / Pengaruh Globalisasi Dengan adanya globalisasi, budaya negeri sendiri
juga dapat bergeser karena dominasi pengaruh budaya luar yang berakibat munculnya
disorientasi, dislokasi atau krisis sosial-budaya dalam masyarakat. Pengaruh
globalisasi dalam bidang budaya terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh
globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kehilangan kepribadian diri
sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul
dalam kehidupan sehari-hari anak muda sekarang seperti kekerasan, seks bebas,
konsumsi minuman keras, dan narkoba. Jika hal tersebut terus berlangsung maka
dapat menyebabkan lunturnya nilai moral suatu bangsa. Sebenarnya, kita tidak
perlu khawatir dalam menghadapi globalisasi karena dampak globalisasi yang
tidak diinginkan dapat dicegah dan diatasi. Langkah-langkah yang dapat
dilakukan untuk mencegah dampak negatif globalisasi adalah bersikap waspada dan
selektif terhadap segala macam arus globalisasi tersebut. Sikap selektif dapat
diartikan sebagai sikap untuk memiliki dan menentukan alternatif yang terbaik
bagi kehidupan diri, lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara melalui proses
yang berhati-hati, rasional, dan normatif terhadap segala macam pengaruh luar
sehingga apa yang telah menjadi pilihan dapat diterima oleh semua pihak dengan
penuh tanggung jawab. Untuk mengatasi globalisasi juga dapat dilakukan dengan
menumbuhkan kembali rasa nasionalisme bangsa agar masyarakat dapat mencintai
negaranya. Langkah-langkah dapat dilakukan antara lain yaitu:
1. Menumbuhkan semangat
nasionalisme yang tangguh, semangat mencintai produk dalam negeri.
2. Menanamkan dan mengamalkan
nilai-nilai Pancasila.
3. Menanamkan dan melaksanakan
ajaran agama.
4. Mewujudkan supremasi hukum,
menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar-benarnya dan seadil-adilnya.
5. Selektif terhadap pengaruh
globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa. Dalam
bidang teknologi dan informasi, langkah yang dapat ditempuh adalah dengan
menyaring informasi yang baik dan bermanfaat. Selain itu juga diperlukan adanya
pengawasan dari semua pihak agar informasi yang beredar di masyarakat tidak
membawa dampak negatif terutama untuk kalangan muda. Masyarakat juga harus
berusaha mengikuti perkembangan IPTEK agar tidak tertinggal dari negara lain
dan tidak mudah dibodohi oleh informasi-informasi yang masuk dari luar.
Langkah-langkah
di atas tidak dapat dilaksanakan jika tidak ada peran aktif dari semua komponen
negara baik pemerintah maupun masyarakat. Untuk itu diperlukan kerjasama yang
baik agar hasilnya dapat maksimal. Kerjasama itu tidak lepas dari persatuan dan
kesatuan bangsa sehingga pancasila sebagai ideologi negara harus dihidupkan
kembali.
BAB 3
3.1 Kesimpulan
Dapat
kita ketahui bahwa remaja memiliki potensi yang besar, tantangan dan juga
tanggung jawab di jamannya. Tantangan tersebut adalah menjaga generasinya tetap
baik dan lebih baik dari yang dulu. Pelajar sebagai agent of change dituntut
untuk mengambil peran didalam tantangan yang berupa perubahan sosial. Maka dari
itu diperlukan strategi penanaman nilai etika, moral, dan akhlak di kalangan
remaja.
Penanaman nilai
etika, moral, dan akhlak tidak hanya ditanamkan di lingkungan keluarga saja
namun diperlukan kerja sama dari pihak sekolah, masyarakat dan pemerintah.
Keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama dimana seorang anak mendapatkan
bekal pendidikan etika, moral, dan akhlak. Peranan orang tua sangat penting
dalam proses perkembangan moral anak. Sejak dini orang tua harus mampu
memberikan arahan, bimbingan, serta teladan kepada anak. Melalui pengajaran
akhlak seperti dididik dan diberikan
pengertian tentang perbuatan baik dan buruk, menanamkan nilai-nilai
keagamaan, dan tata krama. Orang tua
harus selalu mengawasi segala perilaku dan perkembangan anaknya terutama ketika
anak menginjak usia remaja, karena di usia ini terjadi ketidak seimbangan emosi
sehingga mudah terbawa ke hal-hal yang buruk.
“Karena pribadi yang terdidik secara moral
adalah pribadi-pribadi yang telah belajar dan siap untuk bertindak dengan
cara-cara tertentu, sekaligus sadar dan bangga akan segala nilai dan
tindakan-tindakannya” (Cheppy Haricahyono, 1995:360)
DAFTAR PUSTAKA
Haricahyono, Cheppy.
1995. Dimensi-Dimensi Pendidikan Moral. Semarang: IKIP Semarang Press
Isjoni. 2006.
Pendidikan Sebagai Investasi Masa Depan. Jakarta: Buku Obor.
Setiadi, Elly M.
2011. Pengantar Soiologi. Jakarta: Prenada Media Group
Noor, Rohinah M.
2011. Pendidikan Karakter Berbasis Karakter : Solusi Pendidikan Moral Yang
Efektif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Wisok, Yohanes P.
2009. Etika: Mengalami Krisis, Membangun
Pendirian. Bandung: Jendela Mas Pustaka


