Gunadarma

Uug

Sabtu, 14 November 2015

DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP MORAL GENERASI MUDA

MAKALAH

DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP MORAL GENERASI MUDA





Penyusun         :

Nama             : Hisyam Sukri Ariefian
NPM              : 17315830
Fakultas         : Teknik Sipil dan Perencanaan
Jurusan          : Teknik Sipil
Dosen                        : Emilianshah Banowo



JURUSAN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015









PRAKATA

            Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul“ DAMPAK GLOBALSASI TERHADAP MORAL GENERASI MUDA”.

Sekiranya bahwa selesainya karya tulis ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasi kepada:
-     BapakEmilianshah Banowo;
      Selaku Dosen pengajar Ilmu Sosial Dasar.

Makalah ini ditulis berdasarkan dampak globalisasi terhadap pandangan hidup generasi muda. Upaya telah dilakukan penulis untuk mendapatkan hasil terbaik dalam makalah ini. Penulis menyadari bahwa karya tulis ini tak lepas dari kesalahan dan kekurangan dikarenakan kemampuan penulis yang terbatas. Oleh karena itu penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca guna kesempurnaan karya tulis ini. Penulis berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat serta menambah pengetahuan bagi pembaca.










Depok,19 Oktober 2015





Hisyam Sukri Ariefian
                                               




DAFTAR ISI
Kata Pengantar .......................................................................................................i
Daftar Isi ................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah ..................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan ..............................................................................................2
1.4 Metode Penulisan .............................................................................................2
1.5 Sistematika Penulisan Masalah ........................................................................2


BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................3
2.1 Pengertian Globalisasi ......................................................................................3
2.2 Dampak Globalisasi .........................................................................................3
2.3 Berkembangnya Globalisasi ............................................................................7
2.4 Dampak Globalisasi Bagi Moral .....................................................................7
2.5 Menanggulangi Dampak Globalisasi Bagi Moral Bangsa  ..............................8

BAB III PENUTUP ..............................................................................................11
3.1 Kesimpulan .......................................................................................................11
3.2 Daftar pustaka ...................................................................................................12






                                                                                                                       



BAB 1

PENDAHULUAN.

1.1. Latar Belakang Masalah

Permasalahan Dewasa ini, perubahan zaman membawa dampak bagi seluruh Negara. Dengan adanya perubahan zaman, pola pikir manusiapun ikut berubah. Perubahan zaman membawa dampak positif maupun negatif. Perubahan ini terjadi karena adanya perubahan Globalisasi. Globalisasi adalah kecenderungan umum terintegrasinya kehidupan masyarakat domestik/lokal ke dalam komunitas global di berbagai bidang. Akibat adanya Era Globalisasi membawa pengaruh kepada seluruh aspek, baik dari segi Pendidikan, Ekonomi, Sosial, IPTEK, bahkan moral suatu bangsa pun mengalami perubahan khususnya pada remaja. Krisis moral anak remajapun sangat memprihatinkan. Moral atau perilaku anak remaja di Indonesia mengalami perubahan karena adanya pengaruh dari Negara luar yang dibawa ke Indonesia. Itu semua langsung diserap begitu saja tanpa memikirkan atau memilah perilaku yang seharusnya di ambil oleh anak remaja di Indonesia. Dahulu, moral anak Indonesia bisa diacungkan jempol. Dilihat dari tatakramanya, sopan santun dan tutur bahasanya yang baik. Tetapi kini, moral atau perilaku anak remaja di Indonesia sangat memprihatinkan. Banyak sekali perilaku-perilaku menyimpang yang kian marak terjadi di Indonesia. Penyimpangan-penyimpangan tersebut sebagian besar dilakukan atau dialami oleh anak remaja. Penyimpangan yang dilakukan biasaya seperti, free sex, narkoba, dan lain-lain. Kejadian itu sangat memprihatinkan bagi bangsa Indonesia karena anak remaja itu merupakan generasi penerus bangsa.


1.2. Rumusan Masalah

Dalam penulisan makalah ini kami membuat beberapa rumusan masalah yang menjadi pokok pembahasan. Rumusan masalah dapat membatasi pembahasan agar tidak melebar. Adapun Rumusan masalah yang kami tetapkan adalah:

1. Bagaimana globalisasi dapat menyebabkan dampak bagi moral generasi muda?

2. Latar belakang apa saja yang menyebabkan perubahan moral bagi generasi muda?

3. Seberapa besar perubahan yang terjadi karena adanya globalisasi bagi generasi muda?

4. Bagaimana cara mengatasi adanya dampak buruk globalisasi bagi generasi muda?


1.3. Tujuan penulisan

Adapun tujuan yang ingin di capai dari penulisan karya ilmiah ini adalah untuk menjawab rumusan masalah diatas, yakni:

1. Menjelaskan apa itu Globalisasi;

2. Mengetahui latar belakang yang menyebabkan adanya dampak Globalisasi bagi Generasi Muda;

3. Menjelaskan dampak Globalisasi bagi Generasi Muda;

4.Menjelaskan cara mengatasi dampak Negatif Globalisasi bagi Generasi Muda.



1.4. Metode Penulisan

Penulisan dilakukan dengan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dengan bahasan  sumber tulisan; Pengkritikan terhadap kebenaran sumber tersebut baik kritik eksternal maupun kritik internal; Menginterpretasikan sumber-sumber yang didapat, dan menyusunya dalam sebuah historiografi. Kami berusaha menampilkan sebuah kajian sejarah lokal yang kritis dengan interpretasi yang mendalam.



1.5. Sistematika Penulisan Makalah

Untuk menguraikan isi dari makalah ini, kami membuat sistematika penulisan untuk mempermudah pembaca dalam memahami isi makalah. Dimulai dengan kata pengantar kemudian dilanjutkan dengan Bab 1 Pendahuluan, Bab 2 Pembahasan, Bab 3 Kesimpulan dan Saran, dan terahir Daftar pustaka.









BAB 2

Pembahasan.

2.1 Pengertian Globalisasi

Pengertian Globalisasi Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang artinya adalah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat. Globalisasi adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan mempengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara. Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.
Beberapa pengertian globalisasi:
a) Globalisasi adalah sebuah perubahan sosial berupa bertambahnya keterkaitan diantara elemen-elemen yang terjadi akibat perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang memfasilitasi pertukaran budaya dan ekonomi internasional.
b) Globalisasi juga bisa diartikan proses dimana berbagai peristiwa, keputusan dan kegiatan di belahan dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di belahan dunia yang lain.
c) Selain itu globalisasi juga berarti meningkatnya saling keterkaitan antara berbagai belahan dunia melalui terciptanya proses ekonomi, lingkungan, politik dan pertukaran kebudayaan. Jadi globalisasi mencakup semua bidang seperti proses perubahan sosial, arus informasi, aliran barang, jasa dan uang serta pertukaran budaya.

2.2 Dampak Globalisasi

Arus globalisasi yang sedang melanda seluruh penjuru dunia terutama Indonesia, telah memberikan banyak perubahan terhadap kehidupan masyarakat. Globalisasi dapat diartikan sebagai proses penyebaran unsur-unsur baru khususnya yang menyangkut informasi secara mendunia melalui media cetak maupun elektronik.
Globalisasi yang memiliki dua sisi mata uang (positif dan negatif) juga menjadi penyebab infiltrasi budaya tidak terbendung. Budaya-budaya sedemikian cepat dan mudah saling bertukar tempat dan saling memengaruhi satu sama lain. Termasuk budaya hidup barat yang liberal dan bebas merasuki budaya ketimuran yang lebih cenderung teratur dan terpelihara oleh nilai-nilai agama. Dampak negatif dari arus globalisasi yang terlihat miris adalah perubahan yang cenderung mengarah pada krisis moral dan akhlak, sehingga menimbulkan sejumlah permasalahan kompleks melanda negeri ini akibat moral. Dapat di contohkan mulai dari hal kecil seperti anak-anak sekolah yang membolos pada jam pelajaran, sampai dengan korupsi. Selain itu terdapat pula tindakan-tindakan kriminal yang setiap hari biasa kita lihat. Hal ini membuktikan bahwa krisis moral telah dan sedang melanda bangsa ini. Kita sebagai mahasiswa harus turut andil dalam memahami gejolak-gejolak globalisasi yang sudah melanda pada saat ini.
Dalam buku Dimensi-Dimensi Pendidikan moral yang ditulis oleh Cheppy Haricahyono, definisi dari moral adalah sesuatu yang berkaitan, atau ada hubungannya dengan kemampuan menentukan benar salahnya suatu tingkah laku. Sehingga moral merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan untuk menentukan baik buruknya sikap atau pun perbuatan yang kita lakukan.
Pelajar pada era globalisasi sekarang ini seperti kehilangan arah dan tujuan. Mereka terjebak pada lingkaran dampak globalisasi yang lebih mengedepankan corak hedonisme dan apatisme (acuh tak acuh, tak peduli). Generasi muda saat ini juga bersifat anarkisme dalam menyuarakan kepentingan rakyat, bahkan banyak masyarakat yang menganggap generasi muda sekarang disibukkan oleh tawuran dan bentrokan. Sehingga pada akhirnya keamanan masyarakat menjadi terganggu dan kehidupan pembelajaran di lembaga pendidkian atau sekolah tidak kondusif yang menimbulkan adanya kekhawatiran adanya krisis moral generasi muda yang seharusnya menjadi agen perubahan sosial menjadi lebih baik namun terhalang oleh kebahagiaan dunia semata.
Baik media cetak maupun elektronik, yang biasa kita baca dan saksikan setiap hari, semuanya menyajikan bacaan dan tontonan yang tak jarang kurang memperhatikan moralitas, sopan santun, dan etika. Sehingga secara langsung para pembaca dan pemirsa dapat terpengaruh moral dan tingkah lakunya. Terutama bila para pembaca dan pemirsa tersebut adalah remaja (pelajar) yang belum memilki bekal pengetahuan agama yang kuat. Tak hanya itu saja, dari segi ilmu pengetahuan kita memang memperoleh banyak manfaat dari era globalisasi ini. Namun, dari segi kebudayaan, kita lebih mendapatkan banyak pengaruh negatif.
Jika dilihat dari segi sistem pendidikan yang ada di Inonesia, sistem pendidikan kita selama ini masih lebih menitikberatkan dan menjejalkan pada penguasaan kognitif akademis. Sementara afektif dan psikomotorik seolah-olah dinomorduakan. Sehingga yang terjadi adalah terbentuknya pribadi yang miskin tata krama, sopan santun, dan etika moral.
            Sedikit melihat kehidupan Indonesia tempo dulu. Sejak dulu, Indonesia sudah dikenal di seluruh penjuru dunia sebagai negeri yang ramah, sopan, dan berbudi. Karena hal itu lah banyak orang-orang asing kagum dan tertarik untuk berkunjung ke negara kita. Melihat kehidupan masyarakat pedesaan yang penuh ketenangan dan kedamaian menjadi cermin perilaku masyarkat Indonesia. Praktek tolong-menolong atau gotong-royong masih melekat kuat dalam diri dan kebiasaan masyarakat desa.
            Namun yang terjadi di Indonesia saat ini adalah generasi muda lebih tertarik akan adat kebiasaan negeri lain yang sebenarnya tidak sesuai dengan adat istiadat dan etika bangsa kita. Mereka menganggap lebih keren dan modern, baik itu gaya hidup maupun tingkah lakunya. Karena hal itulah, timbul pergaulan bebas di kalangan remaja (pelajar) dan mempengaruhi pikiran serta tingkah laku generasi muda. Merosotnya moral pada generasi muda membuat Indonesia akan semakin terpuruk dan memiliki masa depan yang suram.



Berikut ada beberapa fakta mengenai menurunnya etika dan moral pelajar/ mahasiswa yang di dapat dari berbagai masyarakat:
1.      15-20 persen dari remaja di Indonesia sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah
2.      15 juta remaja perempuan usia 15-19 tahun melahirkan setiap tahunnya
3.      Hingga Juni 2009 telah tercatat 6332 kasus AIDS dan 4527 kasus HIV positif di Indonesia, dengan 78,8 persen dari kasus-kasus baru yang terlaporkan berasal dari usia 15-29 tahun
4.      Diperkirakan terdapat sekitar 270.000 pekerja seks perempuan yang ada di Indonesia, di mana lebih dari 60 persen adalah berusia 24 tahun atau kurang, dan 30 persen berusia 15 tahun atau kurang
5.      Setiap tahun ada sekitar 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia di mana 20 persen diantaranya adalah aborsi yang dilakukan oleh remaja
6.      Berdasarkan data kepolisian, setiap tahun penggunaan narkoba selalu naik. Korban paling banyak berasal dari kelompok remaja, sekitar 14 ribu orang atau 19% dari keseluruhan pengguna.
7.      Jumlah kasus kriminal yang dilakukan anak-anak dan remaja tercatat 1.150 sementara pada 2008 hanya 713 kasus. Ini berarti ada peningkatan 437 kasus. Jenis kasus kejahatan itu antara lain pencurian, narkoba, pembunuhan dan pemerkosaan.
8.      Sejak Januari hingga Oktober 2009, Kriminalitas yang dilakukan oleh remaja meningkat 35% dibandingkan tahun sebelumnya, Pelakunya rata-rata berusia 13 hingga 17 tahun.
Sumber: Warta warga Universitas Gunadarma Jakarta
            Dari beberapa fenomena yang telah dipaparkan di atas, jelas bahwa kondisi pelajar di Indonesia saat ini terlihat bahwa semakin bobroknya etika, moral, dan akhlak bangsa Indonesia.
Selain itu, dapat pula kita ketahui bahwa terdapat beberapa faktor dari adanya globalisasi, antara lain adalah:
1.Masuknya pola pergaulan budaya asing atau budaya barat, seperti anak-anak sekolah yang bermain sampai malam (misalnya ke café) tanpa sepengetahuan orang tuanya.
2.Perkembangan teknologi yang tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas budi pekerti pelajar. Padahal perkembangan teknologi memang sangat dibutuhkan bangsa ini untuk dapat terus bersaing di era globalisasi
3.Derasnya arus media komunikasi yang masuk ke Indonesia. Bisa dicontohkan seperti handphone yang dilengkapi dengan fitur-fitur yang canggih seperti kamera, video, internet, dan juga yang sedang menjadi trend para pelajar saat ini adalah BBM, line, dan lain sebagainya.
4.Cara berpakaian anak muda dalam hal ini atau pelajar yang sekarang tidak lagi menjunjung tinggi nilai kesopanan, kebanyakan mereka berpakaian secara minim dan ketat. Dapat dicontohkan saja seragam sekolah yang mereka pakai ketika di sekolah. Pakaian seragam yang harusnya formal, kadang dibuat “neko-neko”, seperti baju yang dibuat ketat, dan rok yang dibuat lebih pendek.
Dari faktor diatas dapat kita ketahui bahwa kebudayaan barat mudah sekali keluar masuk ke Indonesia secara bebas. Sehingga menyebabkan kebudayaan yang ada di Indonesia semakin luntur, dan nilai-nilai Pancasila tidak lagi dijadikan sebagai pedoman hidup generasi muda Indonesia.
Krisis moral terjadi juga karena nilai-nilai Pancasila sekarang ini mulai luntur dan tidak lagi diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Pancasila yang seharusnya sebagai pedoman hidup dan falsafah bangsa kini hanya sebagai semboyan belaka. Dalam bertindak, kebanyakan orang sudah tidak mengindahkan asas Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan. Jati diri bangsa sekarang ini telah luntur, sehingga timbul perilaku amoral yang merugikan orang lain dan membuat semakin terpuruknya negeri ini.
Indonesia pada saat ini telah dihadapkan pada permasalah krisis moralitas. Permasalahan ini sudah menjalar sampai pada semua aspek kehidupan. Beberapa krisis moral yang dapat kita lihat diantaranya adalah dari sistem pendidikan kita, ketidakpedulian dengan sesama, mulai hilangnya etika dan akhlak, kenakalan-kenakalan remaja, tayangan-tayangan di televisi yang kurang mendidik, perilaku para pejabat kita yang tidak amanah dan masih banyak lagi krisis moralitas yang lain.
Kebiasaan anak jaman sekarang yang biasa kita lihat adalah terjadinya tawuran antar sekolah, konflik antar anak sekolah yang mengakibatkan perkelahian dan pembunuhan, kenakalan remaja yang berlebihan, siswa-siswi yang dianggap tidak sopan, tidak bertanggung jawab terhadap tindakannya, juga banyak siswa sekolah (pelajar) yang menjadi korban narkoba. Bahkan kebiasaan tawuran pun sekarang menjadi budaya, tak jarang dari mereka melakukan tawuran hanya untuk membuat sensasi, onar, dan kisruh tanpa alasan dan masalah yang jelas. Kenakalan remaja seperti free sex, pergaulan bebas, dan pemakaian narkoba sudah menjalar hingga ke pelosok desa. Belum lagi, maraknya video perzinaaan yang semakin mudah diakses dan didapatkan. Dengan hanya meroggoh uang yang tak seberapa, orang dapat mengunduhnya dari situs-situs di internet.  Mau menjadi apa bangsa ini apabila para generasi mudanya saja seperti itu. Sehingga sangat jelas sekali bahwa arus globalisasi dari teknologi yang semakin canggih tidak disaring dengan baik menimbulkan dampak yang sangat negatif bagi para pelajar, karena mudahnya informasi yang mereka akses.
Tidak hanya itu, tayangan-tayangan di televisi sekarang ini banyak yang tidak mendidik. Contohnya sinetron, kebanyakan sinetron ditonton oleh para pelajar (remaja). Sinetron menyuguhkan cerita yang berbau percintaan, pertengkaran, penganiayaan, pergaulan bebas, mode trend gaul masa kini dan lain-lain. Dan parahnya hal tersebut ditiru oleh para remaja atau pelajar, seperti memakai rok diatas lutut ke sekolah, pakaian yang ketat, merokok, dan lainnya. Budaya kebaratan semakin membawa dampak buruk bagi para remaja khususnya pelajar, dimana akibatnya adalah mereka menjadi bersikap acuh tak acuh dengan perkembangan bangsa ini.
Kebanyakan dari masyarakat Indonesia mempercayakan pendidikan sebagai salah satu lembaga yang mampu mencetak manusia atau generasi muda yang bermoral, beretika, dan berakhlak. Selain itu, Indonesia juga mengaku sebagai Negara yang beragama. Namun yang menjadi pertanyaan saat ini adalah mengapa pada saat ini banyak orang terutama para pelajar yang tidak memiliki moral.
Maka terlihat bahwa bangsa ini semakin terjangkiti virus globalisasi yang membawa dampak buruk bagi moral masyarakat Indonesia, khususnya pelajar yang menimbulkan suatu opini apakah yang salah dari sistem pendidikan Indonesia hingga krisis moral terjadi secara berkepanjangan.




2.3 Berkembangnya Globalisasi

Ciri – Ciri Globalisasi Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia salah satunya adalah perubahan dalam Konsep ruang dan waktu.
Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya. Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO). Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa, Seperti televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional. saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan. Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.

2.4 Dampak Globalisasi Bagi Moral
Pengertian Moral Moral berasal dari Bahasa Latin yaitu Moralitas adalah istilah manusia menyebut kemanusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Ada beberapa pengertian Moral, berikut Pengertian Moral menurut Para Ahli : W.J.S.Poerdarminta menyatakan bahwa moral merupakan ajaran tentang baik buruknya perbuatan dan kelakuan. Dewey mengatakan bahwa moral sebagai hal-hal yang berhubungan dengan nilai- nilai susila. Baron dkk. Mengatakan bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar. Magnis-Susino mengatakan bahwa moral selalu mengacu pada baik buruknya manusia sebagai manusia, sehingga bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Secara umum, Moral dapat diartikan sebagai batasan pikiran, prinsip, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia tentang nilai-nilai baik dan buruk atau benar dan salah. Moral merupakan suatu tata nilai yang mengajak seorang manusia untuk berperilaku positif dan negatif.
tidak merugikan orang lain. Seseorang dikatakan telah bermoral jika ucapan, prinsip, dan perilaku dirinya dinilai baik dan benar oleh standar-standar nilai yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah- sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral merupakan perbuatan / tingkah laku / ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia. Apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya. Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Moral juga dapat diartikan sebagai sikap, perilaku, tindakan, kelakuan yang dilakukan seseorang yang terkait dengan nilai – nilai baik dan buruk.

Pengaruh Yang Ditimbulkan Globalisasi Terhadap Moral Suatu Bangsa Arus modernisasi dan globalisasi itu mempunyai banyak nilai positif dan negatifnya: Segi positifnya, informasi yang didapat menjadi lebih cepat dan akurat daripada masa-masa sebelumnya yang kebanyakan masih menggunakan cara-cara manual. Selain itu, semua orang juga merasa senang apabila ikut serta terhadap perkembangan zaman. Mereka tidak mau dikatakan ketinggalan zaman. Malah orang yang tidak mengikuti era globalisasi ini seringkali diejek oleh teman sejawatnya. Sisi negatif dari arus modernisasi dan globalisasi pun juga tak kalah sedikitnya, fasilitas- fasilitas yang ada di era globalisasi ini sebagian besar disalahgunakan oleh para penggunanya. Contoh, internet sekarang ini sering dijadikan arena untuk mencari situs-situs porno, handphone digunakan untuk menyimpan data-data yang tidak mendidik moral seseorang, dan lain-lain. Pengaruh globalisasi terhadap remaja itu begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak remaja kehilangan moral dan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari remaja sekarang. Dari cara berpakaian banyak remaja - remaja kita yang berdandan seperti selebritis atau lebih banyak meniru artis-artis yang sering mereka lihat ditelevisi. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan yang cenderung mengacu pada kehidupan Negara Barat atau Luar Negeri. Kuatnya pengaruh tontonan televisi terhadap perilaku seseorang telah dibuktikan lewat penelitian ilmiah. Seperti diungkapkan oleh American Psychological Association (APA)
Pada tahun 1995 bahwa tayangan yang bermutu akan memengaruhi seseorang untuk berperilaku baik. Sedangkan tayangan yang kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk berperilaku buruk. Bahkan, penelitian itu menyimpulkan bahwa hampir semua perilaku buruk yang dilakukan orang adalah hasil dari pelajaran yang mereka terima dari media semenjak usia anak-anak. Permasalahan moral sebenarnya sudah ada sebelum Globalisasi muncul. Namun kemunculan Globalisasi dapat menjadi faktor yang mempengaruhi perkembangan moral. Dengan adanya Globalisasi, perkembangan moral dapat menjadi lebih baik karena informasi dapat dilakukan dengan cepat. Ajaran agama, motivasi, pendidikan, dan pengetahuan dapat diakses oleh siapa saja dengan cepat. Adapun juga pengaruh dari globalisasi menjadi dampak yang buruk bagi masyarakat indonesia pada umumnya. Jika menggunakan produk globalisasi dengan perbuatan yang tercela malah menjadi masalah dan atau memanfaatkan untuk perbuatan yang dilarang oleh agama maupun negara. Pemahaman dan pengamalan ajaran agama semenjak dini pun diyakini dapat menanggulangi permasalahan di atas. Pengetahuan agama akan membentengi seseorang dari perilaku amoral, kriminal, dan budaya-budaya asing yang negatif.

2.5 Menanggulangi Dampak Globalisasi Bagi Moral Bangsa

Dampak Buruk Globalisasi Terhadap Moral Bangsa Indonesia Contoh Kasus Source: news.detik.com/berita/2896968/heboh-pesta-bikini-anak-sma-moral-siswa-harus-ditingkatkan Jakarta - Kabar adanya pesta usai Ujian Nasional (UN) yang bertema bikini menimbulkan reaksi keras dari berbagai kalangan. Peran semua pihak, terutama keluarga menjadi hal utama untuk menumbuhkan nilai moral kepada generasi muda agar hal yang serupa tak kembali terulang. "Peran orang tua, guru dan tentunya pemerintah. Pemerintah tidak boleh hanya prihatin, karena mereka punya power untuk menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan," ujar sosiolog Musni Umar saat berbincang dengan detikcom, Kamis (23/4/2015). Selain peran orangtua dan pemerintah, peran sekolah dalam menanamkan nilai moral kepada siswa juga penting. Terlebih ketika tak ada lagi mata pejalaran moral yang diajarkan, maka peran aktif seorang guru penting dilakukan agar budaya global tak mengakar dan menghilangkan budaya bangsa. "Pertama mata pelajaran moral kurang, kedua gurunya tidak memanfaatkan kesempatan ketika berhadapan dengan siswa untuk menanamkan nilai-nilai moral. Kalau untuk mata pelajaran, di negara kita mata pelajarannya terlalu banyak, baik di SD, SMP, termasuk perguruan tinggi," jelasnya. "Pelajaran moral tidak ada dan guru tidak dilatih dalam mengajar. Tentu berbicara mengenai pentingnya siswa itu mengembalikan cara berpikir dia sesuai mindset sebagai suatu bangsa," sambung Musni. Melakukan konstruksi kasus dalam masyarakat dan mengajarkannya kepada siswa dirasa dapat membantu mereka untuk memahami pentingnya memiliki nilai moral untuk mempertahankan budaya Indonesia yang bersih dari pengaruh asing. "Yang bisa dilakukan itu dengan memanfaatkan peran seorang guru ketika berada di depan siswa untuk mengajarkan akhlak mulia, budaya, pancasila dan itu harus ditanamkan kepada mereka. Cara mengajarinya, bisa dengan menceritakan beberapa kasus di masyarakat, lalu dikonstruksi dan disampaikan kepada mereka. Hal itu kita bawa ke dalam kehidupan untuk mencari solusi dari beragam kasus tersebut," kata dia. "Kuncinya mengembalikan lagi ke bangsa dan negara, berkepribadian dalam budaya dan kepribadian itu harus tercermin dari budaya kita," tutup Musni. Dari kasus di atas jelas budaya – budaya semacam ini perlahan merusak moral generasi bangsa kita. Dan parahnya menurut berita yang beredar acara – acara semacam ini telah di lakukan di tahun – tahun sebelumya hanya saja tidak tercium oleh media masa. Bila hal ini terus di biarkan. Apa jadinya moral generasi bangsa kita? Nilai – nilai luhur nenek moyang kita perlahan tergerus oleh hal – hal semacam ini. Pertanyaanya bagaimana penyebab budaya semacam ini bisa masuk di Indonesia? Berikut beberapa Penyebab rusaknya moral bangsa kita, antara lain:
1. Pengaruh Budaya Luar (globalisasi), adalah hal yang mungkin menjadi penyebab rusaknya moral bangsa Indonesia, tak dapat dipungkiri pengaruh budaya barat merusak moral bangsa ini. Sebagai contoh free sex dan pergaulan bebas masuk ke Indonesia dari merangseknya budaya barat ke negeri ini.
2. Kurangnya Agama, Ini juga bisa menjadi sebab rusaknya bangsa Indonesia. Jika agama yang kita miliki kuat maka tentu saja kita akan takut berbuat dosa. Sehingga tidak akan ada kejahatan atau paling tidak kejahatan akan sangat minim dalam negeri ini. Contohya saja jika para pejabat negeri ini memiliki landasan agama yang baik, maka apa berani mereka memakan uang rakyat (Korupsi).
3. Salahnya Sistem Pendidikan Indonesia, Ini juga bisa menjadi penyebab rusaknya moral di Indonesia. Sebagaimana kita tahu anak – anak menghabiskan banyak waktunya di dalam sekolah. Sayangnya sekolah sekarang hanya identik untuk mencari ilmu duniawi saja dan jarang ada yang sekolah yang juga mengajarkan aspek – aspek moral, Jikalau ada, porsinya sangat minim.
Oleh karena itu, pendidikan karakter bangsa bagi generasi muda tentu sangat diperlukan, sehingga ke depan para pemuda memiliki tanggung jawab moral untuk membela dan membangun Indonesia yang lebih baik. Pentingnya Nilai – Nilai Moral Suatu Bangsa Terhadap Era Globalisasi Globalisasi memiliki sisi positif dan negatif terhadap pendidikan moral. Disatu sisi, arus globalisasi merupakan harapan yang akan memberikan berbagai kemudahan bagi kehidupan manusia. Namun disisi lain, era globalisasi juga memberikan dampak yang sangat merugikan. Dengan perkembangan sektor teknologi dan informasi, manusia tidak lagi harus menunggu waktu, untuk bisa mengakses berbagai informasi dari seluruh belahan dunia, bahkan yang paling pelosok sekalipun. Kondisi ini menjadikan tidak adanya sekat serta batas yang mampu untuk menghalangi proses transformasi kebudayaan. John Neisbitt, menyebutkan kondisi seperti ini sebagai “gaya hidup global”, yang ditandai dengan berbaurnya budaya antar bangsa, seperti terbangunnya tata cara hidup yang hampir sama, kegemaran yang sama, serta kecenderungan yang sama pula, baik dalam hal makanan, pakaian, hiburan dan setiap aspek kehidupan manusia lainnya. Kenyataan semacam ini, akan membawa implikasi pada hilangnya kepribadian asli, serta terpoles oleh budaya yang cenderung lebih berkuasa. Dalam konteks ini, kebudayaan barat yang telah melangkah jauh dalam bidang industri serta teknologi informasi, menjadi satu-satunya pilihan, sebagai standar modernisasi, yang akan diikuti dan dijadikan kiblat oleh setiap individu. Globalisasi menyebabkan perubahan sosial yang memunculkan nilai-nilai yang bersifat pragmatis, materialistis dan individualistik. Dengan demikian, pendidikan nilai - nilai moral dan agama, menjadi sangat mutlak bagi terbangunnya tata kehidupan masyarakat yang damai, adil makmur dan bermartabat. Terlebih lagi, dalam konteks kehidupan global yang semakin transparan dan penuh kompetisi, nilai-nilai agama dan moralitas merupakan benteng agar setiap individu tidak terjerumus dalam praktik kesewenag-wenangan dan ketidak adilan. 2.7 Mencegah Dampak / Pengaruh Globalisasi Dengan adanya globalisasi, budaya negeri sendiri juga dapat bergeser karena dominasi pengaruh budaya luar yang berakibat munculnya disorientasi, dislokasi atau krisis sosial-budaya dalam masyarakat. Pengaruh globalisasi dalam bidang budaya terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari-hari anak muda sekarang seperti kekerasan, seks bebas, konsumsi minuman keras, dan narkoba. Jika hal tersebut terus berlangsung maka dapat menyebabkan lunturnya nilai moral suatu bangsa. Sebenarnya, kita tidak perlu khawatir dalam menghadapi globalisasi karena dampak globalisasi yang tidak diinginkan dapat dicegah dan diatasi. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dampak negatif globalisasi adalah bersikap waspada dan selektif terhadap segala macam arus globalisasi tersebut. Sikap selektif dapat diartikan sebagai sikap untuk memiliki dan menentukan alternatif yang terbaik bagi kehidupan diri, lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara melalui proses yang berhati-hati, rasional, dan normatif terhadap segala macam pengaruh luar sehingga apa yang telah menjadi pilihan dapat diterima oleh semua pihak dengan penuh tanggung jawab. Untuk mengatasi globalisasi juga dapat dilakukan dengan menumbuhkan kembali rasa nasionalisme bangsa agar masyarakat dapat mencintai negaranya. Langkah-langkah dapat dilakukan antara lain yaitu:

1. Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, semangat mencintai produk dalam  negeri.
2. Menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila.
3. Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama.
4. Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar-benarnya dan seadil-adilnya.
5. Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa. Dalam bidang teknologi dan informasi, langkah yang dapat ditempuh adalah dengan menyaring informasi yang baik dan bermanfaat. Selain itu juga diperlukan adanya pengawasan dari semua pihak agar informasi yang beredar di masyarakat tidak membawa dampak negatif terutama untuk kalangan muda. Masyarakat juga harus berusaha mengikuti perkembangan IPTEK agar tidak tertinggal dari negara lain dan tidak mudah dibodohi oleh informasi-informasi yang masuk dari luar.
Langkah-langkah di atas tidak dapat dilaksanakan jika tidak ada peran aktif dari semua komponen negara baik pemerintah maupun masyarakat. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik agar hasilnya dapat maksimal. Kerjasama itu tidak lepas dari persatuan dan kesatuan bangsa sehingga pancasila sebagai ideologi negara harus dihidupkan kembali.


BAB 3

3.1 Kesimpulan

Dapat kita ketahui bahwa remaja memiliki potensi yang besar, tantangan dan juga tanggung jawab di jamannya. Tantangan tersebut adalah menjaga generasinya tetap baik dan lebih baik dari yang dulu. Pelajar sebagai agent of change dituntut untuk mengambil peran didalam tantangan yang berupa perubahan sosial. Maka dari itu diperlukan strategi penanaman nilai etika, moral, dan akhlak di kalangan remaja.

Penanaman nilai etika, moral, dan akhlak tidak hanya ditanamkan di lingkungan keluarga saja namun diperlukan kerja sama dari pihak sekolah, masyarakat dan pemerintah. Keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama dimana seorang anak mendapatkan bekal pendidikan etika, moral, dan akhlak. Peranan orang tua sangat penting dalam proses perkembangan moral anak. Sejak dini orang tua harus mampu memberikan arahan, bimbingan, serta teladan kepada anak. Melalui pengajaran akhlak seperti  dididik dan diberikan pengertian tentang perbuatan baik dan buruk, menanamkan nilai-nilai keagamaan,  dan tata krama. Orang tua harus selalu mengawasi segala perilaku dan perkembangan anaknya terutama ketika anak menginjak usia remaja, karena di usia ini terjadi ketidak seimbangan emosi sehingga mudah terbawa ke hal-hal yang buruk.


 “Karena pribadi yang terdidik secara moral adalah pribadi-pribadi yang telah belajar dan siap untuk bertindak dengan cara-cara tertentu, sekaligus sadar dan bangga akan segala nilai dan tindakan-tindakannya” (Cheppy Haricahyono, 1995:360)






DAFTAR PUSTAKA






Haricahyono, Cheppy. 1995. Dimensi-Dimensi Pendidikan Moral. Semarang: IKIP Semarang Press



Isjoni. 2006. Pendidikan Sebagai Investasi Masa Depan. Jakarta: Buku Obor.




Setiadi, Elly M. 2011. Pengantar Soiologi. Jakarta: Prenada Media Group



Noor, Rohinah M. 2011. Pendidikan Karakter Berbasis Karakter : Solusi Pendidikan Moral Yang Efektif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.




Wisok, Yohanes P. 2009. Etika:  Mengalami Krisis, Membangun Pendirian. Bandung: Jendela Mas Pustaka




KEBUDAYAAN LOKAL CIREBON

MAKALAH

KEBUDAYAAN LOKAL CIREBON





Penyusun         :

Nama             : Hisyam Sukri Ariefian
NPM              : 17315830
Fakultas         : Teknik Sipil dan Perencanaan
Jurusan          : Teknik Sipil
Dosen                        : Emilianshah Banowo



JURUSAN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015









PRAKATA

            Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul“ KEBUDAYAAN LOKAL CIREBON”.

Sekiranya bahwa selesainya karya tulis ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasi kepada:
-     BapakEmilianshah Banowo;
      Selaku Dosen pengajar Ilmu Sosial Dasar.

Makalah ini ditulis berdasarkan dampak globalisasi terhadap pandangan hidup generasi muda. Upaya telah dilakukan penulis untuk mendapatkan hasil terbaik dalam makalah ini. Penulis menyadari bahwa karya tulis ini tak lepas dari kesalahan dan kekurangan dikarenakan kemampuan penulis yang terbatas. Oleh karena itu penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca guna kesempurnaan karya tulis ini. Penulis berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat serta menambah pengetahuan bagi pembaca.











Depok,19 Oktober 2015





Hisyam Sukri Ariefian



DAFTAR ISI
Kata Pengantar ......................................................................................................i
Daftar Isi ...............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ...........................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan .............................................................................................2
1.4 Metode Penulisan ............................................................................................2
1.5 Sistematika Penulisan Masalah .......................................................................2

BAB II PEMBAHASAN .....................................................................................4
2.1 Sejarah Singkat Keraton Kasepuhan ...............................................................4
2.2 Awal Mula Kemunculan Maulid Nabi dan Penyebarannya di Jawa ...............5
2.3 Prosesi Panjang Jimat ......................................................................................7
2.4 Perubahan Panjang Jimat Dilihat dari Aspek Sosial dan Ekonomi .................10

BAB III PENUTUP...............................................................................................13
3.1 Kesimpulan .......................................................................................................13
3.2 Daftar pustaka ...................................................................................................14










BAB 1

PENDAHULUAN

 



1.1. Latar Belakang Masalah

Upacara Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon merupakan salah satu bentuk kebudayaan lokal yang ikut memperkaya kebudayaan Nasional Indonesia. Upacara Panjang Jimat sudah dilaksanakan sejak Keraton Kasepuhan didirikan dan terus berlangsung sampai sekarang.

Pelaksanaan Upacara ini memang terus berlangsung sampai sekarang, namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi nilai-nilai lama dalam upacara tersebut yang semula menjadi acuan masyarakat menjadi goyah akibat masuknya nilai-nilai baru dari luar. Upacara tradisional sebagai nilai-nilai lama masyarakat pendukungnya lambat laun akan terkikis oleh pengaruh modern dan nilai-nilai baru tersebut. Dengan kata lain mungkin upacara tradisional mengalami perubahan atau pergeseran akibat pengaruh modern tersebut.

Untuk mengkaji permasalahan tersebut sangat pening diadakan penelitian tentang perubahan atau pergeseran upacara tradisional yang terjadi masa sekarang. Sebelum kita mengkaji lebih dalam penyebab permasalahan tersebut, maka kita harus melihat seberapa jauh perubahan itu terjadi dengan menggunakan kajian historis. Setelah itu maka kita bisa mencari akar penyebab terjadinya perubahan tersebut dan menemukan kesimpulan akhir apakah benar perubahan tersebut menuju ke arah positif atau ke arah negatif dan kita bisa menemukan jalan keluar permasalahan tersebut.



1.2. Rumusan Masalah

Dalam penulisan makalah ini kami membuat beberapa rumusan masalah yang menjadi pokok pembahasan. Rumusan masalah dapat membatasi pembahasan agar tidak melebar. Adapun Rumusan masalah yang kami tetapkan adalah:

1. Bagaimana awal mula munculnya Maulid Nabi sebagai akar dari panjang Jimat?

2. Latar belakang apa saja yang menyebabkan perubahan Upacara Panjang Jimat?

                                                                                                                                               

3. Seberapa besar perubahan yang terjadi dalam Upacara Panjang Jimat saat ini dibandingkan dengan keberadaannya di awal kemunculannya?

4. Bagaimana dampak Upacara Panjang Jimat terhadap kehidupan masyarakat sekitar keraton kasepuhan di bidang sosial dan ekonomi?

1.3. Tujuan penulisan

Adapun tujuan yang ingin di capai dari penulisan karya ilmiah ini adalah untuk menjawab rumusan masalah diatas, yakni:

1. Menjelaskan awal mula munculnya Maulid Nabi sebagai akar dari Panjang Jimat, proses penyebarannya ke Jawa, serta perkembangannya sehingga menjadi sebuah Upacara Panjang Jimat;

2. Mengetahui latar belakang yang menyebabkan perubahan Upacara Panjang Jimat;

3. Menjelaskan perubahan yang terjadi dalam Upacara Panjang Jimat saat ini dibandingkan dengan keberadaannya di awal kemunculannya;

4. Menjelaskan dampak Upacara Panjang Jimat terhadap kehidupan masyarakat sekitar keraton kasepuhan di bidang sosial dan ekonomi.



1.4. Metode Penulisan

Penulisan dilakukan dengan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dengan bahasan  sumber tulisan; Pengkritikan terhadap kebenaran sumber tersebut baik kritik eksternal maupun kritik internal; Menginterpretasikan sumber-sumber yang didapat, dan menyusunya dalam sebuah historiografi. Kami berusaha menampilkan sebuah kajian sejarah lokal yang kritis dengan interpretasi yang mendalam.



1.5. Sistematika Penulisan Makalah

Untuk menguraikan isi dari makalah ini, kami membuat sistematika penulisan untuk mempermudah pembaca dalam memahami isi makalah. Dimulai dengan kata pengantar kemudian dilanjutkan dengan Bab 1 Pendahuluan, Bab 2 Pembahasan, Bab 3 Kesimpulan dan Saran, dan terahir Daftar pustaka.


Dalam Pendahuluan berisi latar belakang masalah yang menjadi pendorong dibuatnya makalah ini, rumusan masalah sebagai batasan kajian, tujuan penulisan makalah yang ingin dicapai dari penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

Dalam bab dua berisi pembahasan tentang Sejarah Singkat Cirebon dan Keraton Kasepuhan yang meliputi Sejarah Singkat Cirebon, Sejarah Singkat Keraton Kasepuhan. Awal Mula Kemunculan Maulid Nabi dan Penyebarannya di Jawa, Prosesi Panjang Jimat yang meliputi Panjang Jimat sebagai Entitas Lokal Keraton Kasepuhan Cirebon dan Perubahannya, Perubahan Panjang Jimat dilihat dari aspek sosial, Penyelenggaraan Upacara Panjang Jimat Terhadap Kehidupan Ekonomi Masyarakat Sekitar. Dalam bab tiga ini berisi kesimpulan dari isi materi dan saran diakhrir dengan Daftar Pustaka.

























BAB 2

UPACARA PANJANG JIMAT SEBAGAI ENTITAS LOKALKERATON KASEPUHAN CIREBON DAN PERUBAHANNYA.


2.1. Sejarah Singkat Keraton Kasepuhan

Keraton Kasepuhan terletak di Kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon dengan luas 16 hektar yang dibatasi oleh tembok Keraton, tidak termasuk Alun-alun dan Mesjid Agung Sang Cipta Rasa. Untuk sampai ke sana dari Jalan Lemah Wungkuk kita dapat berjalan lurus ke arah Selatan sampai tiba di Alun-alun Keraton Kasepuhan. Dari Alun-alun Keraton inilah kita dapat melihat kompleks Keraton Kasepuhan yang terletak persis di sebelah Selatan Alun-alun.

Dilihat dari sudut historisnya Keraton kasepuhan merupakan pembagian dari keraton kasunanan kerajaan Cirebon. Kerajaan Cirebon awalnya merupakan sebuah perkampungan yang bernama Tegal Alang-alang dan kemudian dibentuk menjadi perkampungan Cirebon oleh Pangeran Walangsungsang pada tahun 1445 M. Pembentukan dilakukan awalnya ketika Pangeran Walangsungsang mencari ilmu agama Islam di daerah Tegal Alang-Alang ini, kemudian beliau melihat potensi daerah pesisir ini kaya akan udang dan bisa dijadikan pelabuhan dagang sehingga secara resmi Pangeran Walangsungsang mendirikan kampung Cirebon (PRA. Arif Natadiningrat, 2009).

Selain Pangeran Walangsungsang, Sri Baduga Maharaja juga mempunyai seorang Putri yang bernama Rara Santang yang telah kembali dari Mekkah dan beragama Islam. Rara Santang membawa serta putranya yang bernama Syarif Hidayatullah, Syarif Hidayatullah inilah yang mengukuhkan Cirebon bentukan Pangeran Walangsungsang sebagai daerah kekuatan agama Islam yang merdeka dari kerajaan Sri Baduga Maharaja di Pakuan Pajajaran dan menjadi raja Cirebon bergelar Susuhunan Jati 1479 M. Dalam versi sejarah Keraton Cirebon, Susuhunan Jati wafat pada tahun 1568 M dan dikuburkan di Gunung Jati (Cirebon) sehingga dikenal pula sebagai Sunan Gunung Jati.

Pusat pengaturan pemerintahan Kerajaan Cirebon terdapat di Keraton Pakungwati. Keraton Pakungwati sudah dipakai oleh Raja-raja Cirebon sejak masa-masa awal perkembangan Islam. Nama Pakungwati tetap dipertahankan hingga masa pemerintahan Panembahan Ratu I, dan Panembahan Ratu II (Panembahan Girilaya). Setelah itu pada tahun 1679 M masa kepemimpinan Sultan Anam Badridin I terjadi perebutan kekuasaan intern kerajaan sehingga beliau membagi kerajaan Cirebon yang pusat pemerintahannya di Keraton Pakungwati ini menjadi tiga pusat kerajaan di tiga keraton. Keraton tersebut yaitu Keraton Kasunanan, Keraton Kasepuhan, dan Keraton Kanoman. Keraton Kasepuhan mengambil tempat di kompleks bekas Keraton Pakungwati, dan sejak itu berkembang terus sampai ke selatan.





2.2 Awal Mula Kemunculan Maulid Nabi dan Penyebarannya di Jawa

Maulid sebagai bagian dari tradisi keagamaan dapat dilihat dari segi historis maupun dari segi sosial budaya. Dari segi historis terdapapat dalam catatan Al-Sandubi dalam karyanya ”Tarikh Al-Ikhtilaf Fi Al-Maulid Al-Nabawi, Al-Mu’izzli-Dinillah. Diungkapkan olehnya bahwa dalam sejarah Islam penguasa bani Fatimah yang pertama menetap di Mesir adalah orang pertama yang menyelenggarakan perayaan kelahiran Nabi. Kemudian kurun waktu berikutnya tradisi yang semula dirayakan hanya oleh golongan Syi’ah ini juga dilaksanakan oleh golongan Sunni dimana Khalifah Nur Al-Din penguasa Syiria (511-569 H / 1118-474 M) adalah penguasa Suni pertama yang tercatat merayakan maulid Nabi. Perayaan Maulid secara besar-besaran dilaksanakan pertama kali oleh Raja Al-Mudhaffar Abu Sa’id Kokburi bin Zain al-Din Ali bin Baktatin penguasa Irbil, 80 KM tenggara Mossul.

Kemudian mengkaji penyebaran Maulid Nabi sampai ke Indonesia sangat berkaitan dengan jasa Sultan Salahuddin Al Ayyubi Khalifah dari dinasti Abbasiah penguasa Al Haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah). Salahuddin memerintah para tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub, setingkat Gubernur dengan pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia.

Perintah merayakan Maulid ini disampaikan pertama kali pada musim Haji 579 H (1183 Masehi). Sebagai penguasa dua tanah suci saat itu atas persetujuan Khalifah Bani Abbas di Baghdad juga, Sultan menghimbau agar seluruh jamaah haji seluruh dunia jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera mensosialisasikan kepada masyarakat Islam dimana saja berada. Maksud Sultan Salahuddin merayakan tradisi ini selain bentuk cintanya pada Rasul juga sebagai cara membangkitkan semangat juang umat Islam yang kala itu kehilangan semangat juang dan persaudaraan ukhuwah ketika terjadi perang salib.

Salahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, sehingga tidak dapat dikategorikan bid’ah yang terlarang.

Bagi sebagian orang Islam tradisi merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan sebagai salah satu bentuk rasa cinta umat kepada Rasul Nya. Di tanah Jawa sendiri tradisi ini telah ada sejak zaman walisongo, pada masa itu tradisi Maulid Nabi dijadikan sebagai sarana dakwah penyebaran agama Islam dengan menghadirkan berbagai macam kegiatan yang menarik masyarakat. Pada saat ini tradisi Maulid/Mauludan di Jawa disamping sebagai bentuk perwujudan cinta umat kepada Rasul juga sebagai penghormatan terhadap jasa-jasa Walisongo.

Di Cirebon upacara Maulid Nabi (selanjutnya disebut dengan Panjang Jimat) dilaksanakan di empat tempat yang menjadi peninggalan dari Syarief Hidayatullah. Masing-masing di Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan/Kasunanan dan kompleks makam Syekh Syarief Hidayatullah. Di Jogjakarta dan Surakarta di masing-masing keraton dengan acaranya Grebeg Mulud. Pada zaman kesultanan Mataram perayaan Maulid Nabi disebut Grebeg Mulud. Kata “Grebeg” artinya mengikuti, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya.


Di Keraton kasepuhan sendiri perayaan Panjang Jimat secara besar-besaran selalu diadakan, terutama sesudah Syarief Hidayatullah atau lebih dikenal sebagai Sang Susuhunan Jati memegang tampuk pemerintahan Nagri Carbon (Kerajaan Cirebon) 1479 M. Susuhunan Jati mengadakan berbagai perayaan secara besar-besaran ini bukan semata karena menghormati Nabi Muhammad SAW sebagai penyebar agama saja tetapi juga karena menghormati nenek-moyang.

Menurut garis ayah, Syarief Hidayatullah adalah keturunan ke-22 Nabi Muhammad SAW. Ayahnya adalah Syarief Abdullah yang datang ke Pulau Jawa dari Mesir melalui Gujarat, menikah dengan Nyimas Rara Santang putri Sri Baduga Maharaja penguasa Pajajaran. Sebagai keturunan langsung dari penyebar agama Islam, Syarief Hidayatullah begitu menghormatinya secara khusus pula sebagai seorang keturunan kepada nenek-moyangnya. Sejak saat itu muludan di Kerajaan Cirebon selalu meriah hingga kini.

Dapat dipahami juga bahwa tradisi keagamaan maulid merupakan salah satu sarana penyebaran Islam di Indonesia. Islam tidak mungkin dapat segera tersebar dan diterima masyarakat luas Indonesia, jika saja proses penyebarannya tidak melibatkan tradisi keagamaan. Penyebaran agama Islam sejak abad ke-13 M semakin meluas di Nusantara terutama atas kegiatan kaum sufi yang mampu menyajikan Islam dalam kemasan yang atraktif, khususnya dengan menerangkan kontinuitas kebudayaan masyarakat dalam konteks Islam.

Menurut Ahmad Anas jelas terdapat fakta yang kuat bahwa tradisi maulid merupakan salah satu ciri kaum muslimin tradisional di Indonesia dan umumnya dilakukan oleh kalangan sufi. Maka dari segi ini dapat diperoleh kesimpulan sementara bahwa masuknya perayaan maulid bersamaan dengan prosesnya Islam ke Indonesia yang dibawa oleh pendakwah atau dalam hal ini kaum sufi.











Kondisi lainnya yang berpengaruh dalam penyebaran Maulid Nabi ini adalah kondisi sosial politik pada abad ke-14 hingga ke-16 M. Di berbagi belahan dunia Islam sedang marak dan berada pada puncak penyebaran tradisi maulid yang perintisannya sejak awal abad ke-12. Kegiatan maulid mencapai puncak popularitasnya di kalangan masyarakat sehingga penguasa-penguasa pun kemudian mengakomodasinya sebagai kegiatan resmi negara yang salah satu motifnya adalah kepentingan politik. Acara Maulid Nabi ini menjadi sebuah penglegitimasian keberadaan sultan di kerajaan. Di Keraton Kasepuhan sendiri Sultan memegang peranan penting dalam upacara Panjang Jimat sebagai orang yang diutamakan. Hal tersebut dilakukan untuk memperlihatkan kewibawaan sultan dimata masyarakat.



2.3 Prosesi Panjang Jimat

Prosesi adat “Panjang Jimat” adalah refleksi dari proses kelahiran Nabi Muhammad SAW dan merupakan acara puncak dari serangkaian kegiatan Maulud Nabi Muhamad di Keraton Kasepuhan Cirebon. “Panjang” berarti sederetan iring-iringan berbagai benda pusaka dalam prosesi itu dan “Jimat” berarti “siji kang dirumat” atau satu yang dihormati yaitu kalimat sahadat “La Illa ha Illahah” sehingga arti gabungan dua kata itu adalah sederetan persiapan menyongsong kelahiran nabi yang teguh mengumandangkan kalimat sahadat kepada umat di dunia. Pada umumnya masing-masing upacara terdiri atas kombinasi berbagai macam unsur upacara seperti berkorban, berdo’a, bersaji makan bersama, berprosesi, semadi, dan sebagainya. Urutannya telah tertentu sebagai hasil ciptaan para pendahulunya yang telah menjadi tradisi.

Pengaruh Khalifah Sholahuddin Al Ayubi seperti telah dijelaskan kemudian menyebar ke seluruh dunia termasuk ke Kerajaan Cirebon dan Sultan Cirebon Syarif Hidayatullah kemudian mengadopsikan acara maulud nabi itu dengan budaya Jawa sehingga menjadi prosesi Panjang Jimat. Secara serentak, upacara pelal Panjang Jimat di Cirebon diselenggarakan di empat tempat yang menjadi peninggalan dari Syarief Hidayatullah. Masing-masing di Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan/Kasunanan dan kompleks makam Syekh Syarief Hidayatullah pendiri Kasultanan Cirebon atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Djati.

RiTual-ritual Panjang Jimat hampir sama dengan upacara yang lainnya, yang semuanya mengukuhkan homogenitas model Jawa yang orisil Maka pada saat itu tampaklah raja melakukan miyos dalem (penampilan raja kehadapan rakyatnya). Kemampuan raja mencapai kesatuan dimanfaatkan untuk mendengarkan keabsahan keraton. Pada kegiatan itu raja menyampaikan berkahnya untuk kesejahteraan rakyatnya.



Di Keraton Kasepuhan Panjang Jimat diturunkan oleh petugas dan ahli agama di lingkungan kerabat kesultanan Keraton kasepuhan, yang terdiri atas:

1) Diadakan Susrana
Tahap ini diadakan di gedung/bangsal dalem. Disinilah disajikan Nasi Rosul sebanyak 7 golongan, untuk tiap-tiap golongan ditumpangkan/ditempatkan di atas tasbih/piring besar. Petugas-petugasnya adalah : Nyi Penghulu, Nyi Krum yang disaksikan oleh para Ratu Dalem. Di belakang Bangsal Dalem yang disajikan air mawar, kembang goyah, “serbad boreh” (panem) dan hidangan tumpeng 4 “pangsong”/”ancek”/”angsur”. Yang berisi kue-kue dan tempat dong-dang yang berisis makanan, petugasnya adalah Nyi Kotif Agung, Nyi Kaum dengan disaksikan oleh para Ratu/family kasultanan.

2) Di Gedung Bangsal Prabayaksa yaitu sebelah utara bangsal dalem dan di bangsal Pringgadani (sebelah utara bangsal Prabayaksa), diperuntukan bagi para undangan di tengah ruangan dilowongkan untuk deretan upacara, terus dari Jinem ke Sri Manganti.

Di Keraton Kasepuhan, upacara puncak Pelal Panjang Jimat dimulai tepat pukul 19.50 WIB dipimpin langsung oleh Sultan Sepuh XIII Maulana Pakuningrat, sementara prosesi iring-iringan jimat keraton dibawa dari Bangsal Prabayaksa Keraton menuju Langgar Agung dipimpin Putra Mahkota Kesultanan Kasepuhan Pangeran Raja Adipati PRA. Arief Natadiningrat.

Selanjutnya Sultan menyerahkan payung pusaka kepada Putra Mahkota PRA Arief Natadiningrat sebagai wakil dirinya dalam iring-iringan Panjang Jimat.

Urut-urutan panjang jimat di Kesultanan Kasepuhan yaitu pertama barisan lilin yang melambangkan kelahiran nabi pada malam hari, barisan kedua berupa Manggaran, Nagan, dan Jantungan yang lambangkan kebesaran dan keagungan.

Barisan ketiga, berupa air mawar, pasatan, dan kembang goyang sebagai perlambang air ketuban dan usus atau ari-ari bayi, barisan keempat berupa air serbat dalam empat baki dan dua guci sebagai perlambang kelahiran. Barisan kelima berupa tumpeng jeneng, 10 nasi uduk, 10 nasi putih sebagai perlambang seorang bayi harus diberi nama yang baik agar menjadi orang yang berguna, dan barisan keenam adalah tujuh nasi jimat.

Nasi Jimat itu diarak dengan pengawalan 200 barisan abdi dalem yang masing-masing membawa simbil-simbol sebagai perlambang. Barisan pertama ialah pembawa lilin, bertujuan sebagai penerang, diikuti iring-iringan pembawa perangkat upacara seperti “manggaran”, “nadan” dan “jantungan” (perlambang kebesaran dan keagungan).





Setelah sepasukan pengawal (iring-iringan) lengkap berkumpul di Bangsal Purbayaksa, putra mahkota PRA. Arief atas izin Sultan Kasepuhan, memimpin arak-arakan menuju Langgar Agung, sekira 100 meter, masih di lingkungan keraton. Arak-arakan yang keluar dari Bangsal Purbayaksa disambut di luar keraton oleh pengawal pembawa obor (perlambang Abu Tholib, paman nabi menyambut kelahiran bayi Muhammad pada malam hari yang kemudian menjadi manusia agung) sebelum akhirnya dibawa ke mushala. Di mushala itu Nasi Jimat Tujuh Rupa itu dibuka bersama dengan sajian makanan lain termasuk makanan yang disimpan di 38 buah piring pusaka peninggalan Sunan Gunung Djati berusia 600 tahun.

Di mushala (Langgar Agung), dilakukan shalawatan serta pembacaan (mengaji) kitab Barjanzi sampai pukul 24.00 WIB. Setelah shalawatan dan pembacaan kitab yang dipimpin imam Masjid Agung “Sang Cipta Rasa” Keraton Kasepuhan, makanan lalu disantap bersama. PRA Arief yang mengenakan pakaian khas tradisi Cirebonan berupa kemeja hitam dan blangkon, pulang kembali ke keraton dengan pengawalan ketat, sebab ribuan warga yang rela menunggu berlama-lama, pada berebut untuk memegang atau sekadar menyentuh calon Sultan Kasepuhan Cirebon itu karena diyakini bisa membawa berkah “Ngalap berkah”.

Sebelum arak-arakan membawa Nasi Jimat Tujuh Rupa dimulai, Sultan Kasepuhan, Maulana Pakuningrat memberi wejangan kepada para abdi dalem dan tamu undangan. Sultan menyampaikan makna dari perayaan Panjang Jimat yang sudah berusia ratusan tahun. Sebagaimana sebutan “pelal”, Panjang Jimat merupakan puncak dari serangkaian ritual yang ditujukan untuk mengenang dan merayakan kelahiran (maulud) Nabi Muhammad saw. Acara ini merupakan penutup rangkaian acara tradisi yang setiap tahun selalu berjalan meriah dan menjadi magnet tersendiri bagi ratusan ribu warga untuk datang ke Kota Cirebon.

Pelal Panjang Jimat, atau rangkaian panjang acara adat mengenang dan merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, bahkan telah menjadi agenda tersendiri. Tidak hanya bagi abdi dalem keraton atau warga Kota Cirebon, tetapi juga warga dari daerah lain seperti Indramayu, Majalengka, Kuningan, termasuk juga Sumedang, Tasikmalaya, Ciamis, Bandung, bahkan wilayah Jateng seperti Tegal, Brebes, Batang, Pekalongan, Semarang sampai Jakarta dan Banten. Banyak masyarakat yang percaya menyaksikan Muludan yang digelar tiga keraton di Cirebon memberikan semangat spiritual dalam menempuh kehidupan, bahkan tidak jarang beberapa orang berusaha menggapai benda pusaka dengan tujuan mendapatkan berkah pada malam Panjang Jimat itu.








2.4. Perubahan Panjang Jimat Dilihat dari Aspek Sosial dan Ekonomi.

2.4.1 Perubahan Panjang Jimat dilihat dari aspek sosial

Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan, terdapat fakta-fakta baru tentang Panjang Jimat. Kami bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa pelaksanaan upacara Panjang Jimat sekarang mengalami perubahan atau pergeseran. Secara umum perubahan pelaksanaan Panjang Jimat tersebut bukan terletak pada struktur upacaranya tapi dalam bentuk permukaannya. Perubahan penyelenggaraan dalam bentuk permukaannya banyak berubah dilakukan untuk mendukung program pemerintah yakni pariwisata dan pembangunan (Seputar Indonesia, 10 Maret 2009). Sedangkan mengenai tujuan, kesakralan, struktur secara intern masih tetap terjaga. Prosesi upaca masih lengkap meskipun sedikit ada penyederhanaan.

Seperti yang telah diketahui bahwa upacara Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan sudah ada sejak jaman dahulu dan sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat Cirebon. Hal ini khususnya dikarenakan masyarakat masih memegang teguh adat istiadat ataupun kebiasaan akan tradisi yang diwariskan turun temurun. Secara prinsip, upacara Panjang Jimat tetap dilakukan dari tahun ke tahun, namun dalam pelaksanaannya lebih ditingkatkan yakni dilaksanakan dengan lebih besar, meriah, diisi dengan program pembangunan dan dikaitkan dengan pariwisata. Terdapat suatu indikasi bahwa hal ini disebabkan karena sudah memasuki jaman globalisasi yang serba modern.

Akibat dari globalisasi tersebut menyebabkan upacara Panjang Jimat yang merupakan salah satu adat atau kultur Keraton kasepuhan juga mengalami perubahan. Hal ini sebenarnya tidak menjadi masalah karena meskipun mengalami perubahan tapi tetap mempunyai struktur, tujuan, esensi yang sama dengan pelaksanaan grebeg maulud dahulu. Nilai kesakralan dan getaran emosi masyarakat masih tetap ada.


Pemahaman upacara tradisional yang penting, khususnya Panjang Jimat ini bukan pada level empirisnya (luarnya) tapi pada level non empirisnya yakni struktur pada upacara tersebut. Selama strukturnya sama, maka prinsip dari upacara Panjang Jimat tetap sama, inilah yang paling esensial dalam pelaksanaan upacara Panjang Jimat agar tetap terjaga keaslian, kesakralan, struktur, nilai, dan tujuannya.

Selanjutnya jika dilihat perubahan dalam pelaksanaan upacara Panjang Jimat saat ini terletak pada bentuk luarnya (empiris) yaitu untuk mendukung program pariwisata dan pembangunan seperti diketahui bahwa sebelum upacara dimulai dengan pesta rakyat menyongsong perayaan Panjang jimat, yakni berupa keramaian untuk hiburan masyarakat. Apabila jaman dahulu dalam Panjang Jimat ini tidak ada keramaian berupa pasar malam dan para pedagang, maka sekarang mereka ada dan sangat ramai sekali. Pekan raya atau pasar malam yang dipergunakan untuk kepentingan pariwisata dan pembangunan, antara lain:
                                                                                                                                               
1. Sebagai arena rekreasi bagi masyarakat misalnya; sirkus, arena permainan anak-anak, panggung kesenian (musik) dan lain-lain

2. Sebagai forum informasi dan komunikasi tentang kebijaksanaan yang dapat diperoleh dari eksposisi atau pameran dari instansi pemerintah

3. Sebagai sarana melestarikan kesenian kebudayaan daerah. Untuk itu disediakan panggung kesenian daerah, pentas kesenian daerah dan lainnya.

Pasar malam tersebut dipakai sebagai ajang berjualan bagi para pedagaang seperti penjual makanan, minuman, mainan ank-anak, pakaian, sepatu, bunga dan lainya. Akibat adanya pasar malam dalam perayaan sekaten membuat susana menjadi meriah dan ramai. Disamping itu dalam kegiatan pasar malam tersebut juga diadakan kegiatan keagamaan khususnya agama islam. Kegiatan keagamaan itu antara lain santapan rohani melalui menara siaran, pengajian umum, pameran keagamaan. Pentas seni keagamaan, tabligh di masjid besar dan lainnya.

Hal utama yang paling terlihat adalah maksud dan tujuan masyarakat khususnya generasi muda yang akan datang ke acara Panjang Jimat ini. Pada masa Syarif Hidayatullah ketika Panjang Jimat ini diadakan masyarakat memang benar-benar khusyuk mengikuti ritual Panjang Jimat ini dan mendengarkan ilmu agama dari tabligh yang diadakan oleh ulama. Sekarang keadaannya bergeser, mereka malah lebih bertujuan untuk mengunjungi pasar malam khususnya anak-anak remaj. Memang masih banyak golongan tua yang benar-benar berniat untuk mengikuti Panjang Jimat ini secara keseluruhan, namun kebanyakan dari generasi mudanya hanya ingin datang ke pasar malamnya saja.

Dari 35 orang yang kami wawancara, 25 Orang tua berumur diatas 30 tahun, dan 10 anak muda dibawah 25 tahun kami mendapatkan sebuah kesimpulan. Orang tua yang berada diatas 30 tahun memang benar-benar berniat untuk mengikuti Panjang Jimat dan para anak mudanya hanya berniat untuk melihat-lihat saja pasar malam dan pekan raya tersebut. Dari fakta tersebut didapatkan kesimpulan bahwa saat ini upacara Panjang Jimat dalam bentuk luarnya telah mengalami pergeseran khususnya dari kalangan anak muda yang kurang memperhatikan kesakralan dari makna Panjang Jimat itu sendiri.

Demikian adalah beberapa perubahan yang terjadi pada pelaksanaan upacara Panjang Jimat saat ini. Tampak dalam perubahannya bukan yang menyangkut strukur tapi yang mendukung pariwisata dan pembangunan secara prinsipil kesakralan, tujuan, nilai serta struktur dalam upacara grebeg tidak mengalami perubahan. Meskipun dalam prosesi upacara ada sedikit perbedaan hal tersebut disebabkan karena perubahan jaman, dianggap lebih praktis, ekonomis, sehingga dalam pelaksanaan upacara ada sedikit perkembangan bila dibandingkan dengan dahulu.



2.4.2 Penyelenggaraan Upacara Panjang Jimat Terhadap Kehidupan Ekonomi Masyarakat Sekitar

Sebagaimana yang kita tahu bahwa upacara Panjang Jimat yang merupakan rentetan dari acara maulidan di Keraton Kasepuhan awalnya hanyalah sebuah upacara peringatan kelahiran nabi Muhammad Saw saja yang di dalamnya terdapat ritual-ritual khusus sebagai simbol untuk meneladani kerasulannya.

Diselenggarakannya Upacara Panjang Jimat (Muludan) ini ternyata memberikan dampak bagi kehidupan masyarakat sekitar keraton. Penyelenggaraan acara ini seakan-akan dimanfaatkan oleh para pedagang setempat untuk mengais rejeki. Apalagi dua minggu sebelum acara, pihak keraton mengizinkan ribuan pedagang kaki lima (PKL) untuk berjualan selama rentetan kegiatan menyambut Maulud Nabi Muhammad Saw. Sehingga tidak mengherankan bila halaman depan atau jalan menuju Keraton Kasepuhan ini disesaki oleh berbagai pedagang, mulai dari pedagang makanan, pakaian, barang antik, mainan anak, peralatan rumah tangga, dan sebagainya.

Keadaan tersebut lebih populer dengan istilah pasar kaget. Pedagangnya pun tidak hanya berasal dari Cirebon saja bahkan adapula yang berasal dari daerah lain seperti Kuningan, Majalengka, Indramayu atau daerah lainnya yang sengaja mencoba mencari peruntungan dalam acara Mauludan di Keraton Kasepuhan ini. Pedagang-pedagang tersebut terdiri dari pedagang yang memang setiap tahunnya berjualan dalam acara Mauludan di Keraton Kasepuhan dan ada pula diantara pedagang tersebut yang baru sekali mencoba berjualan dalam acara tersebut.

Dari kondisi tersebut kami mengkaji penghasilan para pedagang. Beberapa narasumber yang kami wawancarai mengaku bahwa ketika mereka berjualan dalam acara Mauludan tersebut penghasilan mereka meningkat dari hari-hari biasanya. Misalkan saja Haryanto yang seorang penjual kaligrafi, mengaku omzetnya meningkat dari yang tiap harinya mampu menjual sekitar 15-25 buah lukisan, pada acara Muludan tersebut dia bisa menjual 30-50 buah lukisan.

Selain pedagang, pihak lain yang mendapatkan keuntungan dari adanya pasar kaget tersebut tentu saja adalah pihak Keraton sendiri. Tentu saja karena dengan adanya pasar kaget ini, pedagang yang berjualan di sekitar keraton harus memebayar sejumlah retribusi kepada pihak Keraton. Menurut keraton sendiri retribusi semacam ini akan digunakan untuk kepentingan amal.

Dampak yang sama juga dirasakan oleh sopir-sopir angkot yang melintasi wilayah keraton Kasepuha. Umumnya selama acara ini berlangsung sopir angkot pun mendapat keuntungan dari banyaknya masyarakat yang menggunakan jasa angkot untuk berkunjung ke Keraton Kasepuhan dengan tujuan untuk ziarah atau sekedar belanja saja.
Dari data tersebut bisa dianalisis bahwa penyelenggaraan acara Muludan di Keraton Kasepuhan memberikan dampak bagi perekonomian masyarakat sekitar.

BAB 3

KESIMPULAN



3.1 Kesimpulan

Upacara Maulid Nabi adalah suatu bentuk kebudayaan tradisional. Maulid Nabi merupakan suatu salah satu bentuk rasa cinta umat kepada Rasul Nya. Awal mula dari Maulid Nabi ini, pertama kali oleh penguasa bani Fatimah yang pertama menetap di Mesir kemudian sampai ke Indonesia atas jasa Sultan Salahuddin Al Ayyubi Khalifah dari dinasti Abbasiah, di Jawa tradisi Maulid Nabi telah ada sejak zaman walisongo sedangkan di Cirebon sendiri Maulid Nabi setelah Sultan Syarief Hidayatullah berkuasa.

Proses dari Maulid Nabi ini sama seperti upacara lainnya. Dalam proses Maulid Nabi ini terdapat beberapa lilin yang dipasang di atas standar, manggara, nagam, jantungan Tumpeng yang mendukung upacara Maulid Nabi.

Dengan berkembangnya jaman yang semakin modern dan mengarah ke globalisasi, maka Maulid Nabi juga mengalami perubahan. Di aspek sosial Maulid Nabi sekarang lebih mendukung kepada pariwisata dan pembangunan namun secara prinsipil kesakralan, tujuan, nilai serta struktur dalam upacara grebeg tidak mengalami perubahan. Meskipun dalam prosesi upacara ada sedikit perbedaan hal tersebut disebabkan karena perubahan jaman, dianggap lebih praktis, ekonomis, sehingga dalam pelaksanaan upacara ada sedikit perkembangan bila dibandingkan dengan dahulu. Di aspek ekonomi Maulud Nabi yang dahulu merupakan sebuah upacara peringatan kelahiran nabi Muhammad Saw saja yang di dalamnya terdapat ritual-ritual khusus sebagai simbol untuk meneladani kerasulannya kini dijadikan oleh masyarakat sebagai tempat mencari rezeki.





                         



                                                                                 
DAFTAR PUSTAKA



Sumber :

http://sahabatsilat.com/forum/index.php?topic=551.0;wap2



http://www.keajaibandunia.net/info/peninggalan-sosial-budaya-cirebon.html



http://sosbud.kompasiana.com/2012/07/05/haji-krupuk-sebuah-kearifan-budaya-cirebon-475638.html



http://nasional.kompas.com/read/2010/06/10/10263210/