Gunadarma

Uug

Minggu, 24 April 2016

Keadilan “sirna”



Kasih dan cinta kau pagari dengan harapan
Pengharapan yang semua dan mereka kehendaki
Sirna adalah kata yang tak mungkin bagimu
Pencapaian yang sempurna menjadi hasilnya

Kita hanyalah segelintir yang menjadi saksi
Bahwa para wakilnya kini tak menjadi tangan kanannya
Tak lagi percaya adanya kepercayaan
Percaya menjadikannya jual beli layaknya pasar

Langit hanyalah hasil nyata
Bagaimana iya hadir, namun hancur saat didasar bumi
Kami hanyalah manusia yang tak berhak mengemban tugas ini
Tugas yang hanya engkau bisa

Kami penuh dosa dan kotor
Kami pegang teguh ini, namun ia hilang
Hilang entah kemana perginya
Namun kami percaya, ada wakilmu yang masih memilikinya


Minggu, 17 April 2016

sila kelima (keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia) "PANCASILA"

Sila Kelima dalam Dasar Negara RI mengandung makna setiap manusia Indonesia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Untuk itu dikembangkan perbuatannya luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong royong. Untuk itu diperlukan sikap adil terhadap sesama, menjaga kesinambungan antara hak dan kewajiban serta menghormati hak-hak orang lain.
Nilai yang terkandung dalam sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia didasari dan dijiwai oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab , Persatuan Indonesia, serta Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan atau Perwakilan.
Dalam sila ke – 5 tersebut terkandung nilai- nilai yang merupakan tujuan Negara sebagai tujuan dalam hidup bersama. Maka dalam sila ke – 5 tersebut terkandung nilai keadilan yang harus terwujud dalam kehidupan bersama ( kehidupan sosial). Keadilan tersebut didasari dan dijiwai oleh hakikat keadilan manusia yaitu keadilan dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan manusia lain , manusia dengan masyarakat, bangsa dan negaranya serta hubungan manusia dengan Tuhannya.
Konsekwensinya nilai-nilai keadilan yang harus terwujud dalam kehidupan bersama meliputi, Keadilan distributif, Keadilan Legal ( Keadilan Bertaat ) dan Keadilan Komulatif.
Nilai-nilai keadilan tersebut haruslah merupakan suatu dasar yang harus diwujudkan dalam hidup bersama kenegaraan untuk mewujudkan tujuan Negara yaitu mewujudkan kesejahteraan seluruh warganya serta melindungi seluruh warganya dan wilayahnya, mencerdaskan seluruh warganya. Demikian pula nilai-nilai keadilan tersebut sebagai dasar dalam pergaulan antara Negara sesama bangsa didunia dan prinsip ingin menciptakan ketertiban hidup bersama dalam suatu pergaulan antar bangsa didunia dengan berdasarkan suatu prinsip kemerdekaan bagi setiap bangsa, perdamaian abadi serta keadilan dalam hidup bersama (keadilan sosial).Sila ke 5 dari Pancasila, mengamanatkan agar semua kebijakan dan program apapun yang dilaksanakan, harus bermuara kepada perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pembangunan fisik, seperti Jalan toll, jembatan layang, bandar udara dan gedung tinggi pencakar langit, pusat perbelanjaan /Mall, tidak ada manfaatnya jika tingkat kemiskinan rakyat semakin tinggi.
Bukan berarti kita anti terhadap pembangunan tersebut, akan tetapi bagaimana hasil dari pembangunan tersebut dapat bermanfaat bagi rakyat.
Karena rakyat yang berada pada lapisan termiskin, tidak pernah mampu menggunakan jalan toll, bandar udara apalagi belanja di mall mall yang mewah!
Kalau begitu, bagaimana kita mengukur keberhasilan pembangunan?
Yang jelas, apapun yang dibangun, jika tidak mampu meningkatkan perbaikan kualitas hidup rakyat yang berada dilapisan paling miskin, dapat dikatakan bahwa tidak ada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Oleh karena itu, program pembangunan yang harus menjadi prioritas utama adalah mencerdaskan rakyat yang tertinggal, dengan mengutamakan program pendidikan, dan kesehatan rakyat.
Demi keadilan yang diamanatkan oleh sila ke 5 Pancasila, Kita wajib memprioritaskan anggaran negara untuk mengangkat taraf hidup rakyat yang berada pada lapisan paling miskin.
*
Arti dan Makna Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat dalam arti dinamis dan meningkat.
Seluruh kekayaan alam dan sebagainya dipergunakan bagi kebahagiaan bersama menurut potensi masing-masing.
Melindungi yang lemah agar kelompok warga masyarakat dapat bekerja sesuai dengan bidangnya.
Sikap positif terhadap nilai-nilai pancasila
Nilai-nilai Pancasila telah diyakini kebenarannya oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu , mengamalkan Pancasila merupakan suatu keharusan bagi bangsa Indonesia.
Sikap positif dalam mengamalkan nilai-nilai pancasila.
Menghormati anggota keluarga
Menghormati orang yang lebih tua
Membiasakan hidup hemat
Tidak membeda-bedakan teman
Membiasakan musyawarah untuk mufakat
Menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing-masing
Membantu orang lain yang kesusahan sesuai dengan kemampuan sendiri
*
KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
Sila ke 5 dari Pancasila ini adalah amanat dari (para pencetus PANCASILA, khususnya panitia 9 termasuk Bung Karno, dan didalamnya terkandung nilai-nilai “Keadilan Ekonomi” atau “Economic Justice” yang sekarang kita sebagai generasi penerus fahami itu ) agar semua kebijakan dan program apapun yang dilaksanakan, harus bermuara kepada perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sosial disini bukanlah berarti faham Sosialisme, tetapi sosial berarti rakyat banyak. Keadilan Sosial disini berarti suatu hirarhi, bahwa keadilan untuk rakyat banyak adalah lebih penting dibandingkan dengan keadilan untuk kelompok tertentu, apalagi individu tertentu.
Tentu saja dengan tetap memegang teguh prinsip-prinsip keadilan .
Pemilihan kata KEADILAN dari Sila ke-5 sebagai tujuan negara adalah sangat tepat. Hal ini sesuai dengan urutan yang tercantum dalam Pembukaan UUD 45 (juga di Hymne Garuda Pancasila), jaitu adil,makmur, sentosa (sejahtera)> Disini termakna Nilai-nilai Ekonomi juga kan.
ADIL mempunyai bobot yang lebih berat dari makmur dan sentosa
Rakyat bisa tahan dengan ketidak makmuran, akan tetapi rakyat tidak akan tahan dengan ketidak adilan.
Apabila keadilan sudah ditegakkan, maka kemakmuran hanya masalah waktu, dan sentosa/kesejahteraan Insya Allah akan terwujud.
Akan tetapi jika kemakmuran yang didahulukan, maka keadilan belum tentu akan tercapai, bahkan bisa menjadi semakin jauh.
Kemakmuran tanpa Keadilan adalah kemakmuran semu, yang pada akhirnya akan menjadi suatu keruntuhan.

Minggu, 10 April 2016

Elizabeth bathory

Elizabeth Bathory, sebuah nama yang sangat melegenda hampir dipenjuru benua Eropa tidak terkecuali didunia. Dan Elizabeth dikenal sebagai  countess Hungaria dari keluarga Báthory. Keluarga ini diingat untuk pertahanan melawan Utsmaniyah. Ia terkenal sebagai pembunuh berantai dalam sejarah Hungaria dan Slowakia dan diingat sebagai Wanita Berdarah Csejte (kini Čachtice)

Namun bukan karena legenda kecantikannya yang membuatnya terkenal tapi dikarenakan dia merupakan seorang pembunuh berantai terbesar dalam sejarah, tercatat kurang lebih 650 nyawa manusia melayang sia-sia ditangannya. Ini adalah pencapaian rekor sebuah kasus pembunuhan berantai yang dilakukan oleh seorang individu dengan memakan korban tertinggi sepanjang sejarah umat manusia.Elizabeth Bathory lahir di Hungaria tahun 1560, kurang lebih 100 tahun setelah Vlad “The Impaler” Dracul meninggal. Kakek buyut Elizabeth Bathory adalah Prince Stephen Bathory yang merupakan salah satu Ksatria yang memimpin pasukan Vlad Darcul ketika dia merebut kembali kekuasaan di Walachia seabad sebelumnya.

Orangtua Elizabeth , Georges dan Anna adalah bangsawan kaya raya dan merupakan salah satu keluarga ningrat paling kaya di Hungaria saat itu. Keluarga besarnya juga terdiri dari orang-orang terpandang. Salah satu sepupunya adalah perdana menteri di Hungaria, seorang lagi adalah Kardinal. Bahkan pamannya, Stepehen kemudian menjadi Raja Polandia.

Namun keluarga Bathory memiliki “sisi” lainnya yg lebih “gelap” selain segala kekayaan dan popularitasnya. Disebutkan bahwa salah satu pamannya yang lain adalah seorang penganut Satanis dan penganut Paganisme sementara seorang sepupunya yg lain memiliki kelainan jiwa dan gemar melakukan kejahatan sexual.



Tahun 1575, di usia 15 tahun Elizabeth menikah dengan Count Ferencz Nadasdy yang 10 tahun lebih tua darinya. Karena suaminya berasal dari ningrat yg lebih rendah, maka Count Ferencz Nadasdy menggunakan nama Bathory dibelakangnya. 


Dengan demikian Elizabeth bisa tetap menggunakan nama keluarganya yaitu Bathory dan tidak menjadi Nadasdy. Kedua pasangan tersebut kemudian tinggal di Kastil Csejthe, yang merupakan sebuah kastil di atas pegunungan dengan desa Csejhte yang ada dilembah dibawahnya. 

Suaminya jarang mendampingi Elizabeth karena Count Ferencz lebih sering berada di medan pertempuran melawan Turki Usmani ( Ottoman ). Ferencz kemudian menjadi terkenal karena keberaniannya di medan pertempuran, bahkan dianggap sebagai pahlawan di Hungaria dengan julukan “Black Hero of Hungary”.

Elizabeth yang masih muda tentu senantiasa merasa kesepian karena selalu ditinggal sang suami. Disebutkan dia memiliki kebiasaan mengagumi kecantikannya dan kemudian memiliki banyak kekasih gelap yang melayaninya selama sang suami tidak berada di tempat. 

Elizabeth bahkan pernah melarikan diri bersama kekasih gelapnya namun kemudian kembali lagi dan suaminya memaafkannya. Tapi hal tersebut tidak mengurangi ketagihan Elizabeth akan kepuasan seksual. Yang cukup menghebohkan lagi Disebutkan juga Elizabeth menjadi seorang biseksual dengan melakukan hubungan lesbian dengan bibinya ,Countess Klara Bathory. 

Elizabeth kemudian mulai terpengaruh dengan satanisme yg diajarkan oleh salah seorang pelayan terdekatnya yang bernama Dorothea Szentes yang biasa disebut Dorka. Karena pengaruh Dorka, Bathory mulai menyenangi kepuasan seksua l lewat penyiksaan yang dilakukannya terhadap pelayan-pelayan lainnya yang masih muda.

Selain Dorka, Elizabeth juga dibantu beberapa pelayan terdekatnya yaitu : suster Iloona Joo, pelayan  pria Johaness Ujvari dan seorang pelayan wanita bernama Anna Darvula, yang merangkap sebagai  kekasih Elizabeth.

Bersama para kekasih dan pelayan-pelayannya tersebut, Elizabeth merubah kastil Csejthe menjadi pusat teror dan penyiksaan seksual. Para gadis-gadis muda yang jadi pelayannya disiksa dengan berbagai bentuk penyiksaan seperti diikat, ditelanjangi lalu dicambuk dan juga menggunakan berbagai alat untuk menyakiti bagian-bagian tubuh tertentu.

Pada tahun 1600, suaminya Count Ferencz Nadasdy meninggal dunia bukan dalam pertempuran tapi karena sakit yang dideritanya dan dimasa itulah “Era Teror” sesungguhnya dimulai. 
Memasuki usia 40 tahunan Elizabeth menyadari bahwa kecantikannya sudah mulai memudar. Kulitnya mulai menunjukan tanda-tanda penuaan dan keriput yang sebenarnya lumrah di usia tersebut. Tapi karena Elizabeth adalah pemuja kesempurnaan dan kecantikan dan dia akan melakukan apa saja demi mempertahankan kecantikannya.

Suatu saat dengan tidak sengaja seorang pelayaan wanita yang sedang menyisir rambutnya secara tidak sengaja menarik rambut Elizabeth terlalu keras. Elizabeth yang marah kemudian menampar gadis malang tersebut. Darah memancar dari hidung gadis tersebut dan mengenai telapak tangan Elizabeth. Saat itu Elizabeth disebutkan “menduga dan percaya” bahwa darah gadis muda tersebut memancarkan cahaya kemudaan mereka. 

Serta merta dia memerintahkan dua orang pelayannya , Johannes Ujvari dan Dorka menelanjangi gadis tersebut, kemudian menarik tangannya keatas bak mandi dan memotong urat nadinya. Ketika si gadis meninggal kehabisan darah, Elizabeth segera mesuk kedalam bak mandi dan berendam dalam kubangan darah. 
Benarkah dia menemukan apa yang diyakininya sebagai “Rahasia Awet Muda”?

Ketika semua pelayan mudanya sudah mati, Elizabeth mulai merekrut gadis muda di desa sekitarnya untuk menjadi pelayan di Kastilnya. Dan nasib mereka semuanya sama , diikat diatas bak mandi kemudian urat nadi mereka dipotong hingga darah mereka menetes habis kedalam bak mandi. 

Elizabeth seringkali berendam didalam kolam darah sambil menyaksikan gadis yg jadi korbannya sekarat meneteskan darah hingga tewas. Sesekali Elizabeth bahkan meminum darah para gadis tersebut untuk mendapatkan “INNER BEAUTY”.


Lama kelamaan Elizabeth merasa bahwa darah para gadis desa tersebut masih kurang baginya. Demi mendapat darah yang lebih “berkualitas”, Elizabeth kemudian mengincar darah para gadis bangsawan rendahan. Dia kemudian melakukan banyak penculikan terhadap gadis-gadis bangsawan untuk dijadikan korbannya.
 
Namun hal tersebut yang justru menjadi bumerang bagi Elizabeth Bathory, karena hilangnya gadis-gadis bangsawan dengan cepat mendapatkan perhatian di kalangan bangsawan, orang-orang berpengaruh hingga Raja sendiri. 

Tanggal 30 Desember 1610, sepasukan tentara dibawah pimpinan György Thurzó, yang  merupakan  sepupu Elizabeth sendiri, menyerbu Kastil Csejthe di malam hari. Mereka semua terkejut dan terhenyak melihat pemandangan yang mereka temukan di dalam kastil tersebut. 

Mayat seorang gadis yang pucat kehabisan darah tergeletak diatas meja makan, dan seorang gadis lagi yang masih hidup namun sekarat ditemuka terikat di tiang dengan kedua urat nadinya disayat hingga meneteskan darah. 
Dibagian penjara ditemukan belasan gadis yang sedang ditahan menunggu giliran untuk dibunuh. Kemudian di ruang basement ditemukan lebih dari 50 mayat yang sebagian besar sudah mulai membusuk.

Selama pengadilan atas Elizabeth Bathory di tahun 1611 sekurangnya 650 daftar nama korban-korbannya didapat berdasarkan laporan dari berbagai pihak. Mulai dari keluarga-keluarga petani hingga keluarga-keluarga bangsawan. 

Elizabeth sendiri tidak pernah didatangkan di pengadilan untuk diadili secara langsung. 
Hanya ke empat pelayannya yang diadili dan kemudian dihukum mati. Namun Elizabeth mendapatkan hukumannya juga. Raja Hungaria memerintahkan Elizabeth dikurung dalam kamarnya di Kastil Csejthe selama sisa hidupnya. 

Para pekerja kemudian dikerahkan untuk menutup semua pintu dan jendela ruang kamar Elizabeth dengan tembok dengan hanya menyisakan lubang kecil yang digunakan untuk memasukan makanan dan minuman sehari-sehari.

Tahun 1614, atau 4 tahun setelah Elizabeth di-isolasi dengan tembok di kamaranya sendiri, seorang penjaga melihat makanan yang disajikan untuk Elizabeth tidak disentuh selama seharian. 

Penjaga itu kemudian mengintip kedalam dan melihat sang Countess tertelungkup dengan wajah di lantai. Elizabeth Bathory ” The Blood Countess ” telah meninggal di usia 54 tahun pada 21 Agustus 1614 .

Sebuah kisah tragis dari seorang bangsawan ningrat yang melakukan pembunuhan berantai tersadis yang pernah ada dimuka bumi ini. Bahkan Vlad Dracul sendiri tidak pernah berkubang dalam darah atau meminum darah orang yang dibunuhnya. Oleh sebab itu julukan “Vampir”sebenarnya lebih cocok ditujukan kepada Elizabeth Bathory.


Selain Dorka, Elizabeth juga dibantu beberapa pelayan terdekatnya yaitu : suster Iloona Joo, pelayan pria Johaness Ujvari dan seorang pelayan wanita bernama Anna Darvula, yang merangkap sebagai kekasih Elizabeth.

Bersama para kekasih dan pelayan-pelayannya tersebut, Elizabeth merubah kastil Csejthe menjadi pusat teror dan penyiksaan seksual. Para gadis-gadis muda yang jadi pelayannya disiksa dengan berbagai bentuk penyiksaan seperti diikat, ditelanjangi lalu dicambuk dan juga menggunakan berbagai alat untuk menyakiti bagian-bagian tubuh tertentu.


Pada tahun 1600, suaminya Count Ferencz Nadasdy meninggal dunia bukan dalam pertempuran tapi karena sakit yang dideritanya dan dimasa itulah “Era Teror” sesungguhnya dimulai. 
Memasuki usia 40 tahunan Elizabeth menyadari bahwa kecantikannya sudah mulai memudar. Kulitnya mulai menunjukan tanda-tanda penuaan dan keriput yang sebenarnya lumrah di usia tersebut. Tapi karena Elizabeth adalah pemuja kesempurnaan dan kecantikan dan dia akan melakukan apa saja demi mempertahankan kecantikannya.

Suatu saat dengan tidak sengaja seorang pelayaan wanita yang sedang menyisir rambutnya secara tidak sengaja menarik rambut Elizabeth terlalu keras. Elizabeth yang marah kemudian menampar gadis malang tersebut. Darah memancar dari hidung gadis tersebut dan mengenai telapak tangan Elizabeth. Saat itu Elizabeth disebutkan “menduga dan percaya” bahwa darah gadis muda tersebut memancarkan cahaya kemudaan mereka. 


Serta merta dia memerintahkan dua orang pelayannya , Johannes Ujvari dan Dorka menelanjangi gadis tersebut, kemudian menarik tangannya keatas bak mandi dan memotong urat nadinya. Ketika si gadis meninggal kehabisan darah, Elizabeth segera mesuk kedalam bak mandi dan berendam dalam kubangan darah. 

Benarkah dia menemukan apa yang diyakininya sebagai “Rahasia Awet Muda”?

Ketika semua pelayan mudanya sudah mati, Elizabeth mulai merekrut gadis muda di desa sekitarnya untuk menjadi pelayan di Kastilnya. Dan nasib mereka semuanya sama , diikat diatas bak mandi kemudian urat nadi mereka dipotong hingga darah mereka menetes habis kedalam bak mandi tersebut. 

Elizabeth seringkali berendam didalam kolam darah sambil menyaksikan gadis yg jadi korbannya sekarat meneteskan darah hingga tewas. Sesekali Elizabeth bahkan meminum darah para gadis tersebut untuk mendapatkan “INNER BEAUTY”.


Lama kelamaan Elizabeth merasa bahwa darah para gadis desa tersebut masih kurang baginya. Demi mendapat darah yang lebih “berkualitas”, Elizabeth kemudian mengincar darah para gadis bangsawan rendahan. Dia kemudian melakukan banyak penculikan terhadap gadis-gadis bangsawan untuk dijadikan korbannya.
 
Namun hal tersebut yang justru menjadi bumerang bagi Elizabeth Bathory, karena hilangnya gadis-gadis bangsawan dengan cepat mendapatkan perhatian di kalangan bangsawan, orang-orang berpengaruh hingga Raja sendiri. 

Tanggal 30 Desember 1610, sepasukan tentara dibawah pimpinan György Thurzó, yang  merupakan  sepupu Elizabeth sendiri, menyerbu Kastil Csejthe di malam hari. Mereka semua terkejut dan terhenyak melihat pemandangan yang mereka temukan di dalam kastil tersebut. 

Mayat seorang gadis yang pucat kehabisan darah tergeletak diatas meja makan, dan seorang gadis lagi yang masih hidup namun sekarat ditemuka terikat di tiang dengan kedua urat nadinya disayat hingga meneteskan darah. 
Dibagian penjara ditemukan belasan gadis yang sedang ditahan menunggu giliran untuk dibunuh. Kemudian di ruang basement ditemukan lebih dari 50 mayat yang sebagian besar sudah mulai membusuk.

Selama pengadilan atas Elizabeth Bathory di tahun 1611 sekurangnya 650 daftar nama korban-korbannya didapat berdasarkan laporan dari berbagai pihak. Mulai dari keluarga-keluarga petani hingga keluarga-keluarga bangsawan. 

Elizabeth sendiri tidak pernah didatangkan di pengadilan untuk diadili secara langsung. 
Hanya ke empat pelayannya yang diadili dan kemudian dihukum mati. Namun Elizabeth mendapatkan hukumannya juga. Raja Hungaria memerintahkan Elizabeth dikurung dalam kamarnya di Kastil Csejthe selama sisa hidupnya. 

Para pekerja kemudian dikerahkan untuk menutup semua pintu dan jendela ruang kamar Elizabeth dengan tembok dengan hanya menyisakan lubang kecil yang digunakan untuk memasukan makanan dan minuman sehari-sehari.

Tahun 1614, atau 4 tahun setelah Elizabeth di-isolasi dengan tembok di kamaranya sendiri, seorang penjaga melihat makanan yang disajikan untuk Elizabeth tidak disentuh selama seharian. 

Penjaga itu kemudian mengintip kedalam dan melihat sang Countess tertelungkup dengan wajah di lantai. Elizabeth Bathory ” The Blood Countess ” telah meninggal di usia 54 tahun pada 21 Agustus 1614 .

Sebuah kisah tragis dari seorang bangsawan ningrat yang melakukan pembunuhan berantai tersadis yang pernah ada dimuka bumi ini. Bahkan Vlad Dracul sendiri tidak pernah berkubang dalam darah atau meminum darah orang yang dibunuhnya. Oleh sebab itu julukan “Vampir”sebenarnya lebih cocok ditujukan kepada Elizabeth Bathory.

Minggu, 03 April 2016

vlad the dracul

Sejarah Sebenarnya "Dracula" Yang Sengaja Dikaburkan
Siapa yang tidak kenal dengan sosok yang bernama "Dracula", sosok menakutkan tapi juga banyak di gandrungi orang.
Sebenarnya Tidak ada yang patut dibanggakan dari tokoh ini. Kenyataannya justru sejarah seperti ingin melupakan dan menghapusnya.
Lebih mengenakkan jika mengingat nama Drakula dalam cerita mitos daripada sejarah. Semua itu tentu ada alasannya.
Nama asli Drakula adalah Vlad Tepes, lahir bulan Desember 1431 di benteng Sighisoara, Transylvania, Rumania atau dikenal dengan Wallachia. Vlad Tepes adalah anak dari Basarab (Vlad II) yang terkenal dengan sebutan Vlad Dracul. Sebutan ini diperoleh karena keanggotaannya dalam orde naga.
"Dracul" dalam bahasa Rumania berarti naga, sedangkan "ulea" artinya anak dari. Jadi, Tepes dipanggil dengan nama Draculea atau Dracula yang berarti anak dari sang naga.
Vlad II adalah seorang panglima militer. Sementara istrinya, Cneajna seorang bangsawan dari kerajaan Moldovia. Ketika berumur 11 tahun, Draculea dan adiknya, Radu dikirim ke Turki sebagai jaminan kesetiaan Vlad kepada kerajaan Turki Utsmani. Vlad II berutang budi kepada Turki Utsmani karena telah membantunya merebut tahta Wallachia dari rivalnya, Janos Hunyadi.
Semenjak kecil Dracula bukan tipe anak manis. Dia kerap mencuri-curi waktu menonton adegan eksekusi mati dan menyiksa binatang sampai mati. Semakin hari bakat psikopatnya semakin terlihat. Dia merasa senang dan puas melihat mayat-mayat tanpa kepala dipancang di alun-alun kota.
Hingga pada suatu ketika di Wallachia terjadi gonjang-ganjing politik. Konflik tersebut berujung pada kematian Vlad II dan Mirchea, kakak Dracula, pada 1448 M.
Akhirnya Sultan Muhammad II (di Eropa disebut Sultan Mehmed II) mengirimkan Dracula untuk merebut Wallachia kembali dari tangan Janos Hunyadi, sang pemimpin kudeta.
Selama berada di Turki, Dracula memang memanfaatkan semua kesempatan yang dia miliki terutama untuk belajar seni berperang. Turki memperlakukan Dracula dengan sangat baik.
Dracula tumbuh menjadi pemuda yang cakap dalam berperang. Akhirnya, dengan bantuan 8000 prajurit Turki Utsmani, Dracula berhasil merebut tahta Wallachia. Namun, dari sinilah kejahatannya dimulai.
Dracula tidak hanya berkhianat pada Turki, melainkan juga pada pasukannya. Sama sekali Dracula bukan sosok pemimpin yang baik. Tidak ada satupun kebaikan yang bersemayam di dadanya.
Dua bulan berselang Janos Hunyadi berhasil merebut tahta Wallachia. Akan tetapi, Dracula kembali berkuasa tahun 1456 hingga 1462. Pada masa pemerintahannya, Wallachia benar-benar menjadi neraka untuk orang-orang yang tidak disukai Dracula terutama umat muslim.
Julukannya adalah Vlad The Impaler atau Vlad Si Penyula. Dijuluki sebagai penyula karena seringnya dia membunuh dan menyiksa orang-orang dengan cara menyula. Cara ini sangat biadab, orang yang masih hidup ditusuk dengan kayu kira-kira sebesar lengan orang dewasa, kayu itu diruncingkan dibagian ujungnya lalu ditusukkan dari (maaf) pantat ke perut, menembus kerongkongan lalu ke kepala. kemudian orang yang malang itu dipancangkan ditengah lapangan dan mati perlahan-lahan sambil merasakan rasa sakit yang luar biasa.
Korban keganasan Dracula ini tidak hanya terjadi pada tawanan perang, tetapi juga pada perempuan, anak-anak, bahkan bayi.
Pada suatu ketika, Dracula pernah mengumpulkan bangsawan dari tuan tanah dalam sebuah jamuan makan. Setelah jamuan tersebut selesai, dia memerintahkan agar semua yang hadir ditangkap. Dia mengincar orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan ayah dan kakaknya.
Orang-orang malang itu disiksa dan disula. Tidak hanya itu, Dracula membakar hidup-hidup 400 pelajar Turki yang tengah belajar di Wallachia.
Mereka ditangkapi, ditelanjangi, dan di arak keliling kota. Setelah itu mereka dikumpulkan dalam sebuah ruangan dan dibakar hidup-hidup.
Aksi biadab lainnya adalah pembakaran para petani dan fakir miskin yang di undang dalam jamuan makan malam. Ternyata semua itu adalah tipu muslihat. Pada jamuan itu mereka dikumpulkan dalam suatu ruangan, dikunci dari luar, dan ruangan itu dibakar.
Orang-orang yang berada didalamnya habis terpanggang.
Keganasan Dracula pada Turki dan Islam semakin menjadi-jadi. Untuk menyambut hari peringatan St.Bartholome, 1459, dia memerintahkan pasukannya untuk menangkapi para pedagang Turki yang ada di Wallachia.
Dalam waktu singkat terkumpul lah 30 ribu pedagang Turki beserta keluarganya.
Apa yang dilakukan Dracula pada mereka?
Tawanan-tawanan itu ditelanjangi lalu digiring menuju lapangan penyulaan. Mereka satu per satu menjemput ajal di tiang sula.
Tidak hanya kejam, Dracula juga licik. Dia memerintahkan meracuni sungai Danube. Ini adalah taktik untuk melumpuhkan pasukan Turki Utsmani yang membangun kubu pertahanan di selatan sungai Danube.
Akhirnya, kerajaan Turki tidak tinggal diam. Pada 1462, Sultan Muhammad II mengirimkan 60 ribu pasukan untuk menangkap Dracula, hidup atau mati.
Mengetahui rencana tersebut, Dracula menyiapkan skenario penyambutan yang paling kejam. Dia memerintahkan prajuritnya untuk memburu seluruh umat Islam yang tersisa diwilayahnya.
Terkumpullah 20 ribu tawanan. Mereka ditelanjangi dan digiring menuju tepi sungai Danube.
Ini adalah cara penyambutan khas yang memperlihatkan siapa Dracula sebenarnya. Sebanyak 20 ribu tawanan disula. Mayat-mayat tersula tersebut dipancangkan di kiri dan kanan jalan yang membentang sejauh 10 kilometer.
Pemandangan yang memuakkan tersebut sempat menciutkan nyali para pasukan muslim Turki Utsmani. Meskipun demikian, pasukan Dracula berhasil dipukul mundur.
Sayangnya, Dracula berhasil melarikan diri ke Hungaria melalui lorong rahasia. Hingga tahun 1475 Wallachia dikuasai Kerajaan Turki Utsmani.
Pada rentang waktu itu, Turki berusaha memperbaiki kondisi Wallachia. Mereka berusaha menghapus trauma para penduduknya atas kekejaman Dracula.
Namun sepertinya nasib baik belum menaungi Wallachia, Dracula kembali datang dengan disokong pasukan-pasukan tentara salib dari Transylvania dan Moldovia. Akhirnya, Dracula tewas dalam pertempuran melawan pasukan Turki pimpinan Sultan Muhammad II di tepi danau Snagov pada 1476.
Kisah kekejaman Dracula terekam dalam buku berjudul
'Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib'
karya Hyphatia Cneajna. korban Hyphatia memperkirakan korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 umat Muslim.
Korban-korbannya dibunuh dengan cara-cara yang sangat kejam, ada yang dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, atau disula.
Sepeniggal Dracula dari abad ke abad kisah kekejamannya entah sengaja atau tidak mulai terkaburkan.
Pada 1897, terbit sebuah novel yang mengisahkan kehidupan Dracula. Novel tersebut berjudul 'Dracula' yang mengisahkan seorang pahlawan Wallachia bertarung melawan serbuan Kerajaan Turki Utsmani atas wilayahnya (pada periode akhir perang salib). Novel lainnya yang hampir serupa ditulis oleh Elizabeth Kostova berjudul 'The Historian'.
Bahkan kemudian muncul film- film yang mengisahkan kepahlawan Dracula seakan-akan sejarah seperti ingin melupakan dan menghapus kekejamannya.
Yang lebih menghebohkan lagi Drakula di anggap sebagai pahlawan, atas "jasa-jasanya" Paus di Roma memberikan penghargaan sebagai Pahlawan Besar dari eropa timur karena telah sukses membantai lebih dari 500 ribu umat muslim.