MAKALAH
KEBUDAYAAN LOKAL
CIREBON
Penyusun :
Nama : Hisyam Sukri
Ariefian
NPM : 17315830
Fakultas : Teknik Sipil dan Perencanaan
Jurusan : Teknik Sipil
Dosen : Emilianshah Banowo
JURUSAN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015
PRAKATA
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah dan inayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis
yang berjudul“ KEBUDAYAAN LOKAL CIREBON”.
Sekiranya bahwa selesainya karya tulis ilmiah ini
tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan
terima kasi kepada:
- BapakEmilianshah Banowo;
Selaku Dosen pengajar Ilmu Sosial Dasar.
Makalah ini ditulis berdasarkan dampak globalisasi
terhadap pandangan hidup generasi muda. Upaya telah dilakukan penulis untuk
mendapatkan hasil terbaik dalam makalah ini. Penulis menyadari bahwa karya
tulis ini tak lepas dari kesalahan dan kekurangan dikarenakan kemampuan penulis
yang terbatas. Oleh karena itu penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat
membangun dari pembaca guna kesempurnaan karya tulis ini. Penulis berharap
semoga karya tulis ini dapat bermanfaat serta menambah pengetahuan bagi
pembaca.
Depok,19 Oktober 2015
Hisyam Sukri Ariefian
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ......................................................................................................i
Daftar
Isi ...............................................................................................................ii
BAB
I PENDAHULUAN ....................................................................................1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ...........................................................................................1
1.3
Tujuan Penulisan .............................................................................................2
1.4
Metode Penulisan ............................................................................................2
1.5
Sistematika Penulisan Masalah .......................................................................2
BAB II PEMBAHASAN .....................................................................................4
2.1 Sejarah Singkat Keraton Kasepuhan ...............................................................4
2.2 Awal Mula Kemunculan Maulid Nabi
dan Penyebarannya di Jawa ...............5
2.3 Prosesi Panjang Jimat ......................................................................................7
2.4 Perubahan Panjang Jimat Dilihat
dari Aspek Sosial dan Ekonomi .................10
BAB III PENUTUP...............................................................................................13
3.1 Kesimpulan .......................................................................................................13
3.2 Daftar pustaka ...................................................................................................14
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Upacara Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon merupakan
salah satu bentuk kebudayaan lokal yang ikut memperkaya kebudayaan Nasional
Indonesia. Upacara Panjang Jimat sudah dilaksanakan sejak Keraton Kasepuhan
didirikan dan terus berlangsung sampai sekarang.
Pelaksanaan Upacara ini memang terus berlangsung sampai sekarang,
namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi
nilai-nilai lama dalam upacara tersebut yang semula menjadi acuan masyarakat
menjadi goyah akibat masuknya nilai-nilai baru dari luar. Upacara tradisional
sebagai nilai-nilai lama masyarakat pendukungnya lambat laun akan terkikis oleh
pengaruh modern dan nilai-nilai baru tersebut. Dengan kata lain mungkin upacara
tradisional mengalami perubahan atau pergeseran akibat pengaruh modern
tersebut.
Untuk mengkaji permasalahan tersebut sangat pening diadakan
penelitian tentang perubahan atau pergeseran upacara tradisional yang terjadi
masa sekarang. Sebelum kita mengkaji lebih dalam penyebab permasalahan
tersebut, maka kita harus melihat seberapa jauh perubahan itu terjadi dengan
menggunakan kajian historis. Setelah itu maka kita bisa mencari akar penyebab
terjadinya perubahan tersebut dan menemukan kesimpulan akhir apakah benar
perubahan tersebut menuju ke arah positif atau ke arah negatif dan kita bisa
menemukan jalan keluar permasalahan tersebut.
1.2.
Rumusan Masalah
Dalam penulisan makalah ini kami membuat beberapa rumusan
masalah yang menjadi pokok pembahasan. Rumusan masalah dapat membatasi
pembahasan agar tidak melebar. Adapun Rumusan masalah yang kami tetapkan
adalah:
1.
Bagaimana awal mula munculnya Maulid Nabi sebagai akar dari panjang Jimat?
2.
Latar belakang apa saja yang menyebabkan perubahan Upacara Panjang Jimat?
3.
Seberapa besar perubahan yang terjadi dalam Upacara Panjang Jimat saat ini
dibandingkan dengan keberadaannya di awal kemunculannya?
4.
Bagaimana dampak Upacara Panjang Jimat terhadap kehidupan masyarakat sekitar
keraton kasepuhan di bidang sosial dan ekonomi?
1.3.
Tujuan penulisan
Adapun
tujuan yang ingin di capai dari penulisan karya ilmiah ini adalah untuk
menjawab rumusan masalah diatas, yakni:
1.
Menjelaskan awal mula munculnya Maulid Nabi sebagai akar dari Panjang Jimat,
proses penyebarannya ke Jawa, serta perkembangannya sehingga menjadi sebuah
Upacara Panjang Jimat;
2.
Mengetahui latar belakang yang menyebabkan perubahan Upacara Panjang Jimat;
3.
Menjelaskan perubahan yang terjadi dalam Upacara Panjang Jimat saat ini
dibandingkan dengan keberadaannya di awal kemunculannya;
4.
Menjelaskan dampak Upacara Panjang Jimat terhadap kehidupan masyarakat sekitar
keraton kasepuhan di bidang sosial dan ekonomi.
1.4.
Metode Penulisan
Penulisan dilakukan dengan mengumpulkan sumber-sumber yang
relevan dengan bahasan sumber tulisan;
Pengkritikan terhadap kebenaran sumber tersebut baik kritik eksternal maupun
kritik internal; Menginterpretasikan sumber-sumber yang didapat, dan menyusunya
dalam sebuah historiografi. Kami berusaha menampilkan sebuah kajian sejarah
lokal yang kritis dengan interpretasi yang mendalam.
1.5.
Sistematika Penulisan Makalah
Untuk menguraikan isi dari makalah ini, kami membuat
sistematika penulisan untuk mempermudah pembaca dalam memahami isi makalah.
Dimulai dengan kata pengantar kemudian dilanjutkan dengan Bab 1 Pendahuluan,
Bab 2 Pembahasan, Bab 3 Kesimpulan dan Saran, dan terahir Daftar pustaka.
Dalam Pendahuluan berisi latar belakang masalah yang menjadi
pendorong dibuatnya makalah ini, rumusan masalah sebagai batasan kajian, tujuan
penulisan makalah yang ingin dicapai dari penulisan, metode penulisan dan
sistematika penulisan.
Dalam bab dua berisi pembahasan tentang Sejarah Singkat
Cirebon dan Keraton Kasepuhan yang meliputi Sejarah Singkat Cirebon, Sejarah
Singkat Keraton Kasepuhan. Awal Mula Kemunculan Maulid Nabi dan Penyebarannya
di Jawa, Prosesi Panjang Jimat yang meliputi Panjang Jimat sebagai Entitas
Lokal Keraton Kasepuhan Cirebon dan Perubahannya, Perubahan Panjang Jimat
dilihat dari aspek sosial, Penyelenggaraan Upacara Panjang Jimat Terhadap
Kehidupan Ekonomi Masyarakat Sekitar. Dalam bab tiga ini berisi kesimpulan dari
isi materi dan saran diakhrir dengan Daftar Pustaka.
BAB 2
UPACARA PANJANG JIMAT SEBAGAI ENTITAS LOKALKERATON KASEPUHAN
CIREBON DAN PERUBAHANNYA.
2.1. Sejarah Singkat Keraton Kasepuhan
Keraton Kasepuhan terletak di Kecamatan Lemahwungkuk Kota
Cirebon dengan luas 16 hektar yang dibatasi oleh tembok Keraton, tidak termasuk
Alun-alun dan Mesjid Agung Sang Cipta Rasa. Untuk sampai ke sana dari Jalan
Lemah Wungkuk kita dapat berjalan lurus ke arah Selatan sampai tiba di
Alun-alun Keraton Kasepuhan. Dari Alun-alun Keraton inilah kita dapat melihat
kompleks Keraton Kasepuhan yang terletak persis di sebelah Selatan Alun-alun.
Dilihat dari sudut historisnya Keraton kasepuhan merupakan
pembagian dari keraton kasunanan kerajaan Cirebon. Kerajaan Cirebon awalnya
merupakan sebuah perkampungan yang bernama Tegal Alang-alang dan kemudian
dibentuk menjadi perkampungan Cirebon oleh Pangeran Walangsungsang pada tahun
1445 M. Pembentukan dilakukan awalnya ketika Pangeran Walangsungsang mencari
ilmu agama Islam di daerah Tegal Alang-Alang ini, kemudian beliau melihat
potensi daerah pesisir ini kaya akan udang dan bisa dijadikan pelabuhan dagang
sehingga secara resmi Pangeran Walangsungsang mendirikan kampung Cirebon (PRA.
Arif Natadiningrat, 2009).
Selain Pangeran Walangsungsang, Sri Baduga Maharaja juga
mempunyai seorang Putri yang bernama Rara Santang yang telah kembali dari
Mekkah dan beragama Islam. Rara Santang membawa serta putranya yang bernama
Syarif Hidayatullah, Syarif Hidayatullah inilah yang mengukuhkan Cirebon
bentukan Pangeran Walangsungsang sebagai daerah kekuatan agama Islam yang
merdeka dari kerajaan Sri Baduga Maharaja di Pakuan Pajajaran dan menjadi raja
Cirebon bergelar Susuhunan Jati 1479 M. Dalam versi sejarah Keraton Cirebon,
Susuhunan Jati wafat pada tahun 1568 M dan dikuburkan di Gunung Jati (Cirebon)
sehingga dikenal pula sebagai Sunan Gunung Jati.
Pusat pengaturan pemerintahan Kerajaan Cirebon terdapat di
Keraton Pakungwati. Keraton Pakungwati sudah dipakai oleh Raja-raja Cirebon
sejak masa-masa awal perkembangan Islam. Nama Pakungwati tetap dipertahankan
hingga masa pemerintahan Panembahan Ratu I, dan Panembahan Ratu II (Panembahan
Girilaya). Setelah itu pada tahun 1679 M masa kepemimpinan Sultan Anam Badridin
I terjadi perebutan kekuasaan intern kerajaan sehingga beliau membagi kerajaan
Cirebon yang pusat pemerintahannya di Keraton Pakungwati ini menjadi tiga pusat
kerajaan di tiga keraton. Keraton tersebut yaitu Keraton Kasunanan, Keraton
Kasepuhan, dan Keraton Kanoman. Keraton Kasepuhan mengambil tempat di kompleks
bekas Keraton Pakungwati, dan sejak itu berkembang terus sampai ke selatan.
2.2
Awal Mula Kemunculan Maulid Nabi dan Penyebarannya di Jawa
Maulid sebagai bagian dari tradisi keagamaan dapat dilihat
dari segi historis maupun dari segi sosial budaya. Dari segi historis
terdapapat dalam catatan Al-Sandubi dalam karyanya ”Tarikh Al-Ikhtilaf Fi
Al-Maulid Al-Nabawi, Al-Mu’izzli-Dinillah. Diungkapkan olehnya bahwa dalam sejarah
Islam penguasa bani Fatimah yang pertama menetap di Mesir adalah orang pertama
yang menyelenggarakan perayaan kelahiran Nabi. Kemudian kurun waktu berikutnya
tradisi yang semula dirayakan hanya oleh golongan Syi’ah ini juga dilaksanakan
oleh golongan Sunni dimana Khalifah Nur Al-Din penguasa Syiria (511-569 H /
1118-474 M) adalah penguasa Suni pertama yang tercatat merayakan maulid Nabi.
Perayaan Maulid secara besar-besaran dilaksanakan pertama kali oleh Raja
Al-Mudhaffar Abu Sa’id Kokburi bin Zain al-Din Ali bin Baktatin penguasa Irbil,
80 KM tenggara Mossul.
Kemudian mengkaji penyebaran Maulid Nabi sampai ke Indonesia
sangat berkaitan dengan jasa Sultan Salahuddin Al Ayyubi Khalifah dari dinasti
Abbasiah penguasa Al Haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah). Salahuddin
memerintah para tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub,
setingkat Gubernur dengan pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo),
Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung
Arabia.
Perintah merayakan Maulid ini disampaikan pertama kali pada
musim Haji 579 H (1183 Masehi). Sebagai penguasa dua tanah suci saat itu atas
persetujuan Khalifah Bani Abbas di Baghdad juga, Sultan menghimbau agar seluruh
jamaah haji seluruh dunia jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera
mensosialisasikan kepada masyarakat Islam dimana saja berada. Maksud Sultan
Salahuddin merayakan tradisi ini selain bentuk cintanya pada Rasul juga sebagai
cara membangkitkan semangat juang umat Islam yang kala itu kehilangan semangat
juang dan persaudaraan ukhuwah ketika terjadi perang salib.
Salahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi
peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut
ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi
Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan
yang menyemarakkan syiar agama, sehingga tidak dapat dikategorikan bid’ah yang
terlarang.
Bagi sebagian orang Islam tradisi merayakan Maulid Nabi
Muhammad SAW merupakan sebagai salah satu bentuk rasa cinta umat kepada Rasul
Nya. Di tanah Jawa sendiri tradisi ini telah ada sejak zaman walisongo, pada
masa itu tradisi Maulid Nabi dijadikan sebagai sarana dakwah penyebaran agama
Islam dengan menghadirkan berbagai macam kegiatan yang menarik masyarakat. Pada
saat ini tradisi Maulid/Mauludan di Jawa disamping sebagai bentuk perwujudan
cinta umat kepada Rasul juga sebagai penghormatan terhadap jasa-jasa Walisongo.
Di Cirebon upacara Maulid Nabi (selanjutnya disebut dengan
Panjang Jimat) dilaksanakan di empat tempat yang menjadi peninggalan dari
Syarief Hidayatullah. Masing-masing di Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman,
Keraton Kacirebonan/Kasunanan dan kompleks makam Syekh Syarief Hidayatullah. Di
Jogjakarta dan Surakarta di masing-masing keraton dengan acaranya Grebeg Mulud.
Pada zaman kesultanan Mataram perayaan Maulid Nabi disebut Grebeg Mulud. Kata
“Grebeg” artinya mengikuti, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar keluar
dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi lengkap dengan
sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya.
Di Keraton kasepuhan sendiri perayaan Panjang Jimat secara
besar-besaran selalu diadakan, terutama sesudah Syarief Hidayatullah atau lebih
dikenal sebagai Sang Susuhunan Jati memegang tampuk pemerintahan Nagri Carbon
(Kerajaan Cirebon) 1479 M. Susuhunan Jati mengadakan berbagai perayaan secara
besar-besaran ini bukan semata karena menghormati Nabi Muhammad SAW sebagai
penyebar agama saja tetapi juga karena menghormati nenek-moyang.
Menurut garis ayah, Syarief Hidayatullah adalah keturunan
ke-22 Nabi Muhammad SAW. Ayahnya adalah Syarief Abdullah yang datang ke Pulau
Jawa dari Mesir melalui Gujarat, menikah dengan Nyimas Rara Santang putri Sri Baduga
Maharaja penguasa Pajajaran. Sebagai keturunan langsung dari penyebar agama
Islam, Syarief Hidayatullah begitu menghormatinya secara khusus pula sebagai
seorang keturunan kepada nenek-moyangnya. Sejak saat itu muludan di Kerajaan
Cirebon selalu meriah hingga kini.
Dapat dipahami juga bahwa tradisi keagamaan maulid merupakan
salah satu sarana penyebaran Islam di Indonesia. Islam tidak mungkin dapat
segera tersebar dan diterima masyarakat luas Indonesia, jika saja proses
penyebarannya tidak melibatkan tradisi keagamaan. Penyebaran agama Islam sejak
abad ke-13 M semakin meluas di Nusantara terutama atas kegiatan kaum sufi yang
mampu menyajikan Islam dalam kemasan yang atraktif, khususnya dengan
menerangkan kontinuitas kebudayaan masyarakat dalam konteks Islam.
Menurut Ahmad Anas jelas terdapat fakta yang kuat bahwa
tradisi maulid merupakan salah satu ciri kaum muslimin tradisional di Indonesia
dan umumnya dilakukan oleh kalangan sufi. Maka dari segi ini dapat diperoleh
kesimpulan sementara bahwa masuknya perayaan maulid bersamaan dengan prosesnya
Islam ke Indonesia yang dibawa oleh pendakwah atau dalam hal ini kaum sufi.
Kondisi lainnya yang berpengaruh dalam penyebaran Maulid Nabi
ini adalah kondisi sosial politik pada abad ke-14 hingga ke-16 M. Di berbagi
belahan dunia Islam sedang marak dan berada pada puncak penyebaran tradisi
maulid yang perintisannya sejak awal abad ke-12. Kegiatan maulid mencapai
puncak popularitasnya di kalangan masyarakat sehingga penguasa-penguasa pun
kemudian mengakomodasinya sebagai kegiatan resmi negara yang salah satu
motifnya adalah kepentingan politik. Acara Maulid Nabi ini menjadi sebuah
penglegitimasian keberadaan sultan di kerajaan. Di Keraton Kasepuhan sendiri
Sultan memegang peranan penting dalam upacara Panjang Jimat sebagai orang yang
diutamakan. Hal tersebut dilakukan untuk memperlihatkan kewibawaan sultan
dimata masyarakat.
2.3
Prosesi Panjang Jimat
Prosesi adat “Panjang Jimat” adalah refleksi dari proses
kelahiran Nabi Muhammad SAW dan merupakan acara puncak dari serangkaian
kegiatan Maulud Nabi Muhamad di Keraton Kasepuhan Cirebon. “Panjang” berarti
sederetan iring-iringan berbagai benda pusaka dalam prosesi itu dan “Jimat”
berarti “siji kang dirumat” atau satu yang dihormati yaitu kalimat sahadat “La
Illa ha Illahah” sehingga arti gabungan dua kata itu adalah sederetan persiapan
menyongsong kelahiran nabi yang teguh mengumandangkan kalimat sahadat kepada
umat di dunia. Pada umumnya masing-masing upacara terdiri atas kombinasi
berbagai macam unsur upacara seperti berkorban, berdo’a, bersaji makan bersama,
berprosesi, semadi, dan sebagainya. Urutannya telah tertentu sebagai hasil
ciptaan para pendahulunya yang telah menjadi tradisi.
Pengaruh Khalifah Sholahuddin Al Ayubi seperti telah
dijelaskan kemudian menyebar ke seluruh dunia termasuk ke Kerajaan Cirebon dan
Sultan Cirebon Syarif Hidayatullah kemudian mengadopsikan acara maulud nabi itu
dengan budaya Jawa sehingga menjadi prosesi Panjang Jimat. Secara serentak,
upacara pelal Panjang Jimat di Cirebon diselenggarakan di empat tempat yang
menjadi peninggalan dari Syarief Hidayatullah. Masing-masing di Keraton
Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan/Kasunanan dan kompleks makam
Syekh Syarief Hidayatullah pendiri Kasultanan Cirebon atau lebih dikenal dengan
Sunan Gunung Djati.
RiTual-ritual
Panjang Jimat hampir sama dengan upacara yang lainnya, yang semuanya
mengukuhkan homogenitas model Jawa yang orisil Maka pada saat itu tampaklah
raja melakukan miyos dalem (penampilan raja kehadapan rakyatnya). Kemampuan
raja mencapai kesatuan dimanfaatkan untuk mendengarkan keabsahan keraton. Pada
kegiatan itu raja menyampaikan berkahnya untuk kesejahteraan rakyatnya.
Di Keraton Kasepuhan Panjang Jimat diturunkan oleh petugas
dan ahli agama di lingkungan kerabat kesultanan Keraton kasepuhan, yang terdiri
atas:
1) Diadakan Susrana
Tahap ini diadakan di gedung/bangsal
dalem. Disinilah disajikan Nasi Rosul sebanyak 7 golongan, untuk tiap-tiap
golongan ditumpangkan/ditempatkan di atas tasbih/piring besar. Petugas-petugasnya
adalah : Nyi Penghulu, Nyi Krum yang disaksikan oleh para Ratu Dalem. Di
belakang Bangsal Dalem yang disajikan air mawar, kembang goyah, “serbad boreh”
(panem) dan hidangan tumpeng 4 “pangsong”/”ancek”/”angsur”. Yang berisi kue-kue
dan tempat dong-dang yang berisis makanan, petugasnya adalah Nyi Kotif Agung,
Nyi Kaum dengan disaksikan oleh para Ratu/family kasultanan.
2) Di Gedung Bangsal Prabayaksa yaitu
sebelah utara bangsal dalem dan di bangsal Pringgadani (sebelah utara bangsal
Prabayaksa), diperuntukan bagi para undangan di tengah ruangan dilowongkan
untuk deretan upacara, terus dari Jinem ke Sri Manganti.
Di Keraton Kasepuhan, upacara puncak Pelal
Panjang Jimat dimulai tepat pukul 19.50 WIB dipimpin langsung oleh Sultan Sepuh
XIII Maulana Pakuningrat, sementara prosesi iring-iringan jimat keraton dibawa
dari Bangsal Prabayaksa Keraton menuju Langgar Agung dipimpin Putra Mahkota
Kesultanan Kasepuhan Pangeran Raja Adipati PRA. Arief Natadiningrat.
Selanjutnya Sultan menyerahkan payung pusaka
kepada Putra Mahkota PRA Arief Natadiningrat sebagai wakil dirinya dalam
iring-iringan Panjang Jimat.
Urut-urutan panjang jimat di Kesultanan
Kasepuhan yaitu pertama barisan lilin yang melambangkan kelahiran nabi pada
malam hari, barisan kedua berupa Manggaran, Nagan, dan Jantungan yang
lambangkan kebesaran dan keagungan.
Barisan ketiga, berupa air mawar, pasatan,
dan kembang goyang sebagai perlambang air ketuban dan usus atau ari-ari bayi,
barisan keempat berupa air serbat dalam empat baki dan dua guci sebagai
perlambang kelahiran. Barisan kelima berupa tumpeng jeneng, 10 nasi uduk, 10
nasi putih sebagai perlambang seorang bayi harus diberi nama yang baik agar
menjadi orang yang berguna, dan barisan keenam adalah tujuh nasi jimat.
Nasi Jimat itu diarak dengan pengawalan
200 barisan abdi dalem yang masing-masing membawa simbil-simbol sebagai
perlambang. Barisan pertama ialah pembawa lilin, bertujuan sebagai penerang,
diikuti iring-iringan pembawa perangkat upacara seperti “manggaran”, “nadan”
dan “jantungan” (perlambang kebesaran dan keagungan).
Setelah sepasukan pengawal (iring-iringan)
lengkap berkumpul di Bangsal Purbayaksa, putra mahkota PRA. Arief atas izin
Sultan Kasepuhan, memimpin arak-arakan menuju Langgar Agung, sekira 100 meter,
masih di lingkungan keraton. Arak-arakan yang keluar dari Bangsal Purbayaksa
disambut di luar keraton oleh pengawal pembawa obor (perlambang Abu Tholib,
paman nabi menyambut kelahiran bayi Muhammad pada malam hari yang kemudian
menjadi manusia agung) sebelum akhirnya dibawa ke mushala. Di mushala itu Nasi
Jimat Tujuh Rupa itu dibuka bersama dengan sajian makanan lain termasuk makanan
yang disimpan di 38 buah piring pusaka peninggalan Sunan Gunung Djati berusia
600 tahun.
Di mushala (Langgar Agung), dilakukan shalawatan
serta pembacaan (mengaji) kitab Barjanzi sampai pukul 24.00 WIB. Setelah
shalawatan dan pembacaan kitab yang dipimpin imam Masjid Agung “Sang Cipta
Rasa” Keraton Kasepuhan, makanan lalu disantap bersama. PRA Arief yang
mengenakan pakaian khas tradisi Cirebonan berupa kemeja hitam dan blangkon,
pulang kembali ke keraton dengan pengawalan ketat, sebab ribuan warga yang rela
menunggu berlama-lama, pada berebut untuk memegang atau sekadar menyentuh calon
Sultan Kasepuhan Cirebon itu karena diyakini bisa membawa berkah “Ngalap
berkah”.
Sebelum arak-arakan membawa Nasi Jimat
Tujuh Rupa dimulai, Sultan Kasepuhan, Maulana Pakuningrat memberi wejangan
kepada para abdi dalem dan tamu undangan. Sultan menyampaikan makna dari
perayaan Panjang Jimat yang sudah berusia ratusan tahun. Sebagaimana sebutan
“pelal”, Panjang Jimat merupakan puncak dari serangkaian ritual yang ditujukan
untuk mengenang dan merayakan kelahiran (maulud) Nabi Muhammad saw. Acara ini
merupakan penutup rangkaian acara tradisi yang setiap tahun selalu berjalan
meriah dan menjadi magnet tersendiri bagi ratusan ribu warga untuk datang ke
Kota Cirebon.
Pelal Panjang Jimat, atau rangkaian
panjang acara adat mengenang dan merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, bahkan
telah menjadi agenda tersendiri. Tidak hanya bagi abdi dalem keraton atau warga
Kota Cirebon, tetapi juga warga dari daerah lain seperti Indramayu, Majalengka,
Kuningan, termasuk juga Sumedang, Tasikmalaya, Ciamis, Bandung, bahkan wilayah
Jateng seperti Tegal, Brebes, Batang, Pekalongan, Semarang sampai Jakarta dan
Banten. Banyak masyarakat yang percaya menyaksikan Muludan yang digelar tiga
keraton di Cirebon memberikan semangat spiritual dalam menempuh kehidupan,
bahkan tidak jarang beberapa orang berusaha menggapai benda pusaka dengan tujuan
mendapatkan berkah pada malam Panjang Jimat itu.
2.4. Perubahan Panjang
Jimat Dilihat dari Aspek Sosial dan Ekonomi.
2.4.1 Perubahan Panjang Jimat dilihat dari aspek sosial
Berdasarkan
penelitian yang telah kami lakukan, terdapat fakta-fakta baru tentang Panjang
Jimat. Kami bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa pelaksanaan upacara Panjang
Jimat sekarang mengalami perubahan atau pergeseran. Secara umum perubahan
pelaksanaan Panjang Jimat tersebut bukan terletak pada struktur upacaranya tapi
dalam bentuk permukaannya. Perubahan penyelenggaraan dalam bentuk permukaannya
banyak berubah dilakukan untuk mendukung program pemerintah yakni pariwisata
dan pembangunan (Seputar Indonesia, 10 Maret 2009). Sedangkan mengenai tujuan,
kesakralan, struktur secara intern masih tetap terjaga. Prosesi upaca masih
lengkap meskipun sedikit ada penyederhanaan.
Seperti yang telah
diketahui bahwa upacara Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan sudah ada sejak
jaman dahulu dan sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat Cirebon. Hal
ini khususnya dikarenakan masyarakat masih memegang teguh adat istiadat ataupun
kebiasaan akan tradisi yang diwariskan turun temurun. Secara prinsip, upacara
Panjang Jimat tetap dilakukan dari tahun ke tahun, namun dalam pelaksanaannya
lebih ditingkatkan yakni dilaksanakan dengan lebih besar, meriah, diisi dengan
program pembangunan dan dikaitkan dengan pariwisata. Terdapat suatu indikasi
bahwa hal ini disebabkan karena sudah memasuki jaman globalisasi yang serba
modern.
Akibat dari
globalisasi tersebut menyebabkan upacara Panjang Jimat yang merupakan salah
satu adat atau kultur Keraton kasepuhan juga mengalami perubahan. Hal ini
sebenarnya tidak menjadi masalah karena meskipun mengalami perubahan tapi tetap
mempunyai struktur, tujuan, esensi yang sama dengan pelaksanaan grebeg maulud
dahulu. Nilai kesakralan dan getaran emosi masyarakat masih tetap ada.
Pemahaman upacara
tradisional yang penting, khususnya Panjang Jimat ini bukan pada level
empirisnya (luarnya) tapi pada level non empirisnya yakni struktur pada upacara
tersebut. Selama strukturnya sama, maka prinsip dari upacara Panjang Jimat
tetap sama, inilah yang paling esensial dalam pelaksanaan upacara Panjang Jimat
agar tetap terjaga keaslian, kesakralan, struktur, nilai, dan tujuannya.
Selanjutnya jika
dilihat perubahan dalam pelaksanaan upacara Panjang Jimat saat ini terletak
pada bentuk luarnya (empiris) yaitu untuk mendukung program pariwisata dan
pembangunan seperti diketahui bahwa sebelum upacara dimulai dengan pesta rakyat
menyongsong perayaan Panjang jimat, yakni berupa keramaian untuk hiburan
masyarakat. Apabila jaman dahulu dalam Panjang Jimat ini tidak ada keramaian
berupa pasar malam dan para pedagang, maka sekarang mereka ada dan sangat ramai
sekali. Pekan raya atau pasar malam yang dipergunakan untuk kepentingan
pariwisata dan pembangunan, antara lain:
1. Sebagai arena rekreasi bagi masyarakat
misalnya; sirkus, arena permainan anak-anak, panggung kesenian (musik) dan
lain-lain
2. Sebagai forum informasi dan komunikasi
tentang kebijaksanaan yang dapat diperoleh dari eksposisi atau pameran dari
instansi pemerintah
3. Sebagai sarana melestarikan kesenian
kebudayaan daerah. Untuk itu disediakan panggung kesenian daerah, pentas
kesenian daerah dan lainnya.
Pasar malam
tersebut dipakai sebagai ajang berjualan bagi para pedagaang seperti penjual
makanan, minuman, mainan ank-anak, pakaian, sepatu, bunga dan lainya. Akibat
adanya pasar malam dalam perayaan sekaten membuat susana menjadi meriah dan
ramai. Disamping itu dalam kegiatan pasar malam tersebut juga diadakan kegiatan
keagamaan khususnya agama islam. Kegiatan keagamaan itu antara lain santapan
rohani melalui menara siaran, pengajian umum, pameran keagamaan. Pentas seni
keagamaan, tabligh di masjid besar dan lainnya.
Hal utama yang
paling terlihat adalah maksud dan tujuan masyarakat khususnya generasi muda
yang akan datang ke acara Panjang Jimat ini. Pada masa Syarif Hidayatullah
ketika Panjang Jimat ini diadakan masyarakat memang benar-benar khusyuk mengikuti
ritual Panjang Jimat ini dan mendengarkan ilmu agama dari tabligh yang diadakan
oleh ulama. Sekarang keadaannya bergeser, mereka malah lebih bertujuan untuk
mengunjungi pasar malam khususnya anak-anak remaj. Memang masih banyak golongan
tua yang benar-benar berniat untuk mengikuti Panjang Jimat ini secara
keseluruhan, namun kebanyakan dari generasi mudanya hanya ingin datang ke pasar
malamnya saja.
Dari 35 orang yang
kami wawancara, 25 Orang tua berumur diatas 30 tahun, dan 10 anak muda dibawah
25 tahun kami mendapatkan sebuah kesimpulan. Orang tua yang berada diatas 30
tahun memang benar-benar berniat untuk mengikuti Panjang Jimat dan para anak
mudanya hanya berniat untuk melihat-lihat saja pasar malam dan pekan raya
tersebut. Dari fakta tersebut didapatkan kesimpulan bahwa saat ini upacara
Panjang Jimat dalam bentuk luarnya telah mengalami pergeseran khususnya dari
kalangan anak muda yang kurang memperhatikan kesakralan dari makna Panjang
Jimat itu sendiri.
Demikian adalah
beberapa perubahan yang terjadi pada pelaksanaan upacara Panjang Jimat saat
ini. Tampak dalam perubahannya bukan yang menyangkut strukur tapi yang
mendukung pariwisata dan pembangunan secara prinsipil kesakralan, tujuan, nilai
serta struktur dalam upacara grebeg tidak mengalami perubahan. Meskipun dalam
prosesi upacara ada sedikit perbedaan hal tersebut disebabkan karena perubahan
jaman, dianggap lebih praktis, ekonomis, sehingga dalam pelaksanaan upacara ada
sedikit perkembangan bila dibandingkan dengan dahulu.
2.4.2 Penyelenggaraan Upacara Panjang Jimat Terhadap Kehidupan Ekonomi
Masyarakat Sekitar
Sebagaimana yang
kita tahu bahwa upacara Panjang Jimat yang merupakan rentetan dari acara
maulidan di Keraton Kasepuhan awalnya hanyalah sebuah upacara peringatan
kelahiran nabi Muhammad Saw saja yang di dalamnya terdapat ritual-ritual khusus
sebagai simbol untuk meneladani kerasulannya.
Diselenggarakannya
Upacara Panjang Jimat (Muludan) ini ternyata memberikan dampak bagi kehidupan
masyarakat sekitar keraton. Penyelenggaraan acara ini seakan-akan dimanfaatkan
oleh para pedagang setempat untuk mengais rejeki. Apalagi dua minggu sebelum
acara, pihak keraton mengizinkan ribuan pedagang kaki lima (PKL) untuk
berjualan selama rentetan kegiatan menyambut Maulud Nabi Muhammad Saw. Sehingga
tidak mengherankan bila halaman depan atau jalan menuju Keraton Kasepuhan ini
disesaki oleh berbagai pedagang, mulai dari pedagang makanan, pakaian, barang
antik, mainan anak, peralatan rumah tangga, dan sebagainya.
Keadaan tersebut
lebih populer dengan istilah pasar kaget. Pedagangnya pun tidak hanya berasal
dari Cirebon saja bahkan adapula yang berasal dari daerah lain seperti
Kuningan, Majalengka, Indramayu atau daerah lainnya yang sengaja mencoba
mencari peruntungan dalam acara Mauludan di Keraton Kasepuhan ini.
Pedagang-pedagang tersebut terdiri dari pedagang yang memang setiap tahunnya
berjualan dalam acara Mauludan di Keraton Kasepuhan dan ada pula diantara
pedagang tersebut yang baru sekali mencoba berjualan dalam acara tersebut.
Dari kondisi
tersebut kami mengkaji penghasilan para pedagang. Beberapa narasumber yang kami
wawancarai mengaku bahwa ketika mereka berjualan dalam acara Mauludan tersebut
penghasilan mereka meningkat dari hari-hari biasanya. Misalkan saja Haryanto
yang seorang penjual kaligrafi, mengaku omzetnya meningkat dari yang tiap
harinya mampu menjual sekitar 15-25 buah lukisan, pada acara Muludan tersebut
dia bisa menjual 30-50 buah lukisan.
Selain pedagang,
pihak lain yang mendapatkan keuntungan dari adanya pasar kaget tersebut tentu
saja adalah pihak Keraton sendiri. Tentu saja karena dengan adanya pasar kaget
ini, pedagang yang berjualan di sekitar keraton harus memebayar sejumlah
retribusi kepada pihak Keraton. Menurut keraton sendiri retribusi semacam ini
akan digunakan untuk kepentingan amal.
Dampak yang sama
juga dirasakan oleh sopir-sopir angkot yang melintasi wilayah keraton Kasepuha.
Umumnya selama acara ini berlangsung sopir angkot pun mendapat keuntungan dari
banyaknya masyarakat yang menggunakan jasa angkot untuk berkunjung ke Keraton
Kasepuhan dengan tujuan untuk ziarah atau sekedar belanja saja.
Dari data tersebut bisa dianalisis bahwa
penyelenggaraan acara Muludan di Keraton Kasepuhan memberikan dampak bagi perekonomian
masyarakat sekitar.
BAB 3
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Upacara Maulid
Nabi adalah suatu bentuk kebudayaan tradisional. Maulid Nabi merupakan suatu
salah satu bentuk rasa cinta umat kepada Rasul Nya. Awal mula dari Maulid Nabi
ini, pertama kali oleh penguasa bani Fatimah yang pertama menetap di Mesir
kemudian sampai ke Indonesia atas jasa Sultan Salahuddin Al Ayyubi Khalifah
dari dinasti Abbasiah, di Jawa tradisi Maulid Nabi telah ada sejak zaman
walisongo sedangkan di Cirebon sendiri Maulid Nabi setelah Sultan Syarief
Hidayatullah berkuasa.
Proses dari Maulid
Nabi ini sama seperti upacara lainnya. Dalam proses Maulid Nabi ini terdapat
beberapa lilin yang dipasang di atas standar, manggara, nagam, jantungan
Tumpeng yang mendukung upacara Maulid Nabi.
Dengan
berkembangnya jaman yang semakin modern dan mengarah ke globalisasi, maka
Maulid Nabi juga mengalami perubahan. Di aspek sosial Maulid Nabi sekarang
lebih mendukung kepada pariwisata dan pembangunan namun secara prinsipil
kesakralan, tujuan, nilai serta struktur dalam upacara grebeg tidak mengalami
perubahan. Meskipun dalam prosesi upacara ada sedikit perbedaan hal tersebut
disebabkan karena perubahan jaman, dianggap lebih praktis, ekonomis, sehingga
dalam pelaksanaan upacara ada sedikit perkembangan bila dibandingkan dengan
dahulu. Di aspek ekonomi Maulud Nabi yang dahulu merupakan sebuah upacara
peringatan kelahiran nabi Muhammad Saw saja yang di dalamnya terdapat
ritual-ritual khusus sebagai simbol untuk meneladani kerasulannya kini
dijadikan oleh masyarakat sebagai tempat mencari rezeki.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber :
http://sahabatsilat.com/forum/index.php?topic=551.0;wap2
http://www.keajaibandunia.net/info/peninggalan-sosial-budaya-cirebon.html
http://sosbud.kompasiana.com/2012/07/05/haji-krupuk-sebuah-kearifan-budaya-cirebon-475638.html
http://nasional.kompas.com/read/2010/06/10/10263210/


Tidak ada komentar:
Posting Komentar