Gunadarma

Uug

Minggu, 27 Desember 2015

MUSIK DAN POLITIK

MUSIK & POLITIK

Musik yang dipergunakan sebagai bentuk protes mempunyai sejarah yang cukup panjang semenjak Perang revolusioner Amerika abad ke-18 untuk kemerdekaan dari koloni Inggris Musik pun digunakan dalam menyuarakan protes terhadap hak-hak warga sipil dalam kesenjanan ekonomi, peperangan, maupun politik. Seiringnya berkembangnya industri musik, munculah para seniman musik yang menyuarakan aspirasinya melalui seni musik, seperti Joe Hill yang menyanyikan protes perjuangan buruh dan pandangannya terhadap perang dunia pertama, dan juga Bob Dylan yang menyanyikan protes mengenai perang Vietnam.

Musik sendiri menjadi media untuk 2 tujuan partisipasi, yaitu sebagai protes yang melatar belakangi musik itu sendiri dan digunakan sebagai dukungan terhadap suatu ide. Musik yang bersifat mendukung ini, khususnya pro-Negara dan pemerintah, sering dipakaian term ‘Patriotic Song’padanya. Hal ini menggambarkan bahwa dukungan terhadap pemerintah, walaupun dalam perjalannya mendapatkan banyak kritik, adalah sebuah langkah kecintaan terhadap tanah airnya. Dilihat dari sejarahnya, musik patriotik ini berjalan beriringan dengan musik protes karena sama-sama hadir di abad ke 18. ‘The Liberty Song’ yang ditulis oleh John Dickinson tahun 1768 adalah salah satu lagi patriotik pertama yang hadir di Amerika. Dalam musik tersebut dituliskan kesadaran American agar dapat bersatu. Dalam musik tersebut terdapat lirik  ‘by uniting we stand, by dividing we fall’menggambarkan perasaan sama darah dan sama rasa untuk memperjuangkan Amerika. Musik yang bertema dukungan terhadap pemerintah dan dinobatkan sebagai lagu patriotik salah satunya adalah lagu God Bless The USA dari Lee Greenwood. Lagu ini hadir pada tahun 1984 sebagai kritikan terhadap musik-musik yang banyak bermunculan dengan tema Anti-Reagan pada saat itu. Pada perkembangannya, lagu ini mulai menghangat kembali pada tahun 1990-an saat terjadi Perang Teluk untuk membangkitkan semangat dan moral.

Menggunakan media musik sebagai sarana menpresentasikan politik adalah langkah yang sangat tepat, dikarenakan musik yang menghasilkan sebuah karya akan cenderung dikenang sehingga berjalan seiring berkembangnya jaman.

Merentangkan musik dan politik dalam suatu koneksi bukanlah suatu hal yang baru. Musik dan politik mempunyai kaitan yang sangat erat dalam hal bagaimana satu sama lain saling mempengaruhi. Musik diciptakan rangka partisipasi politik tidak akan terlepas dari konteks sosial politik serta ekonominya. Sebuah musik juga merupakan suatu fenomena apabila bisa tidak akan terlepas dari konteks sosialnya, dan untuk musik-musik yang digunakan sebagai dukungan dan protes dalam memberi dampak terhadap politik.
Musik didefinisikan sebagai susunan nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi suara yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan. Selain itu, musik juga dapat diartikan sebagai nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan, terutama yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi tersebut. Musik yang akan dibahas di sini lebih kepada lirik yang terdapat dalam lagunya. Ini tidak begitu menjelaskan mengenai aliran musik dan hubungannya terhadap politik, tetapi lebih kepada memaknai lirik lagu dan disesuaikan dengan konteks politiknya.
Sebagaimana telah disebutkan bahwa musik dan politik adalah satu keterikatan yang satu mempengaruhi yang lain. Musisi dan penyair menyusun lirik lagunya dengan berusaha menampilkan beberapa isu-isu sosial untuk dapat menunjukkan pernyataan politik mereka
                Amerika Serikat menjadi sebuah negara kiblat demokrasi di dunia. negara-negara demokrasi di dunia banyak membandingkan sistem demokrasi yang mereka jalankan dengan yang terjadi di Amerika Serikat. Memang apabila dilihat dari jumlah warga negara yang memilih dalam Pemilihan umum, hanya sedikit warga Amerika Serikat yang ikut memilih. Namun apabila melakukan partisipasi politik dalam bentuk lain, masyarakat Amerika begitu aktif. Apabila mereka tidak suka terhadap suatu kebijakan, maka akan mereka suarakan, begitu juga sebaliknya.
Di Indonesia sendiri, presiden ke-6 Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono adalah seorang musisi dan pada masa mudanya ia pernah menjadi anggota grup musik Gaya Teruna. Pada tahun 2000-an, ia kembali merambah dunia musik dengan menulis tiga album pop. Ia merilis lagu pertamanya yang berjudul Rinduku Padamu yang terdapat pada album yang berisi kumpulan lagu cinta dan religius, album yang berisi 10 lagu pada tahun 2007ini melibatkan penyanyi papan atas Indonesia. Pada tahun 2009 ia merilis album “Revolusi” bersama Yockie Suryoprayogo, serta merilis album ketiganya “Ku Yakin Sampai Disana” pada tahun 2010.Disini bisa kita lihat kebebasan bermusik di semua kalangan, bahkan dalam bidang politik maupun di sistem pemerintahan.





1 komentar:

  1. A Little At A Time by Lee Greenwood
    https://www.youtube.com/watch?v=odIHDqQNrbA

    BalasHapus