Gunadarma

Uug

Sabtu, 12 Maret 2016

Sastra Cerbon-Dermayu

         Ciri yang amat mencolok pada gurit politik adalah menggunakan bahasa Cerbon-Dermayu yang lugas. Dia tidak memilih bebasan atau krama (halus), tetapi cenderung menggunakan bahasa bagongan atau ngoko (kasar).
         Pemilihan diksi ini tidak berarti lambang ketidakberadaban, tetapi lebih sebagai simbol kultur pesisir yang identik dengan keterbukaan, seperti puisi yang ditulis Alwy: ...ngalor ngidul ngoce demokrasi jare sih kanggo rayat, duwe rayat kang kuwasa nyumbadaniterus, terus, terus aja wirang-wirang dadi kirik lan cemera njegug, medeni, pelad-peled, toli slendep: nguntal negara.
        Uniknya, sebagai sastra kontemporer, meski gurit politik telah melepaskan dari aturan gatra atau wanda, sebagian besar penyairnya masih mematuhi guru lagu. Salah satu penyair menulis puisi di antologi seperti ini: Aja milih kuning lamun atine ora bening Aja milih ijo baka doyan mbebodo Aja milih abang lamun kegembang ning lambe abang Aja milih gadung bokat wedi kesandung Aja milih biru baka kaya kodok kegawa ning garu Aja milih ireng ari gawe urip kang bureng.
       Sebagai muara antarbudaya Cirebon-Indramayu memang unik. Meski secara wilayah administrasi ia masuk Jawa Barat, ia bukan Sunda. Namun, wong Cerbon-Dermayu juga menolak disebut sebagai wong Jawa (Jawa Tengah).
Wong Cerbon tetap disebut sebagai wong Cerbon dengan segala jati dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar