MUSIK & POLITIK
Musik
yang dipergunakan sebagai bentuk protes mempunyai sejarah yang cukup panjang
semenjak Perang revolusioner Amerika abad ke-18 untuk kemerdekaan dari koloni
Inggris Musik pun digunakan dalam menyuarakan protes terhadap hak-hak warga sipil
dalam kesenjanan ekonomi, peperangan, maupun politik. Seiringnya
berkembangnya industri musik, munculah para seniman musik yang menyuarakan
aspirasinya melalui seni musik, seperti Joe Hill yang menyanyikan protes
perjuangan buruh dan pandangannya terhadap perang dunia pertama, dan juga Bob
Dylan yang menyanyikan protes mengenai perang Vietnam.
Musik
sendiri menjadi media untuk 2 tujuan partisipasi, yaitu sebagai protes yang
melatar belakangi musik itu sendiri dan digunakan sebagai dukungan terhadap suatu
ide. Musik yang bersifat mendukung ini, khususnya pro-Negara dan pemerintah,
sering dipakaian term ‘Patriotic Song’padanya. Hal ini menggambarkan bahwa
dukungan terhadap pemerintah, walaupun dalam perjalannya mendapatkan banyak
kritik, adalah sebuah langkah kecintaan terhadap tanah airnya. Dilihat dari
sejarahnya, musik patriotik ini berjalan beriringan dengan musik protes karena
sama-sama hadir di abad ke 18. ‘The Liberty Song’ yang ditulis oleh John
Dickinson tahun 1768 adalah salah satu lagi patriotik pertama yang hadir di
Amerika. Dalam musik tersebut dituliskan kesadaran American agar dapat bersatu.
Dalam musik tersebut terdapat lirik ‘by
uniting we stand, by dividing we fall’menggambarkan perasaan sama darah dan
sama rasa untuk memperjuangkan Amerika. Musik yang bertema dukungan terhadap
pemerintah dan dinobatkan sebagai lagu patriotik salah satunya adalah lagu God
Bless The USA dari Lee Greenwood. Lagu ini hadir pada tahun 1984 sebagai
kritikan terhadap musik-musik yang banyak bermunculan dengan tema Anti-Reagan
pada saat itu. Pada perkembangannya, lagu ini mulai menghangat kembali pada
tahun 1990-an saat terjadi Perang Teluk untuk membangkitkan semangat dan moral.
Menggunakan
media musik sebagai sarana menpresentasikan politik adalah langkah yang sangat
tepat, dikarenakan musik yang menghasilkan sebuah karya akan cenderung dikenang
sehingga berjalan seiring berkembangnya jaman.
Merentangkan musik dan politik dalam suatu
koneksi bukanlah suatu hal yang baru. Musik dan politik mempunyai kaitan yang
sangat erat dalam hal bagaimana satu sama lain saling mempengaruhi. Musik
diciptakan rangka partisipasi politik tidak akan terlepas dari konteks sosial
politik serta ekonominya. Sebuah musik juga merupakan suatu fenomena apabila
bisa tidak akan terlepas dari konteks sosialnya, dan untuk musik-musik yang
digunakan sebagai dukungan dan protes dalam memberi dampak terhadap politik.
Musik didefinisikan sebagai susunan nada atau
suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan
komposisi suara yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan. Selain itu, musik
juga dapat diartikan sebagai nada atau suara yang disusun sedemikian rupa
sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan, terutama yang menggunakan
alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi tersebut. Musik yang akan dibahas
di sini lebih kepada lirik yang terdapat dalam lagunya. Ini tidak begitu
menjelaskan mengenai aliran musik dan hubungannya terhadap politik, tetapi
lebih kepada memaknai lirik lagu dan disesuaikan dengan konteks politiknya.
Sebagaimana telah disebutkan bahwa musik dan
politik adalah satu keterikatan yang satu mempengaruhi yang lain. Musisi dan
penyair menyusun lirik lagunya dengan berusaha menampilkan beberapa isu-isu
sosial untuk dapat menunjukkan pernyataan politik mereka
Amerika Serikat menjadi sebuah negara kiblat demokrasi di
dunia. negara-negara demokrasi di dunia banyak membandingkan sistem demokrasi
yang mereka jalankan dengan yang terjadi di Amerika Serikat. Memang apabila
dilihat dari jumlah warga negara yang memilih dalam Pemilihan umum, hanya
sedikit warga Amerika Serikat yang ikut memilih. Namun apabila melakukan
partisipasi politik dalam bentuk lain, masyarakat Amerika begitu aktif. Apabila
mereka tidak suka terhadap suatu kebijakan, maka akan mereka suarakan, begitu
juga sebaliknya.
Di
Indonesia sendiri, presiden ke-6 Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono adalah seorang musisi
dan pada masa mudanya ia pernah menjadi anggota grup
musik Gaya Teruna. Pada
tahun 2000-an, ia kembali merambah dunia musik dengan menulis tiga album pop.
Ia merilis lagu pertamanya yang berjudul Rinduku
Padamu yang terdapat pada album yang berisi kumpulan lagu cinta dan
religius, album yang berisi 10 lagu pada tahun 2007ini melibatkan penyanyi
papan atas Indonesia. Pada tahun 2009 ia merilis album “Revolusi” bersama
Yockie Suryoprayogo, serta merilis album ketiganya “Ku Yakin Sampai Disana”
pada tahun 2010.Disini bisa kita lihat kebebasan bermusik di semua kalangan,
bahkan dalam bidang politik maupun di sistem pemerintahan.

A Little At A Time by Lee Greenwood
BalasHapushttps://www.youtube.com/watch?v=odIHDqQNrbA